ADVERTISEMENT

Peluncuran Artemis I, Pembuka Jalan Bagi Permukiman di Bulan

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Senin, 29 Agu 2022 16:07 WIB
Jakarta -

2030 akan menjadi titik satu dekade penyelesaian jangka panjang proyek bulan dan Mars. Tapi semua itu baru akan dimulai sekarang, dengan peluncuran Artemis I yang direncanakan mengudara pada 29 Agustus.

Artemis I adalah misi uji coba tanpa awak, dan ini adalah langkah pertama untuk mengembalikan manusia ke bulan sejak misi terakhir Apollo 17 pada tahun 1972 silam. Pembuatan stasiun di bulan dirasa penting untuk nantinya dapat mengeksplorasi Mars, karena astronot ingin menggunakan permukaan bulan sebagai semacam pit stop untuk peluncuran kunjungan jangka panjang ke planet merah tersebut.

Menurut Badan Antariksa Eropa (ESA), yang menjadi mitra NASA dalam proyek ini, program Artemis akan menyoroti apa yang telah berubah dalam eksplorasi ruang angkasa selama setengah abad terakhir.

Banyak yang berubah sejak 1972

Perubahan yang terjadi salah satunya, visi dan teknologi yang digunakan lebih maju. Program Artemis merencanakan pendaratan manusia di bulan pada tahun 2025 dan membangun permukiman yang lebih permanen melalui perjalanan di tahun-tahun berikutnya.

"Pada awalnya, orang hanya akan pergi ke bulan selama seminggu, tetapi misi Artemis di masa depan akan membuat manusia tinggal di sana selama satu atau dua bulan. Karena itu, pemukiman permanen akan dibangun," ungkap Insinyur Ruang Angkasa ESA Juergen Schlutz, kepada DW.

Artemis juga akan menandai pertama kalinya perempuan dan orang kulit berwarna akan berjalan di bulan.

Apa itu program Artemis?

Peluncuran ini adalah yang pertama dari enam misi bulan Artemis yang direncanakan hingga 2028 mendatang. Tidak akan ada manusia di pesawat ruang angkasa Orion untuk Artemis I. Misi ini pada dasarnya adalah tes keselamatan. Tapi misi selanjutnya di masa depan akan mulai mengangkut manusia.

Program Artemis dimulai tahun 2017 sebagai bagian dari upaya revitalisasi program luar angkasa. Ini dilakukan oleh NASA dengan bekerja sama dengan ESA dan badan antariksa dari beberapa negara lainnya.

"Kami ingin memperluas jangkauan manusia ke luar angkasa. Bulan adalah tetangga terdekat. Bulan memiliki sumber daya dan kualitas untuk penelitian, tetapi bagi kami program Artemis berfokus untuk mendapatkan pijakan pertama kami di luar angkasa," kata Schlutz.

NASA menamai program itu dengan sebutan saudara kembar Apollo, Artemis, yakni sang dewi bulan dalam mitologi Yunani.

Misi pertama akan lepas landas dari Pusat Ruang Angkasa Kennedy pada 29 Agustus pukul 07:30 di Florida (18.30 WIB), meluncurkan pesawat ruang angkasa Orion menuju bulan selama 26 sampai 42 hari. Setidaknya enam dari hari-hari itu akan dihabiskan di orbit bulan yang jauh sebelum jatuh ke Samudra Pasifik.

Tes keamanan untuk penerbangan luar angkasa berawak

Menurut Schlutz, tujuan peluncuran ini adalah untuk memastikan keamanan Orion dan Sistem Peluncuran Luar Angkasa untuk misi berawak di masa depan.

"Artemis adalah program yang dimaksudkan untuk membawa manusia kembali ke bulan. Artemis I adalah misi pertama yang akan menguji sistem transportasi untuk membawa kita ke sana," kata Schlutz.

Orion adalah pesawat ruang angkasa yang dapat digunakan kembali, yang sebagian badannya dilengkapi dengan panel surya dan sistem docking otomatis, bersama dengan mesin tolakan primer dan sekunder yang akan mendorong pesawat di luar orbit Bumi dan mengarahkannya ke bulan.

ESA, bersama dengan kontraktor Eropa seperti AirBus, merupakan tim utama dalam membangun teknologi untuk penerbangan luar angkasa tanpa awak ini. Meskipun Orion akan dapat membawa enam orang awak, Artemis I akan menerbangkan dua boneka, yakni Helga dan Zohar, yang dilengkapi dengan sensor pengukur radiasi.

Kapan manusia dapat tinggal di bulan?

Tujuan jangka panjang program Artemis adalah kolonisasi Mars. Schlutz mengatakan bulan adalah langkah yang relevan di sepanjang rute ke Mars, untuk berfungsi sebagai pos pertama bagi penjelajah sebelum bertolak ke Mars. Landasan pendaratan bulan pertama, yang disebut 'Artemis Base Camp', akan diusulkan untuk mulai dibangun pada akhir dekade ini.

Badan Antariksa Nasional Cina dan Badan Antariksa Federal Rusia (Roscosmos) juga mengusulkan untuk membangun pangkalan bulan mereka sendiri, yang disebut Stasiun Penelitian Bulan Internasional, pada awal 2030-an.

Kamp Bulan ini akan mendukung misi hingga dua bulan dan digunakan sebagai garda terdepan untuk mengoptimalkan teknologi dan kondisi kehidupan para penjelajah. Astronot akan dapat mencapainya dalam waktu kurang dari seminggu. Pencapaian ini akan sangat mengesankan, mengingat 200 tahun yang lalu penjelajah masih membutuhkan waktu hingga empat minggu untuk mencapai benua Amerika dari Eropa

Aiden Cowley, seorang ilmuwan material di ESA, menjelaskan bahwa sistem dan teknologi yang dibutuhkan untuk hidup di planet lain akan diuji di bulan.

"Bulan merupakan medan yang berat. Salah satu tantangan terbesar adalah melindungi astronot dari radiasi. Kami sedang membangun modul habitat dengan eksterior bata regolith [debu bulan] untuk memblokir radiasi," kata Cowley kepada DW.

Sistem untuk mengelola sumber daya, melindungi dari radiasi, dan memanen energi tersebut akan diuji di bulan dan kemudian dibawa ke Mars. Dibutuhkan setengah tahun untuk melakukan perjalanan ke Mars, sehingga misi bulan menawarkan tempat pengujian yang lebih mudah diakses.

"Tidak ada rute kembali ke rumah bagi alat baru ini. Tapi yang bisa kita lakukan yakni mencetak 3D alat-alatnya dan barang-barang material lainnya di bulan," kata Cowley.

(kp/hp)

Simak juga 'NASA Temukan Lokasi Potensial untuk Pendaratan Misi di Bulan':

[Gambas:Video 20detik]




(ita/ita)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT