Gelombang Pertama Corona Seret Kamboja ke 'Jurang Kematian'

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Jumat, 16 Apr 2021 08:10 WIB
Jakarta -

Wabah Covid-19 pertama kali dilaporkan di Kamboja pada Februari silam, ketika kasus penularan meruak dari komunitas ekspatriat Cina. Kini otoritas memperingatkan, rumah-rumah sakit tidak lagi mampu menampung pasien Covid-19 baru dan terpaksa menggunakan sekolah atau aula gedung pernikahan untuk merawat pasien.

Itu sebabnya PM Hun Sen mengancam akan memenjarakan setiap orang yang melanggar aturan karantina.

Lockdown juga diberlakukan di kota satelit, Ta Khmau, selama dua pekan. Akibatnya mobilitas sekitar dua juta orang yang setiap hari lalu lalang ke Phnom Penh berhenti total.

"Tolong lah rakyatku, mari bersama-sama akhiri wabah berbahaya ini," imbau Hun Sen dalam sebuah pidato di stasiun televisi nasional, Rabu (14/4) malam.

"Kita sudah berada di jurang kematian," imbuhnya. "Jika kita tidak bahu membahu, kita akan menghadapi gelombang kematian yang nyata."

Saat ini angka infeksi di Kamboja dilaporkan telah melampaui 4.800 kasus. Pada Rabu, PM Hun Sen mengatakan pihaknya mendeteksi 300 kasus baru corona.

Menurut aturan lockdown, penduduk Phnom Penh dan Ta Khmau dilarang meninggalkan rumahnya selama dua pekan, kecuali untuk ke rumah sakit atau membeli obat-obatan. Sementara untuk keperluan belanja, pemerintah hanya mengizinkan dua anggota keluarga untuk keluar rumah.

Gelombang pertama dengan varian mutasi

Aparat kepolisian pada Kamis (15/4) pagi terlihat berjaga-jaga di sejumlah titik, dan mendirikan pos pemeriksaan di pintu masuk antara kedua kota. Warga diwajibkan menunjukkan kartu tanda pengenal sebelum diizinkan lewat.

Blokade kepolisian dilaporkan juga didirikan di Lapangan Norodom, di ujung koridor transportasi yang menghubungkan ibu kota dan Ta Khmau.

Wabah yang menyergap Kamboja memicu peringatan dari Badan Kesehatan Dunia, betapa negeri Khmer itu terancam menghadapi "tragedi nasional."

Meski angka infeksi tergolong rendah, infrastruktur kesehatan di Kamboja kewalahan menghadapi lonjakan pasien. Terlebih, virus corona yang menyebar di negeri jiran itu adalah varian mutasi B.1.1.7 yang berasal dari Inggris. Virus mutasi ini tercatat lebih mudah menular dibandingkan varian asli SARS-CoV-2.

Kementerian Kesehatan mengabarkan, kasus pertama varian B.1.1.7 dibawa dua orang dari India dan seseorang dari Cina pada 15 Februari lalu. Kemunculan i virus corona mutasi asal Inggris ini sekaligus menandakan munculnya gelombang pertama kasus infeksi corona di Kamboja. Sebelumnya, pemerintah hanya melaporkan kemunculan klaster kecil pada November silam.

Menurut Prediksi Distribusi Covax tertanggal 3 Februari lalu, WHO akan mendistribusikan sebanyak 1,2 juta dosis vaksin ke Kamboja pada paruh pertama 2021. Di antaranya, sebanyak setengah juta dosis akan tiba pada kuartal pertama, sementara sisanya pada kuartal kedua.

Namun begitu pengiriman vaksin dan program vaksinasinya akan sangat bergantung pada kesiapan infrastruktur kesehatan di negara tujuan.

rzn/as (afp, khmertimes)

Lihat Video: Kamboja Laporkan Kematian Pertama Akibat COVID-19

[Gambas:Video 20detik]



(ita/ita)