300 Juta Manusia di Seluruh Dunia Mengidap Penyakit Langka

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Selasa, 01 Mar 2022 19:59 WIB
Jakarta -

Definisi penyakit langka, adalah prevalensinya tidak lebih dari lima kasus per 10.000 orang. Statistik menunjukkan, hingga sebuah diagnosis bisa ditegakkan, perlu waktu rata-rata sampai 7 tahun. "Bagi kebanyakan penderitanya, hasil diagnosis ini berarti hilangnya beban," ujar dr.med. Christine Mundlos dari Aliansi Penyakit Kronis Langka (ACHSE e.V). Terutama menjadi beban mental orang tua, jika penderitanya anak-anak.

"Sukses diagnosis, artinya pencarian berakhir dan penderita memperoleh kejelasan karena mereka mengetahui apa penyebab penderitaannya, dan juga bisa mengambil langkah selanjutnya. Relatif lebih mudah menanganinya, jika penyakit punya nama," tegas Mundlos.

Di Jerman yang tergolong negara maju, saat ini tercatat sekitar 4 juta pengidap penyakit langka ini. Banyak orang tua yang anaknya mengidap penyakit langka, harus memeriksakan anaknya dari satu dokter ke dokter lainnya. Atau melakukan pemeriksaan dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya. Sering orang tua putus asa, ketakutan dan tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan.

Riset diagnostik untuk pengembangan terapi

Hingga kini sudah dikenali sekitar 8000 penyakit langka, dan daftarnya terus memanjang. Salah satu penyakit langka Cystic fibrosis misalnya, sudah diteliti sejak beberapa dekade. Penyebab gangguan metabolisme ini, adalah kesalahan pada kromosom 7, yang disebut gen CFTR. Akibat kerusakan gen ini, di dalam sel terbentuk cairan lendir kental, yang terutama menyerang paru-paru, dan bahkan juga bisa melumpuhkan organ tubuh lainnya.

Penyakit ini tidak bisa disembuhkan, tapi hasil riset dan terapi membuat harapan hidup penderitanya rata-rata meningkat hingga 40 tahun. Akhir tahun 1930-an, harapan hidup pengidap Cystic fibrosis hanya rata-rata 6 bulan.

"Cystic fibrosis adalah penyakit langka yang dalam terapinya menunjukkan kekecualian. Karena pasiennya cukup banyak, tercipta pasar yang relevan dan banyak obat-obatan. Ini contoh positif, tapi tidak berlaku untuk banyak penyakit langka lainnya," kata Holm Graeßner dari pusat penyakit langka Rumah Sakit Universitas Tübingen.

Juga Amyotrophic Lateral Sclerosis- ALS kini makin banyak dikenal, setelah tahun 2014 digencarkan kampanye "ALS Ice Bucket Challenge" lewat media sosial. Pakar astrofisika Stephen Hawking yang meninggal pada tahun 2018 adalah pengidap penyakit genetik kelumpuhan otot terutama di saluran pernafasan itu. Pada fase lanjut, penyakit langka kelumpuhan otot itu bisa berakibat fatal.

Harapan besar pada rekayasa genetika

Namun faktanya, Hingga kini sekitar 50% pasien pengidap penyakit langka tidak mendapat diagnosis yang tepat. Dengan teknologi terbaru di bidang rekayasa genetika para peneliti ingin mengubah hal itu.

"Dengan teknologi terbaru, terbuka peluang lebih baik untuk melakukan sekuensasi, dan dengan itu analisis seluruh genom," papar Graeßner yang pakar penyakit langka itu. Diagnosis adalah langkah pertama untuk mengembangkan terapi. Dan metode terapi bukan hanya berarti obat-obatan, tapi juga fisioterapi atau ergoterapi.

Diketahui, sekitar 80% penyebab penyakit langka adalah kelainan genetika. Karena itu, kini harapan makin besar, paling tidak sebagian penyakit, bisa diterapi dengan bantuan rekayasa genetika.

"Dewasa ini kita punya kemungkinan untuk merekayasa genom, misalnya dengan gunting genetika CRISPR/Cas. Dengan itu bisa dilakukan reparasi pada genom," tambah Christine Mundlos dari Aliansi Penyakit Kronis Langka. Diharapkan suatu hari nanti, bisa dilakukan pemotongan gen yang rusak dan diganti dengan gen yang sehat.

Namun Holm Graeßner, pakar penyakit langka dari Univeritas Tübigen sedikit meredam eforia itu. "Penyakit langka yang saya tangani, saat ini statusnya murni hanya riset. Saya melihat hanya sedikit terapan medis pada fase awal riset itu," pungkas Graeßner. Sukses mengatasi penyakit langka dengan gunting genetika, diperkirakan perlu waktu hingga beberapa tahun lagi.

Anak tiri kedokteran

Juga jika rekayasa genetika suatu haris nanti sukses diterapkan, masih ada masalah lainnya yang akan muncul, ujar Mundlos. "Perjalanan hingga pasien mendapat diagnosis yang tepat, sering memakan waktu lama. Kami harapkan para dokter punya kepekaan, menyangkut penyakit langka," ujar wakil direktur Aliansi Penyakit Kronis Langka itu.

Dengan begitu, mereka akan meneruskan para pasien ke pusat spesialisasi penyakit langka. Di Jerman saat ini ada 30 pusat semacam itu. Mundlos mengakui, kerjasama dengan para dokter sejauh ini belum optimal. "Paling tidak untuk memperpendek waktu diagnosis, walau juga disadari hanya sekitar 10 persen penyakit langka yang memiliki kemungkinan terapi," pungkas pengurus ARCHE itu. (as/yf)

(ita/ita)