ADVERTISEMENT

Lubang Ozon Mengecil, Tapi Enggan Menghilang

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Selasa, 20 Sep 2022 14:27 WIB
Jakarta -

Tebalnya tak seberapa, tapi lapisan tipis ozon menghalangi cukup radiasi untuk memungkinkan kehidupan di muka Bumi. Seperti yang digambarkan PBB, "jika kita bisa menurunkan lapisan ozon ke permukaan laut, maka tebalnya hanya sekitar tiga milimeter saja. Lapisan inilah yang melindungi kita dari radiasi ultraungu yang berbahaya."

Sejak beberapa dekade silam kita tahu bahwa lapisan ozon menyusut di sejumlah wilayah. Fenomena yang dikenal dengan sebutan "lubang ozon" itu mempercepat pencairan es di kutub dan secara langsung mempengaruhi iklim Bumi.

Sebabnya selama 30 tahun terakhir, PBB menggalang upaya mengurangi penggunaan gas atau senyawa perusak ozon, seperti freon pada lemari pendingin.

Menurut Badan Kelautan dan Atmosfer AS, NOAA, level gas perusak ozon di Bumi menurun 50 persen pada awal 2022 silam, dibandingkan ketika lubang ozon pertama kali dideteksi. Namun, masih diperlukan langkah lanjutan untuk sepenuhnya menutup lubang ozon. Berikut panduan dasar tentang lapisan gas pelindung Bumi itu.

Apa itu lapisan ozon?

Ozon tidak lain adalah molekul organik yang terdiri dari tiga atom oksigen (O3). Molekul-molekul ozon terbentuk secara alami di level tertinggi atmosfer Bumi. Lapisan O3 ini memungkinkan munculnya kehidupan dengan menyaring sejumlah besar radiasi ultraungu.

Karena ketika sejumlah kecil sinar matahari menguntungkan makhluk hidup, dalam jumlah besar ia sebaliknya mensterilkan semua bentuk kehidupan.

Ilmu pengetahuan mengenal tiga tipe radiasi ultraungu berdasarkan panjang gelombangnya, yakni A, B, dan C. Lapisan ozon bertugas menyerap sepenuhnya jenis radiasi terkuat, UVC, yang berdaya rusak serupa radiasi nuklir.

Bagaimana lubang ozon terbentuk?

Secara umum, industrialisasi mempopulerkan penggunaan "senyawa perusak ozon" atau ODSs dalam skala besar. Termasuk di antaranya adalah Klorofluorokarbon (CFCs), Haloalkana, Kloroform (CH3CCl3), Karbon tetraklorida (CCI4), Hidroklorofluorokarbon (HCFCs), dan Bromometana.

Senyawa ini antara lain bisa ditemukan pada lemari es, pendingin ruangan, tabung semprot, zat pelarut, dan pestisida. Mereka melepaskan atom klorin dan bromin ke udara, yang merusak lapisan ozon.

Ilmuwan juga mewanti-wanti terhadap senyawa intermediat atau VSLS yang tidak stabil dan sebabnya berusia pendek. Meski terbentuk secara alami, manusia memproduksi VSLS dalam jumlah besar, seperti misalnya metilena klorida.

Mampukah ozon dipulihkan?

Senyawa-senyawa perusak itu tidak secara perlahan "merusak lapisan ozon di langit Antarika" atau yang oleh PBB juga disebut sebagai "penipisan dramatis" lapisan ozon. Fenomena ini biasanya muncul antara bulan Agustus dan Oktober.

Ilmuwan meyakini lapisan ozon akan sepenuhnya pulih ke level sebelum 1980 dalam 50 tahun depan. Artinya, antara 2050 dan 2065, lapisan ozon akan kembali sepenuhnya menyelubungi Kutub Selatan.

Konvensi Wina dan Protokol Montreal sejauh ini menjadi perjanjian pertama yang mendapat dukungan universal pada 16 September 2009. Keduanya mengikat semua negara di dunia untuk mengurangi penggunaan senyawa ODSs.

Untuk memantau perkembangan ozon, Badan Antariksa AS (NASA) menyediakan laporan video secara berkala antara 1979 hingga 2022.

(rzn/ha)

Lihat juga video 'Selain Bisa Melindungi, Ozon Juga Ada yang Jahat Lho!':

[Gambas:Video 20detik]



(ita/ita)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT