Bagaimana Sengketa Air Picu Bencana Kekeringan di Sungai Eufrat?

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Jumat, 24 Sep 2021 17:17 WIB
Jakarta -

Saban musim semi, air Sungai Eufrat biasanya melimpah hingga ke kebun zaitun milik Khaled al-Khamees, warga desa Rumaylah di Provinsi Aleppo, Suriah. Tapi hari-hari ini, sungai kuno itu hanya meliuk di kejauhan. Pohon-pohonnya meranggas. Air minum kian langka, keluhnya.

"Seakan kami hidup di gurun pasir," kata petani berusia 50 tahun itu di atas kebunnya di bantaran sungai. "Kami berpikir untuk pergi karena tidak ada lagi air untuk minum atau untuk mengairi pohon-pohon ini."

Organisasi bantuan dan kelompok lingkungan sudah mewanti-wanti petaka kelangkaan air yang menghantui timur laut Suriah, di mana aliran air menyusut oleh kerusakan infrastruktur akibat perang berkepanjangan.

Level air di sejumlah bendungan hidroelektrik yang berada di level terendah sejak Januari 2021, mengancam pasokan air dan listrik untuk lima juta penduduk, di tengah pandemi corona dan krisis ekonomi.

Ketika musim kering mendekap pesisir Laut Tengah, tidak sedikit penduduk di wilayah etnis Kurdi itu yang menuduh Turki mempersenjatai air sungai demi menumpas separatisme di wilayah tenggara. Ankara menepis tudingan tersebut.

Di luar desa Rumayleh, pipa-pipa irigasi dibiarkan tergeletak mengumpulkan debu. Level air Sungai Eufrat yang sudah sedemikian rendah, membuat ongkos operasi pompa air melonjak tinggi. Warga akhirnya berhenti memompa.

Sebaliknya, mereka kini memindahkan kebun agar mendekati bibir sungai. Khamees mengaku belum pernah melihat level air serendah itu. "Para perempuan harus berjalan sekitar tujuh kilometer untuk mendapat seember air untuk air minum anak-anak," kata ayah 12 anak itu.

Level air dekati 'zona mati'

Dirayakan sebagai sungai yang mengalir melalui Surga Eden dalam kisah Alkitab, Sungai Eufrat bergerak sejauh 2.800 kilometer dari Turki, melalui Suriah sebelum bermuara di Irak.

Di sepanjang pesisirnya, bertebaran kebun-kebun zaitun, gandum atau kacang-kacangan yang menghidupi warga di kedua negara hilir untuk melalui masa perang.

Penyusutan aliran air kini memaksa Bendungan Tishrin yang menampung air Sungai Eufrat dari Turki untuk mengurangi produksi. Level air, menurut kepala operator bendungan, Hammoud al-Hadiyyeen, sudah sedemikian "berbahaya," situasinya mendekati "bencana kemanusiaan," tukasnya.

Sejak Januari 2021, level air menyusut sebanyak lima meter, dan kini hanya berkisar beberapa sentimeter di atas "zona mati," di mana turbin bendungan akan terhenti secara otomatis akibat kekurangan air.

Kapasitas bendungan hidroelektrik di timur laut Suriah sejak tahun lalu dilaporkan anjlok sebanyak 70 persen, kata Kepala Otoritas Energi, Welat Darwish.

Sepertiga stasiun pompa yang bertebaran di sepanjang bantaran sungai kini juga mulai kekurangan air, atau bahkan mengering sama sekali, keluh organisasi bantuan kemanusiaan.

Konflik air lintas demarkasi

Masalah terbesar bagi Suriah dan Irak adalah sumber air di luar negeri. Hampir 90 persen air yang mengairi Sungai Eufrat berasal dari Turki.

Untuk menjamin pasokan yang adil, pada 1987 Turki sepakat mengalirkan sedikitnya 500 kubik meter air per detik untuk Suriah. Tapi jumlahnya menyusut menjadi 200 kubik meter/detik dalam beberapa bulan terakhir.

Penyebabnya boleh jadi berkaitan dengan politik.

Di Suriah, sungai Eufrat mengalir melalui wilayah Kurdi, yang acap bersitegang dengan Turki lantaran geliat terorisme Partai Buruh Kurdistan (PKK) yang ingin merdeka. Sejak belum lama ini, Ankara dituduh mempersenjatai air, ketika volume yang mengalir melalui dam-dam di Suriah berkurang drastis

Juni silam, pemerintah di Damaskus kembali mendesak Turki agar menambah aliran air Eufrat. Namun tuduhan itu dibantah seorang diplomat Turki kepada AFP. Menurutnya Ankara "tidak pernah memerintahkan pengurangan jumlah aliran air untuk alasan politik atau hal lain."

"Wilayah kami mengalami salah satu musim kering paling parah karena perubahan iklim," kata dia. Dan curah hujan di selatan turki "berada di level terendah dalam 30 tahun terakhir," imbuhnya.

Namun menurut analis keamanan, Nicholas Heras, Turki acap "menggunakan pembangkit Alouk," untuk "mempersenjatai air." Pada 2019 silam PBB melaporkan, suplai air dari bendungan tersebut mengalami 24 gangguan sejak 2019, dan berdampak terhadap 460.000 penduduk.

Bagi analis Suriah, Fabrice Balanche, perubahan iklim dan kekeringan digunakan oleh Ankara untuk mewujudkan sasaran jangka panjangnya, yakni "mencekik timur laut Suriah secara ekonomi," kata dia.

"Di masa-masa kering, Turki mementingkan diri sendiri dan membiarkan wilayah Kurdi kekurangan air, meski mereka paham konsekuensinya."

rzn/vlz (AFP)

(ita/ita)