Cara Cerdas Saring Air Tercemar Jamin Kesehatan

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Senin, 25 Okt 2021 15:56 WIB
Jakarta -

Di tempat penampungan pengungsi Nakivale di Uganda bagian barat tinggal 130.000 orang, di antaranya Dina Nabintu. Ia bersama lima anaknya mengungsi ke sini enam tahun lalu dari negara tetangga Kongo, setelah para pemberontak membunuh suaminya.

Dina Nabintu harus mengambil air minum dari danau Nakivale yang tidak jauh dari sana. Tapi ternak juga minum di danau itu, sehingga airnya mengandung kuman-kuman.

Setiap tahunnya, 20.000 anak di bawah usia lima tahun meninggal akibat penyakit diare. Itu juga karena mereka terpaksa minum air kotor. Namun suhu tinggi mematikan bibit penyakit, oleh sebab itu Dina Nabintu selalu mendidihkan air sebelum diminum.

Dina Nabintu menjelaskan, kalau tidak saya didihkan, airnya kotor. Untuk memasak mereka menggunakan arang. Kalau tidak ada, mereka memakai kayu bakar.

Penggunaan kayu bakar rugikan lingkungan hidup

Untuk mendapatkan kayu bakar, pohon-pohon harus ditebang. Pendirian tempat hunian juga merambah hutan dalam skala besar.

Itulah yang ingin dicegah Saudah Birungi dan Henry Othieno, dengan perusahaan sosial Tusafishe. Mereka juga berusaha menyediakan air bersih lewat filter yang mereka sebar luaskan. Filter air itu harganya 1.200 dolar, dan dibiayai donatur dari AS.

Dengan filter ini sekitar 900 orang bisa mendapat air minum bersih setiap hari. Filter ini tidak bisa jadi solusi bagi semua masalah air di sini, tapi setidaknya bisa jadi awalnya.

Henry Othieno menjelaskan lewat sebuah peragaan, bagaimana mereka pertama-tama mengambil air danau yang kotor, kemudian membersihkannya lewat filter sehingga menjadi jernih dan layak diminum, bahkan tanpa harus dimasak lagi.

Air bersih hak asasi manusia

Saudah Birungi dari Tusafishe punya saudara yang meninggal akibat Cholera karena mengonsumsi air yang tercemar. Itu jadi dorongan baginya untuk giat mengusahakan penyediaan air bersih, yang sebenarnya hak asasi manusia.

Oleh sebab itu Tusafishe berjuang di kawasan, di mana negara tidak memperjuangkan hak asasi. Juga, dengan penemuan yang sangat sederhana dan sangat praktis. Ini adalah filter air untuk keperluan sehari-hari.

Filter yang digunakan Tusafishe menggunakan pasir granit untuk membersihkan air. Sistemnya terdiri dari dua ember. Di ember sebelah atas terdapat granit, dan dasarnya memiliki lubang-lubang kecil. Ember yang di bawah menampung air yang disaring.

Jadi orang menyiram air ke ember bagian atas, dan penyaringan dilakukan oleh granit. Dalam beberapa hari saja bisa dilihat, sejumlah mikroorganisme sudah bermunculan di dalam granit. Mereka membersihkan air dengan cara alamiah.

Henry Othieno menjelaskan, hanya air dan udara yang bisa melewati saringan granit. Dan hanya air yang bersih mengalir ke ember bagian bawah. Jika tersumbat, orang bisa mengeluarkan granit dan mencucinya, kemudian menggunakannya lagi.

Tusafishe latih perempuan untuk buat filter sendiri

Setiap kali mereka memasang filter, mereka juga melatih kaum perempuan di komunitas itu untuk menjamin mereka punya akses ke air minum di rumah. Mereka juga bisa melatih orang lain atau membuat sendiri filter air untuk dijual, agar bisa memperoleh pendapatan tambahan.

Dengan menggunakan filter, Dina Nabintu bisa menghemat uang yang biasanya digunakan untuk membeli arang dan kayu bakar, sekaligus melindungi lingkungan. Selain itu, keuntungannya masih banyak lagi.

Filter juga ditempatkan di sekolah-sekolah

Tusafishe juga sudah melengkapi 31 sekolah dengan filter air yang menggunakan granit. Ratusan murid kini punya air minum bersih, dan jarang absen dari pelajaran sekolah.

"Air ini sehat. Tidak ada kandungan yang berbahaya. Air ini sangat membantu saya, karena saya jadi tidak menderita tifus lagi. Dulu waktu sakit tifus, saya tidak bisa bersekolah," begitu cerita Cathy Namirembe, murid di sebuah sekolah dekat ibu kota Kampala.

Filter di sekolah itu jadi kebanggaan sekolah. Harganya 600 Dolar, tapi karena tiap keluarga memberikan sekitar satu dolar sokongan, filter bisa mereka beli.

Sekolah ini tetap menggunakan kayu untuk memasak, tapi tidak lagi untuk memasak air minum. Ini baik bagi kesehatan, lingkungan hidup dan anggaran rumah tangga.

Joseph Busuulwa, kepala St. Bruno Sserunkuma Secondary School mengungkap, "Dulu kami harus membeli empat truk kayu bakar. Sekarang mereka bisa menabung sedikit, jadi hanya perlu tiga truk."

1.500 kg CO2 dihemat setiap harinya

Seberapa banyak pohon yang berhasil dilindungi dari upaya Tusafishe? Kemudian seberapa banyak karbondioksida yang berhasil dihemat?

Henry Othieno mengungkap, dari setiap filter yang mereka tempatkan di sekolah, setiap hari mereka menghemat 1.500 kg CO2, yang tidak dilepas ke atmosfir. "Kalau dilihat dalam setahun, kami menghemat sedikitnya 240 ton CO2 dengan setiap filternya."

Selain itu, paket dari perusahaan Tusafishe juga mencakup penanaman sejumlah pohon moringa bersama para murid sekolah, setiap kali sebuah filter air ditempatkan. Tahun lalu ditanam sekitar 1.000 pohon.

Pohon-pohon Moringa adalah pelahap sejati CO2. Menurut sebuah studi dari Jepang, pohon ini bisa menyerap 20 kali lebih banyak CO2 dibanding pohon jenis lainnya.

Mematri ide perlindungan lingkungan

Tapi bagi Tusafishe, yang penting bukan hanya reboisasi. Henry Othieno menekankan, "Kita perlu mematri ide perlindungan lingkungan dalam pikiran orang, selama mereka masih muda." Di Afrika dan Uganda ada tradisi menebang pohon untuk memurnikan air. Tusafishe ingin mengganti tradisi itu sepenuhnya.

Sementara itu, di tempat penampungan pengungsi, berkat filter air dengan pasir granit yang dibuatnya sendiri, Dina Nabintu tidak perlu masak air lagi. Anak-anaknya kini punya peluang untuk tetap sehat.

Memang danau Naikvale masih akan tetap tercemar. Tapi sekarang semakin banyak orang di tempat penampungan pengungsi tahu, ada tempat untuk mendapatkan air bersih. (ml/ts)

(ita/ita)