Penduduk Bumi Lewati 8 Miliar, Kerusakan Ekologi-Iklim Makin Parah?

ADVERTISEMENT

Penduduk Bumi Lewati 8 Miliar, Kerusakan Ekologi-Iklim Makin Parah?

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Selasa, 15 Nov 2022 17:47 WIB
Jakarta -

Pada 15 November, populasi dunia melampaui 8 miliar orang, delapan kali lipat dari jumlah populasi pada 1803. Pertumbuhan populasi juga makin lama makin cepat, dengan pertumbuhan satu miliar penduduk hanya dalam waktu satu dekade terakhir.

"Pertumbuhan populasi dunia adalah kisah sukses yang luar biasa," kata Sara Hertog, seorang pakar populasi di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Tingkat harapan hidup rata-rata juga meningkat secara global selama 25 tahun terakhir. Penurunan tingkat kelahiran, akses lebih baik ke layanan reproduksi, keluarga berencana dan lebih banyak kesempatan pendidikan untuk perempuan menjadi kunci keberhasilan itu.

Tetapi keberhasilan ini harus dibayar mahal. Laporan terbaru PBB menunjuk pada pertumbuhan penduduk sebagai salah satu sumber utama peningkatan emisi gas rumah kaca dan perusakan ekologi.

"Hilangnya keanekaragaman hayati, perubahan iklim, polusi, penggundulan hutan, kekurangan air dan makanan – ini semua diperparah oleh jumlah penduduk yang besar dan terus meningkat," kata LSM Population Matters yang berbasis di Inggris. PBB memproyeksikan populasi global pada tahun 2050 akan mencapai 9,7 miliar, dan pada tahun 2100 mencapai 11 miliar orang.

Negara-negara terkaya mengkonsumsi paling banyak

Sara Hertog mengatakan kepada DW, kebiasaan konsumsi dan produksi yang tidak berkelanjutan akan menjadi masalah pada populasi yang meledak, terutama di negara-negara berkembang.

"Peningkatan pendapatanlah yang jauh lebih penting, daripada pertumbuhan populasi, dalam mendorong peningkatan konsumsi dan polusi terkait," katanya. Dia menunjuk negara-negara terkaya di dunia, di mana pertumbuhan populasi telah melambat atau berbalik arah, tetapi mereka menggunakan sebagian besar sumber daya per kapita.

Negara-negara berkembang yang lebih miskin di Afrika dan sebagian Asia, yang populasinya diperkirakan akan meningkat paling banyak dalam beberapa dekade mendatang, hanya bertanggung jawab atas sebagian kecil dari emisi global dan penggunaan sumber daya. Menurut Global Footprint Network, jika setiap orang di planet ini hidup seperti warga di Amerika Serikat, kita membutuhkan sumber daya setidaknya dari lima Bumi. Sedangkan jika kita hidup seperti penduduk di Nigeria, kita hanya menggunakan 70% sumber daya dunia setiap tahun.

Sylvia Lorek, profesor ekonomi konsumen di Universitas Helsinki dan ketua Sustainable Europe Research Institute di Jerman, mengatakan semuanya bergantung pada cara kita berbagi sumber daya. "Kita telah hidup di luar kemampuan kita cukup lama," katanya dan menambahkan bahwa kita tidak akan dapat mempertahankan cara hidup seperti ini lebih lama lagi. Terutama jika orang bergaya hidup nyaman seperti di Barat saat ini, akan semakin sulit bagi Bumi meregenerasi sumber daya hayati—flora, fauna, air bersih, dan tanah—yang diperlukan manusia untuk bertahan hidup.

Untuk memenuhi kebutuhan populasi dunia saat ini, LSM lingkungan Global Footprint Network memperkirakan, kita membutuhkan 175% sumber daya ekologi dunia yang tidak berkelanjutan setiap tahun.

Belajar 'hidup dengan baik dengan lebih sedikit'

Sylvia Lorek menekankan, banyak dari konsumsi berlebihan itu sebenarnya bukan kebutuhan mendasar, tetapi tertanam dalam cara hidup masyarakat yang dibentuk dengan nilai-nilai yang kita lihat dipromosikan. Di media, periklanan, film, dan TV, "pola pikir ini dipicu.., bahwa kesejahteraan finansial adalah yang utama," katanya.

Dalam beberapa tahun terakhir, Sylvia Lorek dan peneliti lain melakukan riset bagaimana orang yang sudah menikmati standar hidup yang relatif nyaman dapat belajar untuk "hidup dengan baik dengan lebih sedikit", jadi tanpa mengorbankan kualitas hidup mereka. Para peneliti fokus pada tiga bidang yang bertanggung jawab atas sebagian besar emisi dan konsumsi sumber daya kita: cara kita makan, cara kita hidup, dan cara kita bergerak.

Rekomendasi mereka: beralih ke pola makan yang lebih nabati dan mengurangi konsumsi produk hewani dan beralih dari ketergantungan pada perjalanan udara dan transportasi bermotor individual. Ini juga berarti merestrukturisasi kota kita untuk membangun gedung-gedung yang lebih efisien dalam penggunaan energi.

(hp/as)

Simak Video: BMKG Ikut Konferensi Perubahan Iklim COP 27, Ini yang Dibahas

[Gambas:Video 20detik]




(ita/ita)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT