Ribut dengan Spanyol, Maroko Gunakan Pengungsi ke Ceuta untuk Unjuk Gigi

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Kamis, 20 Mei 2021 09:47 WIB
Jakarta -

Menteri Luar Negeri Spanyol Arancha Gonzalez Lay mengatakan, telah memanggil Duta Besar Maroko di Madrid untuk mengungkapkan "ketidaksenangan" pemerintahannya setelah ribuan pengungsi menembus perbatasan dan masuk ke Ceuta, daerah kantong di Afrika Utara yang berada di bawah kedaulatan Spanyol.

"Saya mengingatkan (duta besar) bahwa pengawasan perbatasan telah dan harus terus menjadi tanggung jawab bersama Spanyol dan Maroko," kata Arancha Gonzalez Laya kepada wartawan hari Selasa (18/5). Tidak lama setelah itu, Kementerian Luar negeri Maroko mengatakan telah menarik pulang duta besarnya dari Spanyol.

Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez terbang ke Ceuta untuk meninjau sendiri situasi di lokasi. "Kami akan memulihkan ketertiban di kota dan di sepanjang perbatasan kami secepat mungkin," kata Pedro Sanchez di Ceuta sebelum berangkat ke Melilla, daerah kantong Spanyol lainnya pantai utara Afrika.

"Kedatangan migran ilegal yang tiba-tiba ini menimbulkan krisis serius bagi Spanyol dan Eropa," kata Pedro Sanchez, yang membatalkan rencana kunjungan ke Paris untuk menghadiri pertemuan puncak Afrika.

Komisaris Uni Eropa Ylva Johansson mendesak Maroko untuk segera bertindak mencegah peningkatan kedatangan pengungsi yang "mengkhawatirkan". Ketua Dewan Eropa Charles Michel menyuarakan solidaritas dengan Madrid lewat pesanTwitter "Perbatasan Spanyol adalah perbatasan Uni Eropa", tulisnya.

Maroko "buka perbatasan untuk pengungsi"

Ceuta dan Melilla adalah satu-satunya perbatasan darat antara Afrika dan Uni Eropa, menjadikannya salah satu tujuan utama bagi para pengungsi dari Afrika untuk mencapai Eropa. Laporan media memperlihatkan para migran mencapai Ceuta dari pantai Maroko dengan berenang atau berjalan kaki beberapa kilometer saat air surut. Yang lain menggunakan perahu karet atau ban renang.

Kementerian dalam negeri Spanyol mengatakan, hampir 8.000 pengungsi tiba di Ceuta sejak Senin pagi (17/5) , tetapi setengah dari jumlah itu telah dikirim kembali ke Maroko. Madrid mengatakan akan mengirim 50 petugas polisi tambahan untuk memperkuat 200 petugas yang sudah dikerahkan sampai hari Selasa, sementara 150 lainnya bersiaga, tambah kementerian dalam negeri Spanyol.

Sebagian besar pengungsi hari Senin (17/5) menyeberang ke Ceuta tanpa hambatan oleh pasukan keamanan Maroko. Namun pada Selasa pagi, Maroko mengerahkan lebih banyak penjaga perbatasan. "Situasinya jauh lebih tenang. Pihak berwenang Maroko juga menghalangi warga negara mereka untuk menyusuri pantai," kata seorang sumber di delegasi pemerintah Spanyol di Ceuta kepada kantor berita AFP.

Krisis lama status Sahara Barat

Krisis itu terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Maroko dan Spanyol. Maroko sebelumnya melayangkan protes keras karena Spanyol telah memberikan perawatan medis bagi pemimpin gerakan kemerdekaan Sahara Barat, Brahim Ghali yang menderita sakit parah terinfeksi Covid-19.

Pemimpin Front Polisario Brahim Ghali terbang ke Spanyol utara pada pertengahan April, untuk mendapat perawatan di rumah sakit. Kelompok Front Polisario sejak lama berjuang bagi kemerdekaan Sahara Barat, daerah bekas jajahan Spanyol yang sebagian besar berada di bawah kendali Maroko. Maroko telah lama ingin agar Spanyol mengakui kedaulatan mereka atas Sahara Barat, seperti yang dilakukan Amerika Serikat di bawah pemerintahan Donald Trump.

Dengan mengizinkan gelombang pengungsi ke Ceuta, Maroko ingin mengirimkan "pesan yang kuat", kata Isaias Barrenada, profesor hubungan internasional di Universitas Complutense Madrid. "Pesannya adalah: tanpa kerjasama Maroko, Spanyol akan sulit mengendalikan arus pengungsi. Jadi Spanyol harus mendengarkan dulu tuntutan Maroko'," katanya kepada AFP.

hp/as (afp, rtr)

Lihat Video: Cegah Gelombang Migran Maroko, Tentara Spanyol Dikerahkan ke Perbatasan

[Gambas:Video 20detik]



(ita/ita)