ADVERTISEMENT

Gelombang Demonstrasi di Iran Tuntut Transparansi Kematian Masha Amini

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Selasa, 20 Sep 2022 16:29 WIB
Jakarta -

Warga Iran di ibu kota Teheran serta massa dari universitas-universitas di seluruh negeri turun ke jalan selama tiga hari berturut-turut untuk memprotes kematian Masha Amini, perempuan berusia 22 tahun yang meninggal saat berada dalam tahanan.

Lima orang dikabarkan telah tewas selama demonstrasi di wilayah Kurdi, Iran, pada Senin (19/09) setelah pasukan keamanan menembaki para pengunjuk rasa. Muncul juga laporan pemadaman internet di seluruh wilayah Teheran dan Kurdi.

Kelompok pengawas yang berbasis di London, NetBlocks, mengonfirmasi adanya, "gangguan hampir menyeluruh terhadap konektivitas internet di Sanandaj, ibu kota Provinsi Kurdistan di Iran barat," menurut cuitan yang dirilis Senin (19/09) malam.

Kelompok hak asasi internasional Hengaw pada Senin (19/09) mengklaim dua orang telah tewas dalam protes di kota Divandarreh, Kurdi. Para pejabat Iran menyanggah "beberapa klaim kematian di media sosial" dengan hanya mengatakan bahwa telah dilakukan penangkapan.

Masha Amini meninggal dalam tahanan polisi

Masha Amini ditangkap oleh polisi moralitas Iran pada Selasa (13/09) lalu setelah mereka menemukannya melanggar aturan berpakaian, yang mengharuskan perempuan mengenakan penutup kepala.

Saat dalam tahanan, Amini pingsan dan dilarikan ke rumah sakit di mana dia dinyatakan meninggal. Polisi menyangkal Amini dianiaya, seraya mengklaim bahwa kematiannya disebabkan karena serangan jantung. Namun, keluarganya mengatakan dia tidak memiliki catatan penyakit dan dalam keadaan sehat ketika ditangkap.

Polisi juga merilis CCTV yang diduga menunjukkan Amini pingsan saat berada di kantor polisi.

Ledakan unjuk rasa di pemakaman Amini

Ledakan aksi protes terjadi pada Sabtu (17/09), ketika Amini, yang merupakan orang Kurdi, dimakamkan di rumahnya di Iran Barat, Saqez. Para pengunjuk rasa menghancurkan jendela dan membakar tempat sampah sebelum polisi melakukan beberapa penangkapan dan menembakkan gas air mata untuk membubarkan kerumunan.

Presiden Iran Ebrahim Raisi berbicara dengan keluarga Amini dan menjanjikan penyelidikan penuh. Penyelidikan yudisial dan parlemen juga telah diperintahkan.

Pada Senin (19/09), lebih banyak protes berlangsung di universitas-universitas di sejumlah kota di Iran. Para demonstran menyerukan transparansi atas kematian Amini serta pembongkaran polisi moralitas. Unit itu telah dikritik karena perlakuan terhadap mereka yang ditangkap, terutama perempuan muda.

Di Washington DC, Gedung Putih menyerukan pertanggungjawaban dan melabeli kematian Amini sebagai "tindakan yang sangat buruk dan mengerikan terhadap hak asasi manusia" serta menuntut agar Iran "mengakhiri penggunaan kekerasan terhadap perempuan untuk menjalankan kebebasan fundamental mereka."

Kementerian Luar Negeri Prancis juga mengutuk penangkapan dan kekerasan yang menyebabkan kematian Amini. Kementerian mengatakan bahwa kematian perempuan Iran di tangan polisi moralitas Iran itu "sangat mengejutkan" dan menyerukan penyelidikan transparan untuk memeriksa penyebab kematiannya.

Kaum perempuan telah diwajibkan secara hukum untuk mengenakan jilbab di Iran sejak Republik Islam berdiri pada tahun 1979.

yas/ha (AFP, AP, Reuters)

Lihat juga video 'Ratusan Drone Iran Akan Dilibatkan Dalam Latihan Perang Skala Besar':

[Gambas:Video 20detik]




(ita/ita)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT