Kirim Tim Ahli, IAEA Nyatakan Tak Ada 'Bom Kotor' di Ukraina

ADVERTISEMENT

Kirim Tim Ahli, IAEA Nyatakan Tak Ada 'Bom Kotor' di Ukraina

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Sabtu, 05 Nov 2022 09:42 WIB
Kiev -

Pengawas nuklir PBB IAEA mengatakan pada hari Kamis (3/11) tim mereka tidak menemukan tanda-tanda aktivitas nuklir terselubung di tiga lokasi di Ukraina yang diperiksa atas permintaan Kyiv, menanggapi tuduhan Rusia bahwa Ukraina sedang mempersiapkan "bom kotor".

Sebelumnysa, kepala IAEA Rafael Grossi mengatakan para ahli akan melakukan inspeksi di di Ukraina "untuk mendeteksi setiap pengalihan bahan nuklir, setiap produksi atau pemrosesan bahan nuklir yang tidak diumumkan di dua lokasi, dan memastikan bahwa tidak ada bahan dan kegiatan nuklir yang tidak diumumkan."

Badan tersebut mengatakan langkah ini mengikuti permintaan Ukraina yang dikeluarkan sebagai tanggapan atas klaim Rusia, tanpa bukti.

AS akan memberi Ukraina tambahan €275 juta

Amerika Serikat akan memberikan tambahan €275 juta dalam bentuk bantuan militer ke Ukraina, Departemen Luar Negeri AS mengumumkan pada hari Jumat (04/11). Bantuan ini mencakup lebih banyak senjata, amunisi dan peralatan, serta empat antena untuk komunikasi satelit.

Sebanyak €18,5 miliar telah diberikan kepada Kyiv dalam bantuan militer sejak Presiden Joe Biden menjabat pada Januari 2021.

Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken juga menambahkan bahwa beberapa hal sedang dilakukan untuk meningkatkan pertahanan udara Ukraina.

Jutaan orang Ukraina hidup tanpa listrik

Sekitar empat juta orang di seluruh Ukraina terkena dampak pemadaman listrik yang dipicu oleh serangan udara Rusia terhadap infrastruktur negara itu, menurut Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy.

"Sampai saat ini, banyak kota dan wilayah di negara kita mengalami pemadaman listrik," katanya dalam pidato. "Kami melakukan segalanya sehingga negara memiliki kesempatan untuk mengurangi pemadaman seperti itu."

Kyiv minta Teheran berhenti kirim senjata ke Moskow

Menteri Luar Negeri Ukraina Dmytro Kuleba mengatakan dia menerima panggilan telepon dari mitranya dari Iran, Hossein Amirabdollahian.

Kuleba meminta Teheran untuk berhenti mengirim senjata ke Rusia, seraya mencuit bahwa dia "menuntut Iran untuk segera menghentikan aliran senjata ke Rusia yang digunakan untuk membunuh warga sipil dan menghancurkan infrastruktur penting di Ukraina" selama panggilan telepon.

Teheran telah berulang kali membantah mentransfer senjata ke Moskow, sedangkan Kyiv dan negara-negara Barat menuduh mereka menggunakan drone buatan Iran dalam serangannya di wilayah Ukraina.

Rusia: Mobilisasi parsial selesai

Rusia mengerahkan 300.000 orang untuk bergabung dalam serangan di Ukraina, kata Menteri Pertahanan Sergei Shoigu kepada Presiden Vladimir Putin.

"Tugas merekrut 300.000 orang telah selesai," kata Shoigu.

Dia mengatakan 82.000 dari orang yang direkrut itu dikerahkan ke daerah "operasi militer khusus", sebuah eufemisme yang digunakan Rusia untuk menggambarkan invasi dan perang yang berlanjut di Ukraina. Sebanyak 218.000 rekrutan lainnya sedang menjalani pelatihan.

Putin mengumumkan apa yang disebutnya "mobilisasi parsial," pada September lalu dengan mengatakan tindakan itu diperlukan untuk melindungi rakyat Rusia dari apa yang dia sebut sebagai "seluruh mesin perang kolektif Barat" di Ukraina.

ha/hp (AFP, AP, dpa, Reuters)

(nvc/nvc)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT