Ada Apa di Balik Kunjungan Mendadak 5 Anggota Parlemen AS ke Taiwan?

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Sabtu, 27 Nov 2021 10:05 WIB
Jakarta -

Lima anggota parlemen Amerika Serikat (AS) pada Jumat (26/11) pagi waktu setempat mendadak mengunjungi Presiden Taiwan Tsai Ing-wen. Kelompok bipartisan anggota parlemen dari Dewan Perwakilan Rakyat AS ini tiba di Taiwan pada Kamis (25/11) malam dan berencana untuk bertemu dengan para pemimpin senior termasuk Tsai, kata American Institute di Taiwan, kedutaan de facto negara itu. Tidak ada rincian lebih lanjut yang diberikan tentang rencana perjalanan mereka.

Kunjungan itu dilakukan di tengah kembali meningkatnya ketegangan antara Taiwan dan Cina dalam beberapa dekade terakhir. Taiwan telah memiliki pemerintahan sendiri sejak keduanya terpisah dalam perang saudara pada tahun 1949, tetapi Cina menganggap pulau itu sebagai bagian dari wilayahnya.

''Ketika berita tentang perjalanan kami bocor kemarin, kantor saya menerima pesan keras dari Kedutaan Besar Cina, yang meminta saya untuk membatalkan perjalanan ini,'' demikian Elissa Slotkin dari Partai Demokrat Michigan yang juga bagian dari delegasi ini menulis di akun Twitternya.

''Kami di Taiwan minggu ini untuk mengingatkan mitra dan sekutu kami, setelah dua tahun yang penuh pergolakan, bahwa komitmen dan tanggung jawab bersama kami untuk kawasan Indo-Pasifik yang bebas dan aman tetap lebih kuat dari sebelumnya," ujar Mark Takano, perwakilan dari Partai Demokrat California. Takano juga menambahkan bahwa hubungan AS dengan Taiwan tetap ''kokoh dan teguh karena hubungan di antara kami semakin dalam.''

Bukan kunjungan pertama

Presiden Taiwan Tsai Ing-wen yang menyambut anggota parlemen dan Direktur American Institute in Taiwan (AIT) di Kantor Kepresidenan di Taipei, mencatat kerja sama kedua belah pihak dalam urusan veteran, masalah ekonomi dan perdagangan sambil menegaskan kembali hubungan wilayah itu dengan AS.

''Taiwan akan terus meningkatkan kerja sama dengan Amerika Serikat untuk menegakkan nilai-nilai kebebasan dan demokrasi dan untuk memastikan perdamaian dan stabilitas di kawasan ini,'' ujar Tsai.

Ini adalah kunjungan ketiga anggota parlemen AS ke Taiwan pada tahun ini dan hanya selisih beberapa minggu setelah kunjungan enam anggota Kongres dari Partai Republik. Delegasi itu antara lain bertemu dengan Presiden Tsai, Sekretaris Jenderal Keamanan Nasional Wellington Koo dan Menteri Luar Negeri Joseph Wu.

Pada bulan Juni, tiga anggota Kongres terbang ke Taiwan untuk menyumbangkan vaksin COVID-19 yang waktu itu sangat dibutuhkan.

Pemerintahan Biden juga telah mengundang Taiwan ke pertemuan tingkat tinggi Summit for Democracy pada bulan depan, dan langsung mendapat teguran keras dari Cina. "Apa yang dilakukan AS membuktikan bahwa apa yang disebut demokrasi hanyalah dalih dan alat untuk mengejar tujuan geopolitik, menekan negara lain, memecah belah dunia, melayani kepentingannya sendiri dan mempertahankan hegemoninya di dunia,'' kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Cina Zhao Lijian, Rabu (26/11).

Pemilu Honduras menambah ketegangan Cina-AS tentang Taiwan

Janji pemilu yang diungkapkan oleh calon presiden terkemuka Honduras untuk merangkul Cina dan mengesampingkan Taiwan jika dia menang pemilihan umum pada Minggu (28/11) telah mendorong ketegangan diplomatik antara Beijing dan Washington. Kedua negara raksasa ini juga tengah merebutkan pengaruhnya di negara Amerika Tengah ini.

Calon presiden Honduras Xiomara Castro ynag berhaluan kiri mengatakan dalam manifesto pemilihannya bahwa dia "tentu saja" akan berusaha untuk membangun hubungan formal dengan Beijing jika dia menang. Hal ini membuat Taiwan gerah dan memperingatkan Honduras untuk tidak terpengaruh oleh janji Cina yang "wah, namun palsu".

Honduras yang berpopulasi hanya di bawah 10 juta orang adalah salah satu negara yang memelihara hubungan dengan Taiwan dan didukung AS. Namun hubungan diplomatik kedua negara telah dimulai sejak tahun 1941, sebelum pemerintah Republik Cina melarikan diri ke Taiwan setelah kalah dalam perang saudara.

Tergiur janji investasi dari Cina

Peralihan hubungan ini bisa berarti akan ada lebih banyak investasi dari Cina untuk Honduras yang merupakan negara termiskin ketiga di Amerika. Petani alpukat Honduras, Geovany Pineda, yang juga salah satu memimpin asosiasi petani, sangat berharap Cina akan memberi lebih banyak bantuan di bidang pertanian dibandingkan Taiwan.

Dia mengacu pada program bantuan dari Taiwan yang telah berjalan selama tiga tahun yang telah menggelontorkan daha hampir senilai $4 juta (nyaris setara dengan Rp57 miliar) untuk meningkatkan produksi alpukat lokal. Menurutnya, Honduras bisa mendapatkan kesepakatan yang lebih baik. "Saya mendengar bahwa negara-negara yang menjalin hubungan dengan Cina mendapat lebih banyak bantuan," ujar Geovany Pineda.

Tetapi tidak semua orang merasa yakin dengan manfaat bantuan itu, jika itu berisiko melemahkan hubungan dengan Amerika Serikat. Juan Carlos Sikaffy, kepala lobi bisnis utama di Honduras, berpendapat bahwa sekitar seperlima impor Honduras memang didatangkan dari Cina meski tanpa memiliki hubungan diplomatik formal. Namun ia berpendapat bahwa bisnis AS memiliki lebih banyak untuk ditawarkan.

ae/hp (AP, Reuters)

(ita/ita)