Negara Donor Akan Bantu US$ 1 M untuk Afghanistan Dibayangi Krisis Kemanusiaan

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Selasa, 14 Sep 2021 12:13 WIB
Jakarta -

PBB menjadi tuan rumah konferensi donor di Jenewa pada hari Senin (13/09) dalam upaya untuk mengumpulkan dana bantuan sebesar US$606 juta (sekitar Rp8,48 triliun) untuk memenuhi kebutuhan mendesak Afganistan.

Pada Senin (13/09) sore, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengumumkan bahwa negara donor telah menjanjikan dana bantuan lebih dari US$1 miliar (Rp14 triliun).

"Konferensi ini sepenuhnya memenuhi harapan saya sehubungan dengan solidaritas dengan orang-orang di Afghanistan," kata Guterres.

Sejak runtuhnya pemerintahan Afganistan yang didukung Barat, dan pengambilalihan Taliban pada bulan lalu, Afganistan berada di ambang krisis kemanusiaan.

Banyak negara yang sebelumnya bersedia memberikan bantuan telah menyatakan keraguan yang semakin besar karena kekhawatiran tentang bagaimana dana akan digunakan oleh Taliban yang kini berkuasa.

Sebanyak 40 menteri negara-negara donor, termasuk Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas, Kepala Komite Internasional Palang Merah Peter Maurer, serta puluhan perwakilan pemerintah hadir baik secara langsung maupun virtual.

Maas mengatakan bahwa bantuan terhadap orang-orang di Afganistan bergantung kepada kesediaan komunitas internasional. Namun, lembaga-lembaga bantuan membutuhkan "akses yang tepat" dan para pekerjanya harus dapat melakukan pekerjaan mereka "tanpa takut akan tirani intimidasi atau pembatasan oleh Taliban."

Afghanistan 'membutuhkan penyelamat'

Guterres dalam sambutannya mengatakan bahwa "rakyat Afganistan membutuhkan penyelamat" di ''masa-masa yang paling berbahaya."

"Rakyat Afganistan menghadapi kehancuran seluruh negara - sekaligus," katanya.

PBB mengatakan dana bantuan kemanusiaan tersebut akan digunakan untuk meyokong layanan medis, serta pasokan air dan sanitasi bagi jutaan rakyat Afganistan. Selain itu, pendanaan akan digunakan untuk mendukung perempuan dan anak-anak serta mendirikan proyek-proyek pendidikan.

Pendanaan juga akan dialokasikan untuk tempat penampungan darurat karena sekitar 3,5 juta warga Afganistan mengungsi, juga untuk bantuan pangan.

Krisis pangan membayangi

Sebuah survei terhadap 1.600 warga Afganistan yang dilakukan Program Pangan Dunia (WFP) pada bulan ini menunjukkan 93% dari mereka yang disurvei kekurangan makanan. Hal ini dikarenakan sebagian besar dari mereka tidak bisa mendapatkan akses uang tunai untuk membayar barang-barang.

"Bank tutup. Bank sentral tidak mengeluarkan likuiditas ke bank swasta," Stefan Recker, Direktur Caritas di Afganistan, mengatakan kepada DW. "Jadi lembaga bantuan yang ingin memberikan bantuan tidak bisa bekerja karena kekurangan likuiditas."

Kepada DW, Direktur WFP untuk Afganistan, Mary-Ellen McGroarty, mengatakan bahwa kondisi pangan di negara itu sangat buruk, bahkan sebelum pengambilalihan Taliban. Kekeringan dan pandemi virus corona menyebabkan 14 juta orang mengalami kelaparan parah.

"Sangat penting untuk upaya kemanusiaan bahwa pada saat yang paling membutuhkan, masyarakat internasional berdiri di samping perempuan dan anak-anak dan laki-laki Afganistan, yang hidupnya telah dijungkirbalikkan bukan karena kesalahan mereka sendiri," katanya.

Jerman dan AS janjkan bantuan tambahan

Menlu Jerman Heiko Maas mengatakan pada hari Senin (13/09) bahwa Jerman telah menambah bantuan kemanusiaan untuk Afganistan dan kawasan sekitar sebesar €100 juta (Rp1,7 triliun). "Kami berencana untuk memberikan tambahan €500 (Rp8,5 triliun) untuk mendukung Afganistan dan negara-negara tetangganya," kata Maas kepada wartawan di sela-sela konferensi.

Duta Besar AS untuk PBB, Linda Thomas-Greenfield, mengatakan pada konferensi itu bahwa Washington juga akan memberikan hampir US$64 juta (sekitar Rp896 miliar) dana tambahan kemanusiaan untuk Afganistan.

"Mari kita berkomitmen hari ini untuk memenuhi seruan mendesak ini untuk dukungan keuangan, berkomitmen untuk mendukung pekerja kemanusiaan saat mereka melakukan pekerjaan mereka yang sangat penting, dan untuk meningkatkan aksi kemanusiaan di Afganistan sehingga kita dapat menyelamatkan nyawa warga Afganistan yang membutuhkan," katanya. Thomas-Greenfield menambahkan bahwa "lembaga-lembaga bantuan kemanusiaan tidak dapat melakukan pekerjaan mereka jika Taliban tidak menjunjung ... prinsip-prinsip kemanusiaan."

Situasi di Afganistan 'berpacu dengan waktu'

Sebelumnya pada Minggu (12/09), Filippo Grandi, Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi, memperingatkan bahwa "kebangkitan pertempuran, pelanggaran hak asasi manusia atau runtuhnya ekonomi dan layanan dasar sosial" dapat menyebabkan lebih banyak rakyat Afganistan melarikan diri ke luar negeri.

Grandi tiba di Kabul pada Senin (13/09) untuk melihat situasi di negara itu. Ia disambut oleh Khalil-ur-Rahman Haqqani, penjabat menteri pengungsi dan repatriasi Taliban dan pemimpin penting jaringan Haqqani yang masuk daftar buronan AS dengan nilai hadiah US$5 juta (Rp70 miliar).

Anthea Webb, wakil direktur regional WFP, menggambarkan situasi di sana "berpacu dengan waktu untuk memberikan bantuan yang menyelamatkan jiwa terhadap orang-orang Afganistan yang paling membutuhkan."

Badan Kesehatan Dunia (WHO) juga sedang mencari dana untuk mencegah tutupnya ratusan pusat kesehatan di Afganistan, setelah donor mereka mundur karena pengambilalihan Taliban.

rap/pkp (dpa, Reuters)

(ita/ita)