Pilpres Prancis 'Rematch' 2017, Macron-Le Pen Bertarung Lagi di Putaran Kedua

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Senin, 11 Apr 2022 17:06 WIB
Jakarta -

Presiden Prancis Emmanuel Macron akan bertarung lagi dengan politikus ultra kanan Marine Le Pen dalam putaran kedua akhir bulan ini, setelah keduanya mendapatkan suara terbanyak di putaran pertama pemilihan presiden Prancis.

Hasil hitung awal Kementerian Dalam Negeri Prancis yang dirilis pada Minggu (10/04) malam menempatkan keduanya memimpin di antara 12 kandidat presiden yang ada.

Dengan masa jabatannya yang akan segera berakhir, Macron memimpin perolehan suara dengan 27,6 persen, sementara Le Pen meraup 23,4 persen.

Sebelumnya, petahana Emmanuel Macron telah mencalonkan diri untuk pemilihan presiden kembali. Selama masa jabatannya, Macron kerap mengalami pasang surut dukungan. Sebut saja aksi protes gerakan rompi kuning pada tahun 2018 yang dipicu oleh kebijakan ramah bisnis dan pemotongan pajak untuk orang kaya.

Macron dinilai telah mengesampingkan kampanye pilpres beberapa waktu belakangan dan lebih fokus pada urusan diplomatik, terutama soal konflik Rusia dan Ukraina.

Marine Le Pen adalah pesaing yang sama yang dihadapi Macron dalam pemilihan presiden tahun 2017. Tidak seperti Macron, Le Pen telah berkampanye selama berbulan-bulan, dengan fokus pada masalah dalam negeri seperti inflasi dan kesenjangan pendapatan.

Tetapi dia telah dikritik di Eropa karena sikapnya pada tahun 2017 yang menentang Uni Eropa (UE) dan NATO. Dia juga telah menuai kontroversi karena ingin melarang penggunaan hijab di area publik, serta menolak pengadaan daging halal khusus.

Le Pen juga telah berkampanye selama bertahun-tahun untuk secara signifikan untuk mengurangi imigrasi dari luar Eropa.

Kapan putaran kedua berlangsung?

Putaran kedua pemilihan presiden Prancis akan dihelat pada hari Minggu, 24 April 2022. Sekitar 48,7 juta pemilih terdaftar untuk pemilihan, tetapi masih harus dilihat apakah partisipasi pemilih akan meningkat untuk putaran kedua.

Macron diprediksi akan meningkatkan intensitas kampanyenya beberapa minggu mendatang sebagai upaya untuk mengamankan masa jabatan kedua.

Jajak pendapat lembaga survei Ifop memperkirakan persaingan yang ketat, dengan 51 persen untuk Macron dan 49 persen untuk Le Pen. Sementara itu, lembaga survei Elabe memproyeksikan Macron akan menerima 52 persen dan Le Pen 48 persen suara.

Reaksi apa saja yang muncul setelah putaran pertama?

Menanggapi hasil putaran pertama, Macron mendorong warga Prancis untuk memilihnya untuk kembali duduk di kursi kepresidenan. Ia mengingatkan "belum ada yang diputuskan" setelah putaran pertama pemungutan suara.

Sementara Le Pen mengatakan putaran kedua pemilihan presiden menawarkan pemilih "dua visi yang berlawanan untuk masa depan."

"Yang dipertaruhkan pada 24 April bukanlah pilihan keadaan, tetapi pilihan masyarakat, pilihan peradaban," kata Le Pen.

Sementara sejumlah kandidat lain yang tertinggal dalam pemungutan suara putaran pertama mendorong warga untuk tidak memilih Le Pen.

Kandidat sayap kiri Jean-Luc Melenchon, yang berada di tempat ketiga, mendesak pemilih untuk "tidak memberikan satu suara pun kepada Madame Le Pen."

Kandidat konservatif Valerie Pecresse juga meminta pemilih untuk mendukung Macron, dengan mengatakan jika Le Pen naik ke kursi kepresidenan akan ada "konsekuensi bencana bagi negara dan generasi mendatang."

Kandidat lainnya seperti Anne Hidalgo, Yannic Jadot, dan Fabien Roussel juga menyatakan bakal memilih Macron di putaran selanjutnya demi membendung kemenangan sayap kanan.

Respons Prancis terhadap perang di Ukraina, beban pada sistem kesehatan yang dipicu oleh dua tahun pandemi virus corona, dan masalah ekonomi dinilai menjadi isu penting yang diperhatikan pemilih. Mengatasi lonjakan harga BBM dan pangan telah menjadi inti dari sebagian besar kampanye para kandidat presiden.

rap/hp (AFP, Reuters)

(ita/ita)