Usai Pecahkan Rekor Suhu Terpanas, Desa di Kanada Hangus Dilalap Api

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Sabtu, 03 Jul 2021 11:51 WIB
Ottawa -

Setelah didera gelombang panas mematikan selama tiga hari berturut-turut, warga Lytton di Kanada sebenarnya berharap situasi lekas membaik. Suhu udara yang sempat mencatat rekor nasional dengan 49,6 derajat Celsius, perlahan menurun pada Rabu (30/6) silam.

Di hari yang sama, sekitar 15 kilometer di selatan desa, Jean McKay mengaku mulai mencium bau kebakaran, ketika mendapat perintah evakuasi. Di luar dia mendapati asap hitam membumbung tinggi dari desa.

Api menjalar sedemikian cepat, sebagian besar bangunan mulai terbakar hanya dalam tempo beberapa menit.

"Sebanyak 90 persen bangunan di dalam desa hangus terbakar, termasuk kantor desa," kata seorang anggota legislatif lokal, Brad Vis, seperti dikutip AFP.

Kebakaran hutan dan lahan di barat Kanada dan California, AS, itu memaksa ribuan orang mengungsi.

Suhu yang ekstrem, ditambah kekeringan, memicu bencana kebakaran di kedua negara. Provinsi British Columbia di Kanada misalnya mendeteksi 62 titik api baru dalam 24 jam terakhir.

"Saya sekali lagi menegaskan betapa ekstremnya risiko kebakaran hutan saat ini," kata kepala pemerintahan provinsi, John Horgan.

Api diprediksi disebabkan oleh sambaran petir. Suhu udara yang terlampau tinggi dikabarkan memicu badai di sejumlah lokasi. Kebakaran menjalar selama sepekan sebelum mengamuk di Desa Lytton, klaim media-media lokal.

"Saya sedang duduk dan berpikir apa yang harus saya bawa," kata McKay, sebelum menyadari dia harus meninggalkan semua harta bendanya. "Rasanya sulit, sangat sulit. Meninggalkan rumah yang kami bangun dan huni sejak bertahun-tahun adalah hal yang sulit."

Kubah panas di langit Pasifik

Cuaca ekstrem di barat Kanada dan AS diklaim dipicu oleh sebuah fenomena langka bernama kubah panas, di mana kondisi atmosfer bertekanan tinggi memblokir hawa panas yang terangkat ke atas, dan memampatkannya kembali ke permukaan Bumi.

Biasanya angin mampu memindahkan kubah panas ke wilayah lain. Tapi ketinggian kubah di barat Kanada yang mencapai atmosfer Bumi membuatnya cenderung menetap.

Meski sulit mencari penyebab utama kemunculan kubah panas di langit Pasifik, pakar iklim meyakini kondisi ini dipicu oleh fenomena meningkatnya rata-rata temperatur Bumi.

Secara statistik, gelombang panas ekstrem di barat Kanada dan AS muncul sekali dalam 1.000 tahun dalam kondisi iklim yang normal. Tapi iklim Bumi yang tidak lagi normal mengindikasikan intensitas tinggi cuaca ekstrem yang akan semakin sering terjadi dalam beberapa tahun ke depan.

"Durasi gelombang panas kali ini mengkhawatirkan," tulis LSM lingkungan, Environment Canada, dalam rilisnya, Kamis (1/7) pagi. Terutama tingginya temperatur udara "pada malam hari" memperparah situasi.

Hal serupa dialami warga di utara Kalifornia, AS. Saat ini sekitar 1.000 petugas pemadan kebakaran masih berusaha mengendalikan tiga kebakaran besar. Salah satunya mencakup area seluas 80 kilometer persegi, yang hingga kini baru seperempatnya dipadamkan.

Menurut perkiraan, gelombang panas dari Samudera Pasifik akan bergerak ke wilayah timur Amerika Utara dalam beberapa hari ke depan.

rzn/vlz (afp,ap)

(nvc/nvc)