Kelompok HAM Kecam Aksi Kejam Iran di Kurdi Mahabad

ADVERTISEMENT

Kelompok HAM Kecam Aksi Kejam Iran di Kurdi Mahabad

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Senin, 21 Nov 2022 16:26 WIB
Jakarta -

Kelompok hak asasi Kurdi dan seorang ulama Sunni terkemuka mengatakan pada hari Minggu (20/11) bahwa rezim pemerintah Iran telah meningkatkan aksi penindasan atas protes anti-pemerintah di wilayah Kurdi dan mengerahkan pasukan militer yang telah membunuh sedikitnya empat orang demonstran.

Beberapa orang memposting gambar dan video secara online, namun belum dapat diverifikasi, di mana mereka menunjukkan kendaraan militer Iran yang tengah berjalan mengarah ke kota barat Mahabad.

Kelompok hak asasi manusia (HAM) Hengaw yang berbasis di Norwegia mengatakan bahwa terlihat helikopter militer tengah membawa anggota Garda Revolusi Iran untuk memadamkan protes sengit yang terjadi sejak awal pekan ini di Mahabad. Hengaw juga mengatakan pasukan militer Iran tersebut melepaskan tembakan di kota Marivan.

Seorang ulama Sunni terkemuka, Molavi Abdolhamid, yang memiliki pendapat berbeda atas rezim pemerintah saat ini, meminta pasukan keamanan Iran menahan diri untuk tidak menembak warga di Mahabad.

"Berita yang menggelisahkan muncul dari daerah Kurdi, terutama di Mahabad. Bentuk tekanan dan tindakan keras dapat menyebabkan aksi protes lebih lanjut. Pasukan keamanan harus menahan diri untuk tidak menembaki warga," tulis Abdolhamid dalam cuitannya di Twitter.

Hengaw mengatakan bahwa setidaknya empat pengunjuk rasa tewas di Kurdi. Kelompok aktivis lainnya juga mengatakan bahwa ada seorang guru dan seorang gadis berusia 16 tahun yang ikut terbunuh. Namun tim DW belum dapat memverifikasi klaim tersebut.

Media pemerintah Iran sudah memberikan pernyataan yang diduga merujuk pada kerusuhan yang terjadi di wilayah Kurdi. Tetapi pada hari Minggu (20/11), media pemerintah Iran tersebut hanya mengatakan bahwa aksi protes di wilayah Kurdi tersebut telah dipulihkan dan kembali tenang.

Serangan Iran ke Kurdistan Irak dikecam AS

Pada waktu yang hampir bersamaan, pihak berwenang di Kurdistan Irak pada hari Minggu (20/11) juga telah melaporkan adanya serangan militer Iran terhadap kelompok Kurdi di perbatasan wilayah, di mana peristiwa tersebut dikaitkan dengan kerusuhan yang sedang terjadi di Iran.

"Pasukan Garda Revolusi Iran telah kembali membombardir kelompok Kurdi Iran," kata departemen antiterorisme Kurdistan Irak, tanpa mengindikasi adanya korban yang berjatuhan.

Partai Demokrat Kurdistan Iran (PDKI) mengatakan rezim pemerintah Iran telah menargetkan untuk menggunakan rudal dan drone di dua tempat, yakni di wilayah Koya dan Jejnikan, daerah sekitar Irbil, ibu kota Kurdistan Irak.

"Serangan yang membabi buta ini terjadi pada saat rezim teroris Iran tidak dapat menghentikan demonstrasi yang sedang berlangsung di Kurdistan [Iran]," tulis PDKI.

Komala, kelompok nasionalis Kurdi Iran lainnya, juga membuat klaim serupa. Pemerintah Iran justru menyalahkan kelompok-kelompok hak asasi itu karena telah mengobarkan kerusuhan di wilayah perbatasan tersebut.

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM AS), yang juga turut mengawasi operasi militer AS di Timur Tengah, mengecam aksi serangan "ilegal dan membabi buta" tersebut.

"Kami mengutuk serangan rudal lintas batas Iran malam ini dan serangan pesawat udara tak berawak," kata Komandan CENTCOM Jenderal Michael Kurilla dalam sebuah pernyataan.

"Serangan ilegal dan membabi buta seperti itu telah membuat warga sipil dalam bahaya, melanggar kedaulatan Irak, serta membahayakan keamanan dan stabilitas Irak dan Timur Tengah yang sudah diperjuangkan dengan begitu keras," tambah Kurilla.

Warga Iran 'tidak setuju dengan narasi' separatisme Kurdi

Protes nasional yang mencengkeram pemerintah Iran tersebut dimulai dari tragedi kematian tahanan seorang perempuan muda Kurdi bernama Jina Mahsa Amini. Aksi protes kebanyakan berlangsung paling intens di daerah mayoritas di mana sekitar 10 juta warga Kurdi Iran tinggal.

