Mengapa Orang yang Divaksinasi Flu Lebih Jarang Terinfeksi Corona?

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Rabu, 31 Mar 2021 09:19 WIB
Michigan - Apakah vaksin influenza melindungi kita dari COVID-19? Jika ada efek perlindungan, apa pemicunya? Pertanyaan menarik ini diteliti oleh sebuah tim pakar medis di University of Michigan AS yang dipimpin Ana Colon.

Hasilnya dirilis baru-baru ini dalam American Journal of Infection Control. Para pakar medis meneliti data 27.201 pasien dari Michigan, yang hingga 15 Juli 2020 sudah melakukan test COVID-19. Dari seluruh sampel yang diteliti, sebanyak 12.997 orang sebelumnya sudah mendapat vaksinasi influenza.

Vaksinasi influenza merupakan hal yang lazim dan rutin dilakukan terutama di negara dengan 4 musim. Pada pergantian musim dari musim panas ke musim dingin, biasanya dilakukan vaksinasi dengan vaksin flu terbaru yang sesuai dengan prediksi global dari WHO, terkait jenis virus fu yang diramal akan menyerang.

Hasil mencengangkan

Kesimpulan dari riset, jumlah yang terinfeksi COVID-19 di kelompok sampel yang sudah divaksinasi flu, lebih kecil dibanding kelompok yang tidak divaksinasi. Angkanya 4,0 berbanding dengan 4,9.

Juga kelompok pasien yang mendapat vaksinasi flu dan kemudian terinfeksi virus SARS-Cov-2, lebih jarang harus dirawat di rumah sakit atau bahkan harus dibantu alat pernapasan buatan ventilator.

Jika harus dirawat di rumah sakit, jangka waktu perawatan kelompok ini juga lebih pendek dibanding yang tidak mendapat vaksin flu.

Namun dalam tingkat fatalitas atau kematian pasien COVID-19, tidak ada perbedaan signifikan diantara kedua kelompok yang diriset.

Efek bangkitnya pertahanan tubuh alamiah?

Pertanyaan mendasar bagi para pakar kedokteran itu adalah, apakah ada penjelasan medis atau mikrobiologi dari fenomena ini? Misalnya, terbentuknya sistem pertahanan tubuh alamiah yang kemungkinan diaktifkan oleh vaksin influenza.

Sistem pertahanan tubuh alamiah ini berfungsi independen, tanpa tergantung imunitas antibodi yang terbentuk oleh patogen tertentu. Misalnya pada kasus infeksi virus Corona pemicu COVID-19, antibodi yang terbentuk, akan menyerang "spike protein" yang khas pada virus Corona untuk melumpuhkannya.

Sebaliknya, sistem pertahanan tubuh alamiah, yang kemungkinan "dibangkitkan" oleh vaksinasi, terdiri dari serangkaian elemen antibodi yang beragam. Sistem ini bereaksi tidak spesifik pada patogen atau bibit penyakit tertentu saja.

Armada sistem kekebalan tubuh ini antara lain terdiri dari phagocyt dan sel dendrit yang merupakan sel pemangsa. Juga ada cytocine, sejenis protein yang berperan penting dalam mengaktifkan sel imunitas tubuh. Atau juga yang sudah dikenal luas, Leucocyt alias sel darah putih yang berfungsi melawan segala jenis patogen.

Vaksinasi dan dampaknya pada imunitas keseluruhan

Beragam vaksinasi terbukti berdampak positif pada sistem pertahanan tubuh, sudah dikenal cukup lama olah dunia medis. Dalam riset epidemiologi efek vaksinasi campak misalnya, diamati anak-anak yang mendapat imunisasi, beberapa tahun setelahnya masih memiliki kekebalan lebih tinggi melawan beragam patogen dibanding yang tidak divaksinasi.

Atau riset imunologi independen terbaru dari Belanda, yang hasilnya belum mendapat "peer review" menegaskan kaitan vaksinasi flu dengan rendahnya kasus infeksi COVID-19. Para pekerja kesehatan di berbagai rumah sakit di Belanda yang mendapat vaksinasi flu pada musim dingin 2019/2020, lebih jarang terinfeksi COVID-19 dibanding yang tidak mendapat vaksinasi.

Kelompok yang diriset adalah kelompok kerja aktif yang melakukan cukup banyak kontak dengan orang lainnya, bukan para pensiunan di atas usia 70 tahun yang jarang melakukan kontak sosial.

Kemungkinan hanya korelasi?

Tentu saja ada keraguan terkait korelasi vaksinasi flu dengan rendahnya kasus infeksi corona ini. Apakah fenomena ini hanya merupakan korelasi dari kejadian tertentu? Yakni, orang yang divaksinasi flu menjadi lebih berhati-hati dalam melakukan kontak sosial?

Pasalnya di AS atau Jerman, kebanyakan yang sukarela melakukan vaksinasi flu yang harus membayar ekstra, adalah para manula atau orang dari kelompok risiko dan kelompok komorbid. Sementara kalangan lebih muda dan sehat jarang divaksinasi flu.

Juga di AS, kelompok manula secara sukarela mengisolasi diri, setelah pandemi baru merebak dan memakan ratusan ribu korban jiwa. Sementara kelompok aktif masih tetap harus bekerja normal.

Namun riset dari Michigan menepis adanya korelasi "kebetulan" semacam itu. Indikasinya, para manula biasanya mengembangkan gejala sakit parah jika terinfeksi COVID-19. Sementara riset tim di bawah pimpinan Ana Colon menunjukkan hasil berbeda.

Juga indikasi berikutnya dari para nakes aktif di rumah sakit di Belanda, yang mendapat vaksinasi flu terbukti lebih jarang terinfeksi COVID-19, membantah adanya korelasi semacam itu.

(as/vlz)

Simak juga 'Cinema XXI Lakukan Penelitian soal Virus Corona di Studio Bioskop':

[Gambas:Video 20detik]



(nvc/nvc)