Kala PM Belanda Mark Rutte Terjerat Mosi Tidak Percaya

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Sabtu, 03 Apr 2021 18:02 WIB
Jakarta - Perdana Menteri sementara Belanda Mark Rutte mempertahankan kepemimpinannya pada hari Kamis (01/04) setelah catatan pembentukan pemerintah koalisi yang baru bertentangan dengan pernyataannya kepada pers.

Rutte nyaris lolos dari tuduhan mosi tidak percaya di parlemen, setelah para pemimpin partai oposisi menuduhnya berbohong dan mendesaknya untuk mengundurkan diri.

Partai Rakyat kanan-tengah untuk Kebebasan dan Demokrasi (VVD) mengamankan lebih banyak kursi parlemen dalam pemilihan dibanding partai lain dan menempatkan mereka pada posisi utama untuk memimpin pemerintahan koalisi baru.

Awal mula krisis di Belanda

Proses pembentukan koalisi keempat Rutte terhenti sejak dua pejabat yang memimpin pembicaraan dinyatakan positif COVID-19. Jurnalis foto menangkap salah satu dari dua pejabat, Kajsa Ollongren dari partai sentris D66, ketika bergegas keluar dari parlemen menyusul keluarnya hasil tes virus corona.

Ollongren muncul sambil memegang dokumen yang berisi catatan tentang pembicaraan koalisi.

Dokumen tersebut mengatakan "Posisi Omtzigt. Posisi di tempat lain," mengacu pada anggota parlemen Pieter Omtzigt dari Partai Banding Demokrat Kristen (CDA). Informasi tersebut berarti tim negosiator berdiskusi memberikan sebuah jabatan untuk Omtzigt.

Pembahasan tersebut menarik perhatian publik, pasalnya Omtzigt adalah pengkritik ulung kabinet Rutte sebelumnya.

Apa yang Mark Rutte katakan?

Pekan lalu, Rutte mengatakan kepada wartawan bahwa dia belum membahas Omtzigt dalam negosiasi koalisi. Namun, banyak catatan yang diterbitkan pada hari Kamis (01/04) menegaskan bahwa Rutte sebenarnya berbicara tentang anggota parlemen CDA.

Selama debat berikutnya pada hari Kamis (01/04), Rutte mengaku tidak ingat bagian dari pembicaraan koalisi tersebut dan menjawab pertanyaan wartawan "dengan hati nurani yang baik."

"Saya tidak berdiri di sini (untuk) berbohong. Saya mengatakan yang sebenarnya," kata Rutte.

Rutte menambahkan bahwa dia hanya ingat ketika menerima telepon pada Kamis (01/04) pagi tentang pembicaraan tersebut. Rutte menolak menyebutkan sumbernya.

Perdana menteri bersikeras bahwa "di tempat lain" berarti dia menyarankan agar Omtzigt pindah ke posisi menteri.

Bagaimana tanggapan anggota parlemen?

Geert Wilders dari Partai Nasionalis untuk Kebebasan (PVV) sayap kanan mengecam kepemimpinan Rutte dan menyerukan mosi tidak percaya. "Apa kau tidak sadar waktumu sudah habis?" Kata Wilders. "Carilah pekerjaan di tempat lain sendiri."

Sigrid Kaag dari Partai D66 mengatakan dia telah melihat "pola kelupaan, amnesia" dari Rutte. "Bagaimana Anda, dalam krisis terbesar yang kami hadapi di Belanda, mengembalikan kepercayaan yang telah rusak lagi?" Kaag bertanya.

Omtzigt yang dilantik sebagai anggota parlemen pada hari Rabu (31/03) tidak hadir dalam debat hari Kamis (01/04). Sebelumnya dia mengatakan pemecatan dari parlemen adalah "penghinaan terhadap pemilih Belanda," seperti dikutip kantor berita Reuters.

CDA, partai Omtzigt, akan memutuskan apakah akan mendukung Rutte atau tidak setelah mereka mendengar penjelasan Ollongren tentang catatan "posisi di tempat lain", menurut penyiar publik Belanda NOS.

Apa selanjutnya untuk PM Belanda?

"Saya telah memimpin negara ini melalui krisis ekonomi, krisis pengungsi, dan sekarang krisis kesehatan, pandemi," kata Rutte di parlemen sambil memohon kepercayaan.

"Saya ingin melanjutkan itu dan membentuk koalisi baru dengan partai lain untuk menjalankan negara ini. Dan saya berharap mendapat kepercayaan yang cukup untuk itu."

Wilders, yang partainya baru-baru ini kehilangan kursi, menyerukan pemilihan baru. Dijuluki "Teflon Mark", Rutte selamat dari skandal dan mosi tidak percaya di masa lalu.

ha/vlz (AP, AFP, Reuters)

(ita/ita)