Exit Poll Pemilu Israel Isyaratkan Netanyahu Temui Jalan Buntu

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Rabu, 24 Mar 2021 16:06 WIB
Jakarta - Pemungutan suara untuk pemilu keempat Israel resmi berakhir pada hari Selasa (23/03) pukul 10 malam waktu setempat. Masa depan politik Perdana Menteri Benjamin Netanyahu masih belum jelas, pasalnya jajak pendapat yang telah diperbarui pada Senin pagi (22/03) menunjukkan jumlah kursi pro-Netanyahu dan anti-Netanyahu kurang lebih sama, membuat kedua pihak tersebut tidak mampu meraup suara mayoritas.

Sebelumnya pada akhir pekan lalu, jajak pendapat yang dirilis oleh lembaga penyiaran Israel sempat memproyeksikan Partai Likud sayap kanan Netanyahu akan meraup antara 31 hingga 33 kursi di Knesset, sedangkan saingannya partai yang dipimpin Yesh Atid akan memenangkan 16 hingga 18 kursi. Keduanya diperkirakan akan bertanding di pengadilan dengan Naftali Bennet, mantan sekutu Netanyahu yang kini menjadi salah satu penantangnya.

Pengamat pun memperkirakan Netanyahu bisa mengalami kesulitan dalam membangun koalisi. Angka hasil pemilu terus bergerak pada Rabu (24/03) pagi dan proyeksi exit poll masih bisa berubah. Hasil akhir diperkirakan baru akan diketahui pada akhir pekan ini.

Mengingat dibutuhkan sebanyak 61 kursi mayoritas dari 120 kursi di parlemen, maka perlu beberapa hari sebelum pemerintahan dapat terbentuk. Dan jika pembicaraan pembangunan koalisi tidak berhasil memecahkan kebuntuan, Israel mungkin akan menuju pemungutan suara lagi - pemilihan kelima berturut-turut yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Netanyahu melunak setelah mengklaim 'kemenangan besar'

Berbekal exit poll awal, Netanyahu menggambarkan pemilu itu sebagai "kemenangan besar" bagi sayap kanan. Para pemilih telah "memberikan kemenangan besar bagi sayap kanan dan Likud di bawah kepemimpinan saya," katanya dalam pernyataan yang disebarkan di Facebook dan Twitter.

Namun, Netanyahu tidak mengulangi klaim kemenangannya dalam pidatonya selanjutnya. "Saya akan menjangkau semua pejabat terpilih yang berbagi prinsip dengan kami. Saya tidak akan mengecualikan siapa pun," katanya kepada para pendukung, dengan anggukan yang diisyaratkan jelas kepada Bennett.

Naftali Bennett adalah pemimpin partai nasionalis-religius Yamina dan mantan menteri pendidikan dan pertahanan di bawah Netanyahu. Dia secara terbuka menantang jabatan perdana menteri Netanyahu, tetapi tidak menutup kemungkinan bergabung dengan koalisi dengannya.

Sementara itu, pemimpin oposisi Yair Lapid, Yesh Atid mengklaim bahwa blok anti-Netanyahu dapat membentuk mayoritas. "Saat ini, Netanyahu tidak memiliki 61 kursi," kata mantan penyiar televisi itu.

Berbicara kepada para pendukung di Tel Aviv, Lapid juga mengatakan dia telah "mulai berbicara dengan para pemimpin partai dan akan menunggu hasilnya, tetapi kami akan melakukan segalanya untuk menciptakan pemerintahan yang waras di Israel."

Perspektif DW: Pembicaraan koalisi akan sulit

Koresponden DW Tania Krmer mengatakan Netanyahu menghadapi perjuangan berat untuk membentuk koalisi. "Ini akan menjadi sangat sengit jika Anda melihat exit poll," katanya, menambahkan bahwa Netanyahu kemungkinan harus mendapatkan dukungan dari pihak lain di luar sekutu di kubunya.

"Jika Anda melihat pemilu lalu, Likud jauh lebih baik saat itu. Dia kehilangan beberapa kursi dan akan lebih sulit sekarang untuk membentuk koalisi," katanya.

Apa strategi Netanyahu?

Berbeda dengan pemilihan sebelumnya di mana Netanyahu menghadapi saingan yang jelas, kali ini berbagai partai berusaha untuk menggulingkannya, meskipun banyak di antaranya memiliki cita-cita yang sama.

Netanyahu sengaja mencari "pemerintahan agama sayap kanan karena kepentingan pribadi" karena "dia tidak ditantang oleh satu partai oposisi sentris besar, tetapi oleh banyak partai, juga dari sayap kanan politik," kata Steffen Hagemann dari Yayasan Heinrich-Bll Jerman.

Hagemann juga mengatakan Netanyahu menghadapi tantangan termasuk meningkatnya angka pengangguran dan defisit anggaran yang terus bertambah.

Apa yang dikatakan lawan Netanyahu?

Mereka berpendapat Netanyahu telah gagal dalam beberapa tindakan menangani pandemi, terutama dengan membiarkan sekutu ultra-Ortodoksnya mengabaikan aturan penguncian dan memicu tingkat infeksi yang tinggi.

Lebih dari 6.000 orang di Israel telah meninggal karena COVID-19 dan sektor ekonomi tetap bermasalah, dengan angka pengangguran yang mencapai dua digit.

Mereka juga menyoroti peradilan kasus korupsi Netanyahu, dengan mengatakan "seseorang yang didakwa melakukan kejahatan serius tidak cocok untuk memimpin negara."

Netanyahu adalah perdana menteri Israel pertama yang didakwa saat menjabat dan telah didakwa dengan penipuan, pelanggaran kepercayaan, dan menerima suap.

ha/gtp (AP, dpa, Reuters, AFP)

(ita/ita)