Spanyol Luncurkan Perang Melawan Sampah Lewat UU Daur Ulang Baru

ADVERTISEMENT

Spanyol Luncurkan Perang Melawan Sampah Lewat UU Daur Ulang Baru

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Selasa, 22 Nov 2022 14:41 WIB
Jakarta -

"Anda bisa minum dari air ledeng, ya, tapi rasanya sangat tidak enak," kata seorang pelayan di restoran trendi Veles e Vents, Valencia. Pelanggan semakin banyak meminta air ledeng akhir-akhir ini, tetapi dia telah diberi tahu oleh atasannya untuk memperingatkan mereka bahwa air ledeng tidak sehat.

Diloloskan pada April lalu, undang-undang baru yang mengatur pembuangan sampah di Spanyol akan berlaku penuh pada tahun 2023. Restoran sekarang diharuskan menyediakan air keran gratis kepada pelanggan untuk mengurangi limbah dari botol air plastik.

"Namun, ada kesenjangan besar antara aspirasi dan kenyataan," kata Borja Mateu, yang bekerja di pusat penelitian INESCOP di Alicante, di mana dia mengelola sebuah pabrik daur ulang kecil. Dan di sini juga, di Costa Blanca, Anda bisa merasakan adanya bahan kimia di air keran. Uni Eropa telah berulang kali menegur Spanyol, memperingatkan bahwa proses pengolahan airnya tidak memadai.

Sangat sedikit daur ulang

Spanyol adalah produsen botol sekali pakai terbesar kelima di Uni Eropa, demikian menurut riset Greenpeace. Dan sangat sedikit yang didaur ulang. Indeks Sampah Global 2022 menemukan bahwa Jerman menghasilkan lebih banyak sampah daripada Spanyol — 632 kilogram dibanding 455 kilogram per kapita — tetapi setengah dari sampah ini didaur ulang, sedangkan kuota Spanyol hanya berjumlah 86 kilogram per orang.

Pajak baru dikenakan pada wadah plastik sekali pakai dan satu lagi pada limbah yang dikirim ke tempat pembuangan sampah atau untuk dibakar. Tujuannya adalah untuk membantu Spanyol mengurangi jumlah sampah yang dihasilkannya hingga 15% dari tingkat tahun 2010 pada tahun 2030.

"Undang-undang limbah yang baru juga melarang pemasaran produk plastik sekali pakai, serta produk kosmetik dan deterjen yang mengandung mikroplastik, dan membatasi penghancuran atau pembuangan produk tahan lama yang tidak terjual, termasuk tekstil, mainan, atau peralatan listrik," kata May Lopez, pakar lingkungan keberlanjutan di EAE Business School, Madrid.

Membuang 'materi berharga'

Keadaan ini jadi tantangan bagi perekonomian Spanyol. Pemilu parlemen akan berlangsung musim gugur mendatang, dan situasinya tampak tidak terlalu baik bagi Perdana Menteri Sosialis Pedro Sanchez, terutama karena banyak pelaku bisnis yang mengeluh tentang peraturan dan pajak.

Banyak orang Spanyol, termasuk kaum oposisi, telah menyatakan skeptis tentang undang-undang tersebut. Isabel Diaz Ayuso, kepala pemerintahan daerah yang konservatif di Madrid, baru-baru ini menyamakan kebijakan Sanchez dengan sektarianisme dan komunisme.

Gerakan lingkungan tidak terlalu kuat di Spanyol. Meskipun demikian, undang-undang baru menetapkan bahwa restoran dan supermarket harus mengurangi limbahnya seminimal mungkin. Sisa makanan harus disumbangkan atau diolah menjadi pakan ternak. Pelanggan restoran sisa makanan mereka untuk dibawa pulang. "Kami masih belum memiliki infrastruktur untuk mendukung beberapa sistem ini," kata Mateu.

Berbeda dengan Jerman, misalnya, Spanyol tidak memiliki sistem deposit universal untuk botol minuman.

Masalahnya terlihat saat Anda masuk ke pabrik daur ulang. Sebuah mesin memotong sepatu tua menjadi potongan-potongan kecil. "Kalau tidak, bisa berakhir di tempat pembuangan sampah akhir (TPA), padahal mengandung banyak bahan berharga," kata Mateu.

Spanyol juga merupakan rumah bagi dua raksasa industri mode cepat: Inditex dan Mango. Toko-toko seperti Primark, Bershka, Mango, Zara, dan Stradivarius berdiri berdampingan di jalan perbelanjaan Gran Via di Madrid. Setiap hari anak muda mengantre untuk membeli kaos dan jaket dengan potongan harga. Beberapa bulan kemudian, banyak dari barang-barang ini dibuang begitu saja atau ditinggalkan di jalan - dan hampir tidak ada orang yang tertarik untuk menggunakannya lagi.

Pakaian bekas dan pasar loak bukan hal umum di Spanyol. Meski banyak orang berbicara tentang pentingnya keberlanjutan, kata Mateu, hanya sedikit yang benar-benar mempertimbangkan apa artinya. Dalam hal ini, dia adalah pengagum sikap Jerman terhadap lingkungan.

Apotek di Spanyol, misalnya, membungkus kotak obat dengan kertas dan memasukkannya ke dalam kantong sebelum menyerahkannya kepada pelanggan. Ketika seorang pelanggan menolak kemasan ekstra untuk memasukkan kotak itu langsung ke dalam tasnya, pramuniaga itu tampak terkejut.

Pada Kamis (17/11) malam baru-baru ini, para remaja berpesta di taman bermain anak-anak di Madrid, sebuah tempat yang populer. Ada aturan denda baru hingga €2.000 jika membuang sampah sembarangan — tetapi patroli polisi mengabaikannya.

Ketika para remaja pulang, mereka meninggalkan puntung rokok, kaleng bir, dan kemasan plastik berserakan di tanah. Keesokan paginya, semuanya bersih kembali. Jalan-jalan di pusat kota Madrid disapu di pagi hari. Pengumpul sampah keluar pada tengah malam, dan petugas kebersihan mengambil sampah yang tertinggal di taman sementara mesin peniup serakan daun meraung di sepanjang jalan setapak, dikelilingi oleh bau solar.

Kota-kota Spanyol tidak diragukan lagi lebih bersih daripada banyak kota di Jerman. Namun, ada ongkosnya untuk hal ini. Surat kabar El Diario menghitung bahwa biaya pengumpulan sampah dan layanan kebersihan kota di Madrid sekarang 70% lebih tinggi daripada sebelum pandemi. "Butuh lebih banyak waktu untuk mendidik masyarakat Spanyol," kata Borja Mateu.

(ap/hp)

(ita/ita)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT