Kongres AS Akhirnya Sahkan RUU untuk Perangi Kejahatan Rasial Anti-Asia

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Rabu, 19 Mei 2021 17:09 WIB
Jakarta -

Kongres Amerika Serikat (AS) pada Selasa (18/05) akhirnya menyetujui Rancangan (RUU) baru yang bertujuan untuk melindungi warga Asia-Amerika dari kekerasan rasial.

Rancangan Undang-undang (RUU) itu sebelumnya diusulkan sebagai bentuk kecaman bipartisan atas meningkatnya kekerasan dan serangan terhadap orang Asia-Amerika dan Kepulauan Pasifik (AAPI) selama pandemi virus corona.

Ketua DPR AS Nancy Pelosi mengatakan, sangat penting bagi mereka untuk mengirim pesan terpadu tentang penguatan pertahanan negara terhadap kekerasan anti-AAPI.

"Secara bersama-sama, langkah ini akan membuat perbedaan yang signifikan dalam menangani kejahatan rasial di Amerika, tidak hanya selama pandemi, tapi juga untuk tahun-tahun berikutnya," kata Pelosi.

Apa isi RUU tersebut?

RUU baru yang dikenal dengan nama UU Kejahatan Kebencian COVID-19 itu bertujuan untuk mempercepat tinjauan kejahatan rasial terhadap AAPI di Departemen Kehakiman. RUU itu juga memberikan wewenang dan pedoman kepada pemerintah negara bagian untuk membantu memerangi kejahatan akibat kebencian dan menyebarkan kesadaran publik tentang masalah tersebut.

DPR AS mengesahkan RUU ini dengan suara bipartisan 364 berbanding 62. RUU tersebut juga sebelumnya telah disetujui oleh Senat AS pada bulan April lalu dengan dukungan hampir penuh.

Juru bicara Gedung Putih Jen Psaki merespons hal ini, menuliskan di Twitter,Presiden AS Joe Biden "diperkirakan akan menandatangani RUU penting itu menjadi UU di Gedung Putih pada akhir pekan ini."

Kekerasan anti-AAPI meningkat di AS

"Warga Asia-Amerika di AS telah lama berteriak meminta pertolongan, DPR dan Senat AS serta Presiden Biden telah mendengar dengan jelas permohonan kita," kata salah satu anggota DPR dari Partai Demokrat, Grace Meng. Meng sebelumnya telah membantu memimpin upaya untuk mengesahkan RUU itu di DPR AS.

Anggota DPR lain dari Partai Demokrat, Judy Chu mengatakan, sangat menyakitkan bagi banyak orang ketika "membuka surat kabar setiap hari dan melihat seorang warga Asia-Amerika diserang, bahkan dibunuh."

Pada bulan Februari lalu, seorang pria berusia 84 tahun dilaporkan meninggal dunia setelah didorong ke tanah dekat rumahnya di San Fransisco. Sementara di bulan Maret, enam perempuan Asia tewas dalam aksi penembakan yang menargetkan pekerja di panti pijat di Georgia.

Ketua DPR AS Nancy Pelosi mengatakan, "serangan-serangan ini sangat memalukan mengingat banyak aksi heroik yang justru dilakukan oleh warga dari komunitas AAPI selama pandemi".

Pelosi mengungkapkan, sejumlah besar warga Amerika keturunan Asia terlibat dalam penanganan pandemi sebagai petugas tanggap darurat dan penyedia perawatan kesehatan di AS.

Ketika kasus COVID-19 mulai merebak di AS, serangan terhadap orang Asia-Amerika juga ikut meningkat. Sebelumnya, Mantan Presidan AS Donald Trump berulang kali menyebut bahwa virus corona yang pertama kali merebak di Wuhan, Cina itu sebagai "Virus Cina".

gtp/as (AFP, AP)

(ita/ita)