ADVERTISEMENT

Kehancuran di Mana-Mana Pascagempa, Afghanistan Butuh Bantuan

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Senin, 27 Jun 2022 17:33 WIB
Jakarta -

Saat gempa mengguncang tenggara Afganistan pada Rabu (23/06), rumah batu dan lumpur Nahim Gul runtuh menimpanya. Ia mencakar puing-puing di kegelapan dini hari, tersedak debu saat mencari ayah dan dua saudara perempuannya. Dia tidak tahu berapa jam penggalian berlalu sebelum dia melihat sekilas tubuh mereka di bawah reruntuhan. Mereka sudah meninggal.

Sekarang, beberapa hari setelah gempa berkekuatan 6 yang menghancurkan wilayah tenggara terpencil Afganistan dan menewaskan sedikitnya 1.150 orang menurut perkiraan otoritas setempat, daerah Gul tinggal hancur, dan persediaan kebutuhan harian yang terbatas. Gempa juga menyebabkan keponakan Gul tewas akibat tertimpa tembok rumah mereka.

Gempa paling mematikan dalam dua dekade

Perserikatan Bangsa-Bangsa telah menyebutkan jumlah korban tewas mencapai 770 jiwa, namun data itu dapat meningkat, karena banyaknya jumlah korban hilang yang belum ditemukan. Banyaknya jumlah korban tewas akibat gempa ini menjadikan gempa tersebut sebagai bencana gempa paling mematikan dalam dua dekade terakhir di Afganistan.

"Saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada kita atau bagaimana kita harus memulai kembali hidup kita," kata Gul pada hari Minggu (26/06), tangannya memar dan bahunya terluka. "Kami tidak punya uang untuk membangun kembali."

Dampak gempa paling parah terjadi di provinsi Paktika dan Khost, di sepanjang pegunungan bergerigi yang membentang di perbatasan Afganistan dengan Pakistan.

Saat ini mereka yang berada di kawasan terpencil belum mendapatkan suplai bantuan. Sulitnya akses membuat bantuan dari pemerintah harus melewati jalanan terjal karena gempa juga memutus akses jalan menuju wilayah terpencil.

Bantuan internasional pascagempa

Taliban sebagai otoritas yang berkuasa di Afganistan saat ini meminta bantuan asing. Pemerintah Taliban meminta AS untuk mencairkan miliaran dolar dana dalam cadangan mata uang Afganistan. Perserikatan Bangsa-Bangsa dan berbagai kelompok bantuan internasional dan negara-negara telah dimobilisasi untuk mengirim bantuan.

Cina menjanjikan hampir 7,5 juta dolar AS (sekitar Rp. 111 miliar) untuk bantuan kemanusiaan darurat. Selain itu, negara lain seperti Iran, Pakistan, Korea Selatan, Uni Emirat Arab dan Qatar telah mengirimkan satu pesawat penuh tenda, handuk, tempat tidur dan pasokan lain yang sangat dibutuhkan korban gempa.

Wakil Perwakilan Khusus PBB Ramiz Alakbarov mengunjungi provinsi Paktika yang dilanda bencana pada Sabtu (25/06) untuk menilai kerusakan dan mendistribusikan makanan, obat-obatan dan tenda. Helikopter dan truk PBB yang sarat dengan roti, tepung, beras, dan selimut telah berhamburan ke daerah-daerah yang dilanda bencana.

"Kunjungan kemarin menegaskan kembali kepada saya penderitaan ekstrem orang-orang di Afganistan dan tekad mereka yang luar biasa dalam menghadapi kesulitan besar," kata Alakbarov.

Tanpa dukungan, tambahnya, warga Afganistan "akan terus menanggung kesulitan yang tidak perlu dan tak terbayangkan."

Namun upaya bantuan tetap tidak merata dan terbatas karena keterbatasan dana dan akses. Taliban tampak kewalahan oleh kerumitan logistik dari masalah-masalah seperti pemindahan puing-puing yang akan menjadi ujian utama.

Nasib para korban gempa

Warga yang menjadi korban gempa mulai mengguburkan sanak keluarga mereka yang tewas akibat bencana ini. Sebuah kuburan massal disiapkan untuk para korban tewas. Data dari PBB menyebut sekitar 800 keluarga harus bermukim di area terbuka.

Gul menerima tenda dan selimut dari badan amal lokal di distrik Gayan, tetapi dia dan kerabatnya yang masih hidup harus berjuang sendiri. Ketakutan pada gempa susulan masih terjadi. Sebelumnya pada Jumat (24/06) gempa susulan terjadi dan menyebabkan lima korban jiwa. Gul mengatakan anak-anaknya di Gayan menolak untuk masuk ke dalam rumah.

Gempa yang menguncang Afganistan telah menambah beban negara itu setelah krisis ekonomi terjadi sejak Taliban menguasai negara itu ketika AS dan sekutu NATO-nya menarik pasukan mereka. Bantuan asing yang menjadi andalan ekonomi Afganistan selama beberapa dekade berhenti praktis dalam semalam.

Sejumlah negara di dunia menerapkan sanksi, menghentikan transfer bank dan melumpuhkan perdagangan, menolak untuk mengakui pemerintah Taliban. Pemerintahan Joe Biden memutuskan akses Taliban ke cadangan mata uang asing senilai 7 miliar dolar AS yang disimpan di Amerika Serikat.

Saat ia mengunjungi lokasi bencana, Penjabat Menteri Luar Negeri Afghanistan Amir Khan Muttaqi mendesak Gedung Putih untuk mengeluarkan dana "pada saat Afghanistan berada dalam cengkeraman gempa bumi dan banjir" dan untuk mencabut pembatasan perbankan sehingga badan amal dapat lebih mudah memberikan bantuan.

Sementara, negara-negara Barat telah menahan bantuan jangka panjang karena mereka menuntut Taliban mengizinkan aturan yang lebih inklusif dan menghormati hak asasi manusia. Sekarang, sekitar setengah dari 39 juta penduduk negara itu menghadapi tingkat kerawanan pangan yang mengancam jiwa karena kemiskinan. Sebagian besar pegawai negeri sipil, termasuk dokter, perawat, dan guru, belum digaji selama berbulan-bulan.

rs/vlz (AP)

(ita/ita)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT