ADVERTISEMENT

Krisis Energi, Jerman Ingin Tingkatkan Kerja Sama dengan Arab Saudi

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Jumat, 23 Sep 2022 10:08 WIB
Jakarta -

Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) pernah dikucilkan Barat setelah pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi di Istanbul 2018. Sekarang kenaikan harga minyak dan krisis energi mengubah situasi. Presiden AS Joe Biden dan Presiden Prancis Emmanuel Macron telah bertemu dengan MBS tahun ini.

Sekarang giliran Kanselir Jerman Olaf Scholz menghadap MBS. Dia dijadwalkan bertemu putra mahkota di Riyadh hari Sabtu (24/9) selama kunjungan dua hari ke Teluk. Uni Emirat Arab (UEA) dan Qatar adalah dua pemberhentian lainnya.

Sementara banyak politisi Jerman dan kelompok hak asasi manusia secara terbuka meminta pemerintah Jerman dan Olaf Scholz tetap menyuarakan catatan hak asasi manusia yang buruk di Arab Saudi, direktur GIGA Institute of Middle East Studies Eckhart Woertz mengatakan prioritas Jerman memang sudah berubah.

"Prioritas bergeser" akibat perang di Ukraina

"Tentu saja ada sedikit kecenderungan untuk mengangkat isu hak asasi manusia ketika berhadapan dengan eksportir energi di Kawqasan Teluk saat ini. Tapi prioritas telah bergeser sebagai akibat dari perang Ukraina. Saya tidak pikir mereka akan terlalu tertekan, katakanlah seperti itu," kata Eckhardt Woertz kepada DW.

Berlin saat ini memang mengharapkan bisa membuat kesepakatan energi jangka panjang seperti yang sudah ditandatangani dengan Qatar dan Uni Emirat Arab (UEA) untuk menggantikan pasokan dari Rusia. Tetapi belum tentu kesepakatan semacam itu bisa dicapai dengan Arab Saudi.

"Arab Saudi menghasilkan banyak gas alam, tetapi mereka membutuhkannya untuk industrialisasi domestik mereka," kata Eckhart Woertz.

Arab Saudi memiliki cadangan gas alam terbesar kedelapan di dunia, setelah pemasok besar seperti Rusia, Iran dan Qatar. Tetapi ekonomi domestiknya juga membutuhkan gas dalam jumlah besar untuk pembangkit listrik, desalinasi air dan produksi industri.

Industri Jerman perlu pasar ekspor baru

Ekspor Jerman ke Arab Saudi telah turun hampir setengahnya antara tahun 2015 dan tahun 2021, dari 9,9 miliar euro menjadi 5,5 miliar euro. Tahun ini diperkirakan malah akan lebih rendah lagi, menurut badan perdagangan luar negeri GTAI. Sementara kawasan Teluk masih membeli banyak mesin industri buatan Jerman, sekarang ada persaingan ketat dari Cina.

Produsen mobil Jerman juga ingin meningkatkan penjualan di pasar mobil Timur Tengah, terutama karena transisi ke elektromobilitas semakin cepat. Pasar Saudi saat ini didominasi oleh merek mobil Jepang dan Korea seperti Toyota dan Hyundai, yang masing-masing memiliki 30% dan 20% pangsa pasar. Kedua paberikan juga cukup maju dalam reiset dan pengembangan kendaraan listrik. Penjualan kendaraan dan suku cadang Jerman ke Arab Saudi tahun 2015 pernah mencapai 1,6 miliar euro, tahun 2021 turun menjadi hanya 0,9 miliar euro.

Enam tahun lalu, pemerintah Jerman pernah mengumumkan Visi 2030, yang ambisinya mencakup delapan mega proyek, termasuk rencana membangun mega zona pariwisata dan perdagangan di tepi Laut Merah bernama Neom.

Olaf Scholz akan disertai delegasi bisnis Jerman dalam kunjungannya ke Kawasan Teluk, kemungkinan besar termasuk perwakilan produsen senjata. Penjualan senjata Jerman ke Saudi tahun lalu memang sangat kecil, setelah mencapai puncaknya pada 2012 dengan nilai 1,24 miliar euro. Tapi sejak 2018 Jerman melarang penjualan senjata ke Riyadh, karena Arab Saudi memimpin aliansi militer berperang di negara tetangga Yaman.

(hp/vlz)

Simak juga 'Putin Salahkan Eropa Atas Krisis Energi':

[Gambas:Video 20detik]



(ita/ita)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT