Krisis Ekonomi Picu Bentrokan di Sri Lanka, Seorang Demonstran Tewas

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Rabu, 20 Apr 2022 14:11 WIB
Jakarta -

Sri Lanka berada dalam cengkeraman krisis ekonomi terburuk sejak merdeka dari Inggris pada tahun 1948. Pemadaman listrik yang terus-menerus, kurangnya pasokan bahan bakar, hingga komoditas lainnya menyebabkan kesengsaraan yang meluas. Aksi protes besar meluas, mendesak pengunduran diri pemerintah yang sedang bersiap untuk merundingkan dana talangan dari Dana Moneter Internasional (IMF).

Polisi menembakkan peluru tajam ke arah kerumunan pengunjuk rasa yang memblokade jalur kereta api dan jalan raya yang menghubungkan ibu kota Kolombo dengan pusat kota Kandy. Mereka memprotes minimnya stok minyak dan harga pangan yang tinggi.

"Satu orang meninggal karena luka tembak," kata seorang manajer rumah sakit kepada AFP melalui telepon. Sementara 16 pengunjuk rasa lainnya terluka, delapan di antaranya membutuhkan operasi darurat. Dilaporkan juga delapan petugas polisi mengalami luka-luka.

Polisi menyebut massa hendak membakar sebuah truk tangki yang membawa solar ketika petugas menembakkan gas air mata untuk membubarkan mereka di kota Rambukkana, 95 km sebelah timur ibu kota.

"Alih-alih bubar, massa malah melempari batu. Saat itu petugas menembaki mereka," kata juru bicara kepolisian Nihal Thalduwa dalam sebuah pernyataan.

Jam malam yang tidak terbatas diberlakukan di daerah itu, tambahnya.

Media lokal melaporkan, para demonstran telah melemparkan balik granat gas air mata yang ditembakkan oleh petugas. Demonstrasi tersebut adalah salah satu dari banyaknya aksi spontan yang dilancarkan di sluruh Sri Lanka pada Selasa (19/04), setelah operator bahan bakar utama di negara itu menaikkan harga hampir 65 persen.

Rekaman media lokal menunjukkan belasan petugas polisi yang mengenakan perlengkapan anti huru-hara menembakkan gas air mata ke kerumunan.

"Tembak, tembak, dan usir mereka," terdengar seorang perwira senior berteriak sambil memerintahkan anak buahnya untuk menyerang massa dengan gas air mata. Polisi menyatakan, para demonstran telah memblokir lalu lintas jalan dan kereta api selama berjam-jam pada saat bentrokan itu.

AS mengutuk bentrokan di Sri Lanka

Duta Besar Amerika Serikat untuk Sri Lanka, Julie Chung mengatakan, dia "sangat sedih" dengan insiden itu.

"Saya mengutuk kekerasan apa pun," kata Chung di Twitter. "Penyelidikan sepenuhnya dan transparan sangat penting dan hak rakyat untuk protes damai harus ditegakkan."

Asosiasi Pengacara Sri Lanka juga menyerukan penyelidikan yang tidak memihak atas kekerasan tersebut.

Di tempat lainnya, puluhan ribu pengendara yang marah memblokir jalan arteri di seluruh negeri dengan bus yang diparkir dan gundukan ban yang dibakar untuk memprotes kenaikan terbaru harga bahan bakar dan kekurangan pasokan selama berbulan-bulan.

Di ibu kota Kolombo, kerumunan besar massa berkemah di tepi laut di luar kantor Presiden Gotabaya Rajapaksa selama lebih dari seminggu, menuntut pemimpin itu untuk mengundurkan diri.

Para dokter di rumah sakit anak-anak utama Sri Lanka juga menggelar protes pada Selasa (19/04), atas kekurangan obat-obatan dan peralatan medis.

Presiden nyatakan menyesal

"Orang-orang menderita karena krisis ekonomi dan saya sangat menyesalinya," kata Raja Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa.

Krisis ekonomi Sri Lanka dimulai setelah pandemi virus corona merusak pendapatan vital dari pariwisata dan pengiriman uang dari pekerja di luar negeri. Pemerintah pada pekan lalu mengumumkan default pada utang luar negeri US$51 miliar (Rp732 triliun) dan Bursa Efek Kolombo telah menangguhkan perdagangan untuk mencegah anjloknya pasar.

Pemerintahan Rajapaksa mendesak warga Sri Lanka di luar negeri untuk menyumbang devisa guna membantu membayar penyediaan kebutuhan pokok.

Kolombo juga telah mengirim delegasi ke Washington dan membuka pembicaraan bailout dengan IMF.

ha/as (AFP)

(ita/ita)