Kini Tergantung Impor, Dulu Pengeboran Minyak Pertama Dunia Ada di Jerman

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Jumat, 22 Apr 2022 17:59 WIB
Jakarta -

"Museum kami berdiri di tengah sisa-sisa ladang minyak," kata Stefan Ltgert, Direktur Museum Minyak Jerman di Wietze. Di sini bisa dilihat jejak ladang minyak dengan pompa kepala kuda dan rig pengeboran yang ditinggalkan. Di sinilah tempat kelahiran industri minyak Jerman.

Di kota kecil Wietze, di negara bagian Niedersachsen, dilakukan pengeboran sumur minyak pertama di dunia pada tahun 1858-59, bahkan sebelum sumur minyak dibor di Amerika Serikat, kata Stefan Ldgert. Demam "Emas Hitam" sempat memicu perburuan minyak ke kawasan itu.

Namun saat ini, Jerman mengandalkan impor untuk memenuhi lebih dari 70% kebutuhan energinya. Produksi dalam negeri Jerman, kini hanya mencakup 2% dari konsumsi minyak mentahnya, dan 6% dari konsumsi gas alam. Cadangan di ladang minyak dan gas dalam negeri Jerman memang makin menipis, dan tidak ada penemuan ladang minyak besar.

Dulu, situasinya berbeda. Pada puncaknya, Wietze saja bisa menyumbang 80% dari produksi minyak dalam negeri. Museum di kota kecil ini mengingatkan, bahwa Jerman pernah mandiri dan tidak tergantung dari minyak dan gas Rusia.

Berkembang pesat sampai cadangan habis

Semuanya dimulai ketika Georg Konrad Hunaeus menemukan cebakan minyak saat melakukan uji coba pengeborannya pada tahun 1858 di Wietze. Hunaeus, yang juga seorang profesor pada saat itu, sebenarnya lebih mengharapkan batu bara. Pada waktu itu, minyak mentah hanya digunakan sebagai pelumas kereta. Baru belakangan, sebagian produksi minyak bumi digunakan sebagai bahan bakar untuk lampu dan menggerakkan mesin.

Setelah penemuan minyak bumi di Wietze, selama empat puluh tahun kemudian nasib kawasan itu ditentukan oleh produksi minyak. Gedung-gedung administrasi dibangun, begitu pula stasiun kereta api dan kilang minyak. Yang tadinya padang rumput berubah menjadi jaringan instalasi pompa, pipa, dan lebih dari 2.000 lubang pemboran. Jaringan rel kereta api melintasi lanskapnya. Sampai hari ini, sebagian peninggalan-peninggalan dari masa kemewahan itu menjadi saksi kekayaan dari minyak yang dibawa ke Wietze.

Tapi sumber minyak tentu saja bisa habis. Pada awal abad ke-20, perusahaan-perusahaan minyak yang lebih besar berdatangan dan saling bersaing. "Cadangan minyak terbatas, perkembangannya bisa Anda lihat dalam skala kecil di Wietze," kata Stefan Ltgert.

Setelah minyak berhenti mengalir, penambangan berpindah ke bawah tanah selama beberapa dekade lagi, di mana para penambang mengekstraksi pasir minyak dari dalam jaringan terowongan sepanjang hampir 100 kilometer. Tetapi pada tahun 1960-an, cara itu menjadi terlalu mahal dan tidak lagi layak secara ekonomi. Minyak dari luar negeri sudah jauh lebih murah.

Kebutuhan energi terus meningkat, sumber daya alam terbatas

Pada puncak kejayaan minyak di Wietze pada tahun 1909, produksi minyak mentah mencapai 113.000 metrik ton dan menutupi sekitar 80% kebutuhan minyak di Jerman. Dibandingkan dengan kebutuhan minyak mentah saat ini, jumlah itu memang terasa sangat kecil. Tahun 2020, Jerman mengkonsumsi hampir 95 juta ton minyak mentah, menurut Asosiasi Gas Alam, Minyak Bumi dan Energi Panas Bumi Jerman.

Dengan perkembangan aktual dan debat tentang ketergantungan energi Jerman dari Rusia, produsen minyak dan gas lokal menekankan, produksi dalam negeri tidak mungkin lagi memenuhi permintaan, karena sumber daya alam yang terbatas.

"Tidak ada yang mengharapkan produksi dalam negeri bisa menutupi kebutuhan, walaupun setiap barel penting" kata Robert Frimpong, Direktur Wintershall Dea Germany, salah satu produsen minyak terbesar di Jerman..

Cara yang paling menjanjikan untuk meningkatkan produksi minyak dan gas dalam negeri dalam jangka pendek bukanlah dengan mengembangkan lapangan gas dan minyak baru, melainkan dengan mengoptimalkan instalasi yang sudah ada, kata Robert Frimpong.

(hp/as)

Simak juga 'Kurangi Impor Minyak Rusia, Harga Bensin di Jerman Naik':


[Gambas:Video 20detik]



(ita/ita)