Dalam beberapa hari terakhir, aksi dukungan untuk pengunjuk rasa di Mahabad juga telah terlihat di wilayah lain di negara itu. Kamran Matin, dosen senior di Universitas Sussex, mengatakan kepada tim DW bahwa aksi protes yang terus berlangsung itu menunjukkan bagaimana upaya rezim Iran untuk memecah belah negara tersebut, telah gagal total.

"Selama beberapa dekade, Republik Islam telah berinvestasi dan secara aktif mempromosikan perpecahan antar berbagai negara dan wilayah budaya dan komunitas di Iran," kata Matin. "Dan Kurdistan secara khusus tunduk pada kebijakan ini."

Matin mengatakan ini adalah "bukti bahwa sebenarnya orang-orang di bagian wilayah lain di Iran tidak setuju dengan narasi separatisme, yang tengah disebarluaskan oleh rezim pemerintah, bahwa wilayah Kurdi hanya didominasi oleh gerakan separatis dan orang-orang tersebut hanya ingin menghancurkan Iran."

"Meskipun demikian, kami melihat bahwa warga, baik dari Teheran hingga bagian-bagian terpencil di Iran, segera keluar dan menyatakan dukungannya untuk warga Mahabad yang tengah mendapat serangan keras dari militer, yang sebenarnya merupakan pasukan militer konvensional Republik Islam Iran," tambah Matin.

Dua aktor perempuan Iran ditangkap karena tidak berhijab

Meskipun Jina Mahsa Amini adalah seorang warga Kurdi, aksi protes yang terjadi justru lebih banyak berpusat pada hak-hak perempuan dan kebebasan sipil secara umum.

Amini ditangkap karena tidak mengenakan hijab atau jilbab yang wajib bagi perempuan Iran. Beberapa aksi protes juga diawali dengan gerakan para perempuan Iran yang melepas hijab mereka dan memperlihatkan rambut mereka di tempat umum. Aksi serupa juga dilakukan oleh para pemuda Iran, seperti di sekolah dan universitas.

Pihak berwenang Iran pada hari Minggu (20/11) mengatakan bahwa mereka telah menangkap dua aktor perempuan terkemuka, Hengameh Ghaziani dan Katayoun Riahi, karena tampil di depan umum tanpa hijab mereka.

Ghaziani telah mengunggah sebuah video di akun Instagramnya dan menuliskan: "Ini mungkin unggahan terakhir saya. Mulai sekarang, apa pun yang terjadi, ketahuilah bahwa saya akan terus berdiri bersama rakyat Iran."

Dalam video tersebut, Ghaziani memperlihatkan rambutnya di publik. Tanpa berbicara dan membelakangi kamera, Ghaziani tampak mulai menarik rambutnya yang dikuncir kuda.

Kapten Iran turut angkat bicara

Media Iran juga melaporkan pada hari Minggu (20/11) bahwa delapan selebriti dan politisi ditanyai tentang komentar mereka atas aksi protes yang masih berlangsung di Iran, termasuk pelatih salah satu tim sepak bola paling terkenal di Iran.

Yahya Golmohammadi, pelatih Persepolis FC, mengkritik tim nasional Iran karena tidak "membawa suara rakyat yang tertindas ke telinga pihak berwenang." Hal itu diungkapkannya, saat timnas Iran tengah bertemu dengan Presiden Ebrahim Raisi menjelang Piala Dunia 2022 di Qatar.

Pada hari Minggu (20/11), kapten Iran turut angkat suara perihal masalah tersebut. Ehsan Hajsafi mengatakan bahwa para pemain Iran ingin menjadi "suara" rakyat tanah air mereka.

"Situasi di negara kita sedang tidak baik dan rakyat kami tidak senang," kata Hajsafi. Timnas Iran akan bermain melawan kesebelasan Inggris dalam pertandingan pembukaan Piala Dunia 2022 pada hari Senin (21/11).

Perbedaan pendapat juga terjadi di berbagai belahan cabang olahraga dunia. Pada hari Sabtu (19/11), kepala federasi tinju Iran, Hossein Souri, mengatakan bahwa dia tidak akan kembali dari turnamen di Spanyol.

"Saya tidak bisa lagi melayani negara tercinta, dengan sistem yang begitu mudahnya menumpahkan darah manusia," kata Souri.

Menurut kelompok aktivis HAM Iran, setidaknya total 378 orang telah tewas dalam protes nasional yang masih berlangsung hingga saat ini, di mana 47 di antaranya merupakan anak-anak.

kp/hp (AFP, AP, Reuters)

(ita/ita)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT