Studi Terbaru Ungkap Sirkulasi Air Hangat di Samudera Atlantik Nyaris Kolaps

ADVERTISEMENT

Studi Terbaru Ungkap Sirkulasi Air Hangat di Samudera Atlantik Nyaris Kolaps

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Sabtu, 07 Agu 2021 16:22 WIB
Jakarta -

Arus air hangat di Samudera Atlantik yang selama ini menyeimbangkan iklim Bumi kian melemah dan kini terancam kolaps. Kesimpulan itu merupakan hasil sebuah studi yang dirilis Kamis (05/08).

Para ilmuwan mengaku mendapati arus yang "hampir kehilangan keseimbangannya dalam satu dekade terakhir." Sirkulasi air Samudera Atlantik mengangkut air hangat dari kawasan tropis di selatan menuju kutub utara. Sebelumnya sirkulasi itu diketahui sudah berada di titik paling lambat dalam 1.600 tahun. Namun, kini ilmuwan mengkhawatirkan kepunahan permanen.

Kematian Arus Teluk bisa memicu dampak mematikan di seluruh dunia, antara lain mengacaukan pola hujan yang menghidupi miliaran manusia di Asia Selatan, Amerika Selatan, dan Afrika Barat. Tanpa arus hangat itu, badai dan topan diprediksi akan menjamak dan suhu rata-rata di Eropa akan anjlok. Selain itu juga mengancam keasrian hutan hujan atau keutuhan benua kutub.

Ilmuwan saat ini belum mampu memprediksi kapan Arus Teluk akan kolaps. Niklas Boers dari Institut Studi Dampak Perubahan Iklim di Potsdam, Jerman, mengatakan kematian arus bisa terjadi dalam satu atau dua dekade, atau beberapa abad ke depan.

"Tanda-tanda destabilisasi yang sangat jelas terlihat adalah sesuatu yang tidak kami perkirakan dan membuat saya takut," kata dia. Terhentinya sirkulasi air hangat di Samudera Atlantik adalah "sesuatu yang benar-benar tidak bisa kita biarkan terjadi."

Perubahan mendadak pada sirkulasi air

Namun, Boers juga menambahkan, studinya tidak menyimpulkan apakah fenomena ini hanya mengindikasikan perubahan sirkulasi atau rusaknya keseimbangan alami. "Perbedaannya sangat besar," kata dia seperti dilansir DPA.

Arus Teluk digerakkan oleh air asin yang mendingin dan sebabnya mengalir ke dasar laut ketika bergerak ke selatan. Namun, proses ini diperlambat oleh mencairnya gletser-gletser di Greenland, melebihi perkiraan ilmuwan selama ini.

Dalam penelitian yang dipublikasikan di jurnal ilmiah, Nature Climate Change, Boers dan timnya menganalisa sampel es dan data tambahan dari 100.000 tahun terakhir. Mereka menemukan Arus Teluk hanya muncul dalam dua kondisi, arus berkecepatan tinggi yang tercatat stabil dalam seratusan tahun terakhir, dan kondisi arus berkecepatan rendah.

Data yang dikumpulkan menunjukkan peningkatan pada suhu rata-rata Bumi bisa memaksa kecepatan Arus Teluk berubah secara mendadak antara cepat dan lambat dalam tempo satu hingga lima dekade.

Dalam keterangan persnya, tim di Potsdam mengaku tidak mengetahui secara pasti jumlah emisi CO2 yang bisa memicu keruntuhan Arus Teluk. Boers mengatakan "satu-satunya yang bisa dilakukan adalah mengurangi emisi sebanyak mungkin. Potensi terjadinya peristiwa yang berdampak luas ini semakin membesar dengan setiap gram CO2 yang kita lepaskan ke atmosfer Bumi."

rzn/hp (dpa)

Simak video '2020 Tahun Terpanas, Suhu Global Naik 1,7 Derajat Celcius':

[Gambas:Video 20detik]



(ita/ita)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT