ADVERTISEMENT

Presiden Terakhir Uni Soviet Wafat, Tokoh Dunia Berbelasungkawa

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Rabu, 31 Agu 2022 15:57 WIB
Jakarta -

Mikhail Gorbachev, pemimpin terakhir Uni Soviet yang membantu mengakhiri Perang Dingin tanpa pertumpahan darah, telah meninggal di rumah sakit pada Selasa (30/08). Ia meninggal dalam usia 91 tahun.

Staf di Rumah Sakit Klinik Pusat di Moskow mengatakan negarawan itu meninggal pada Selasa (30/08) malam, "setelah mengidap penyakit yang serius dan berkepanjangan." Tidak ada rincian lain yang diberikan.

Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan simpati yang mendalam atas kematian Gorbachev, kata seorang juru bicara Kremlin.

Juru bicara itu menambahkan bahwa Putin, mantan agen KGB yang memiliki hubungan ambigu dengan Gorbachev, akan mengirim telegram belasungkawa kepada keluarga dan teman mendiang pada Rabu (30/08) pagi.

Kantor berita resmi TASS melaporkan Gorbachev akan dimakamkan di Pemakaman Novodevichy Moskow di sebelah istrinya.

Dunia bereaksi

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres mengatakan Gorbachev adalah "seorang negarawan yang mengubah arah sejarah." Guterres menyebut mantan pemimpin Soviet itu melakukan lebih dari individu lain untuk mengakhiri Perang Dingin secara damai.

Presiden Amerika Serikat Joe Biden memuji Gorbachev sebagai "pemimpin langka" yang membuat dunia lebih aman. Sementara, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen juga memuji Gorbachev sebagai pemimpin "terpercaya dan dihormati" yang membantu meruntuhkan Tirai Besi.

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan, "komitmen Gorbachev terhadap perdamaian di Eropa mengubah sejarah kita bersama."

Sementara itu, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengatakan dia mengagumi "keberanian dan integritas" Gorbachev saat Perang Dingin hampir berakhir. "Dalam masa agresi Putin di Ukraina, komitmennya yang tak kenal lelah untuk membuka masyarakat Soviet tetap menjadi contoh bagi kita semua," tambah Johnson.

James Baker III, Menteri Luar Negeri AS mengatakan pada Rabu (30/08) bahwa "sejarah akan mengingat Mikhail Gorbachev sebagai raksasa yang mengarahkan bangsanya yang besar menuju demokrasi."

Warisan abadi

Dari 1985 hingga runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1991, Gorbachev mengawasi perombakan besar-besaran terhadap kebijakan ekonomi dan politik negara tersebut.

Kebijakannya tentang glasnost atau keterbukaan, memungkinkan kritik yang sebelumnya tidak terpikirkan terhadap Partai Komunis dan negara, tetapi juga mendorong seruan untuk kemerdekaan di republik-republik konstituen Uni Soviet yang dimulai pertama di negara-negara Baltik Latvia, Lituania, Estonia, dan kemudian di wilayah lain.

Sebagai pemimpin terakhir Soviet, Gorbachev menjalin kesepakatan pengurangan senjata dengan Amerika Serikat dan kemitraan dengan Barat untuk menghapus Tirai Besi yang telah membagi Eropa sejak Perang Dunia II.

Pada tahun 1990, dia dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian "untuk peran utama yang dia mainkan dalam perubahan radikal dalam hubungan Timur-Barat."

"Era Gorbachev adalah era perestroika, era harapan, era masuknya kita ke dunia bebas rudal," kata Vladimir Shevchenko, yang mengepalai kantor protokol Gorbachev ketika dia menjadi pemimpin Soviet.

"Tapi ada satu kesalahan perhitungan, kami tidak mengenal negara kami dengan baik. Persatuan kami berantakan, itu adalah tragedi dan tragedi Gorbachev."

Meskipun ia dianggap penting di Barat, banyak orang Rusia tidak pernah memaafkan Gorbachev atas gejolak yang ditimbulkan oleh reformasinya, mengingat penurunan standar hidup berikutnya menjadi harga yang terlalu tinggi untuk dibayar bagi demokrasi.

Setelah mengunjungi Gorbachev di rumah sakit pada 30 Juni, ekonom liberal Ruslan Grinberg mengatakan kepada outlet berita angkatan bersenjata Zvezda, "dia (Gorbachev) memberi kita semua kebebasan, tetapi kita tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan itu."

rs/ha (AP, Reuters, AFP, dpa)

(ita/ita)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT