41 Tahun Dibui di India Tanpa Proses Sidang, Pria Nepal Akhirnya Bebas

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Selasa, 13 Apr 2021 12:07 WIB
New Delhi -

Durga Prasad Timsina sebelumnya telah kehilangan harapan untuk bisa bertemu ibunya atau kembali ke desanya di Nepal. Sudah 41 tahun lamanya ia dipenjara di India, menunggu persidangan atas tuduhan pembunuhan.

Dia dipindahkan dari satu penjara ke penjara lain di Bengal Barat dan berakhir di sebuah pusat pemasyarakatan Kolkata, di sana tidak ada yang mengerti bahasa Nepal.

Timsina sama sekali tidak bisa berbahasa Bengali dan hampir tidak bisa berbahasa Hindi: ini adalah dua bahasa penting yang harus dikuasai di bagian timur negara bagian India itu. Namun, setelah berpindah penjara selama beberapa dekade, Timsina akhirnya bisa keluar dari Lembaga Pemasyarakatan Pusat Dum Dum.

Didampingi oleh pejabat dari konsulat Nepal di Kolkata dan anggota Klub Radio Benggala Barat - kumpulan operator radio amatir - yang berperan penting dalam mengamankan kebebasannya, kasus Timsina membuka mata publik tentang penderitaan orang-orang yang menunggu persidangan di penjara India. Banyak dari mereka bahkan dipenjara lebih lama dari hukuman yang mereka terima jika terbukti bersalah.

Syukuran selama berhari-hari

"Kami semua sangat senang dia kembali ke rumah. Ada perayaan selama berhari-hari setelah dia kembali ke desa," kata sepupu Timsina, Prakash Chandra kepada DW.

"Sayangnya, waktu di penjara membuatnya trauma. Tangan dan kakinya gemetar; dia hampir tidak bisa makan dan juga menderita sejumlah penyakit fisik," katanya.

Timsina kini dirawat di rumah sakit setempat dan pemerintah provinsi akan mengurus biaya pengobatannya, kata Chandra, seraya menambahkan bahwa dia tidak dalam kondisi yang sehat untuk diajak berbicara.

Mengapa dia ditangkap?

Timsina meninggalkan desanya di daerah terpencil Nepal timur untuk mencari pekerjaan di usia 20 tahun. Pada tahun 1980, ia pergi ke kota Darjeeling di India yang terletak antara Nepal dan Bhutan.

Di sana Timsina bertemu dengan seorang pria yang menjanjikan dia pekerjaan dengan tentara India. Namun, menurut Chandra, pria itu akhirnya menjebak Timsina dan membuatnya dituduh melakukan pembunuhan.

Timsina mengatakan bahwa dia salah diidentifikasi sebagai seorang pria bernama Dipak Jaishi dan ditangkap oleh polisi. Dia mengatakan kepada wartawan segera setelah dibebaskan bahwa dia tidak bersalah. Ini juga yang dipercayai keluarganya sejak dia ditangkap.

"Tidak pernah ada yang maju dengan bukti. Mereka membawa Durga Prasad begitu saja dan menjebloskannya ke dalam penjara," kata Chandra.

Namanya juga berubah, kata Chandra, karena kesalahan pengarsipan oleh polisi.

Dilaporkan telah meninggal

Perubahan nama Timsina dalam catatan polisi berarti tidak seorang pun yang mengetahui identitas aslinya akan bisa menemukannya. Dia menghabiskan beberapa tahun di penjara Darjeeling sementara keluarganya di rumah menerima kabar bahwa dia telah meninggal.

Darjeeling saat itu adalah tempat yang berbahaya, kata Chandra, merujuk pada konflik bersenjata di awal 1980-an saat komunitas Gorkha di wilayah itu berusaha memisahkan diri. Kekerasan ini menewaskan lebih dari 1.200 orang.

"Mereka membunuh orang-orang dari Nepal dan kami mengira dia termasuk di antara mereka yang terbunuh," kata sepupu Timsina. Itulah mengapa pihak keluarga tidak mencari ketika dia awalnya hilang, ungkap Chandra.

"Kami memang menerima surat pada tahun 2013 dari Bengal Barat yang bertuliskan nama Dipak Jaishi, dan di dalamnya tercantum nama ibu Durga Prasad," kenang Chandra. "Tapi kami pikir itu adalah kerjaan seseorang yang mempermainkan kami dan tidak terlalu memikirkannya."

Bagaimana bisa dibebaskan dari penjara?

Timsina dipindahkan dari penjara Darjeeling ke penjara lain di Kolkata sebelum dikirim ke Pusat Pemasyarakatan Dum Dum dekat ibu kota negara bagian pada tahun 2005.

Di sanalah dia bertemu dengan seorang pria bernama Radhyashyam Das, yang ditangkap pada tahun 2011 sebagai tahanan politik. Dia dimasukkan ke dalam sel di sebelah Timsina dan mencoba mengobrol dengannya.

"Dia selalu diam dan tidak mau berbicara dengan siapa pun," kata Das kepada DW. "Semua orang yakin dia mengalami gangguan mental. Saya mencoba berbicara dengannya, tetapi dia tidak mengerti apa pun yang saya katakan."

Dia juga memperhatikan selama waktunya di lapas, bahwa tidak ada yang pernah ada surat atau tamu yang mengunjungi Timsina.

Saat Das menerima pembebasan dengan jaminan pada Oktober 2020, ia bertekad akan menemukan keluarga pria yang diyakini sebagai Dipak Jaishi itu. Dia pun menghubungi Klub Radio West Bengal, yang telah menyatukan kembali banyak orang hilang dengan keluarga masing-masing.

Ambarish Nag Biswas, pendiri klub radio amatir itu, memberikan verifikasi atas klaim Das dan menggunakan kontaknya dengan polisi untuk mengatur pertemuan dengan Timsina pada November tahun lalu.

"Setelah banyak didorong, Timsina akhirnya berbicara dalam bahasa Nepal," kata Biswas kepada DW. Dalam salah satu pertemuan berikutnya dengan Timsina, dia mengambil pena seorang pengacara lalu menuliskan namanya, nama ibunya, dan nama sekolah di distrik Illam Nepal, cerita Ambarish Nag Biswas.

Misi menemukan keluarga Timsina

Dengan petunjuk ini, Biswas menghubungi konsulat Nepal di Kolkata dan meminta pejabat untuk mencari dan menghubungi keluarga Timsina. Dia juga menghubungi operator radio lain di Nepal yang bekerja dengannya selama gempa bumi 2011.

Mereka juga mengajukan surat penjaminan ke Pengadilan Tinggi Calcutta. "Setelah berminggu-minggu, operator radio amatir di Nepal menemukan Prakash Chandra dan meyakinkan dia serta keluarganya bahwa Durga Prasad, sebenarnya, masih hidup," kata Biswas.

Saat itu, media lokal telah meliput kasus Timsina secara luas dan hakim Pengadilan Tinggi Calcutta memprioritaskan kasus ini. Setelah beberapa kali sidang, pengadilan memutuskan bahwa Timsina secara medis tidak sehat untuk diadili dan pada 17 Maret memerintahkan pembebasannya.

Menurut data terbaru yang dirilis oleh Biro Catatan Kejahatan Nasional India pada Agustus 2020, sekitar 70% persen dari 478.600 narapidana di penjara India tengah menunggu persidangan. Sebagian besar dari mereka adalah orang kurang mampu, atau tidak berpendidikan, atau termasuk dalam apa yang disebut kasta yang lebih rendah.

ae/ha

(nvc/nvc)