Jelang Libur Paskah, Jerman Berencana Perpanjang Lockdown hingga April

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Senin, 22 Mar 2021 14:36 WIB
Jakarta - Beberapa negara bagian Jerman berencana memperpanjang lockdown hingga April, saat negara itu sedang berjuang melawan gelombang ketiga virus corona. Rencana ini diketahui berdasarkan draf yang dilihat oleh agensi media DPA dan AFP pada Minggu (21/03).

Proposal itu datang saat tingkat infeksi corona melewati batas kritis 100 kasus per 100.000 orang. Pemerintah sebelumnya mengatakan ini bisa menjadi faktor diterapkannya pembatasan baru.

Draf dokumen itu menyebutkan bahwa tingkat infeksi COVID-19 yang tinggi dipercepat oleh kasus varian baru virus corona.

Satu langkah maju, dua langkah mundur

Jerman telah melonggarkan aturan pembatasan sebelum gelombang ketiga virus corona muncul. Sekolah telah dibuka kembali pada akhir Februari dan beberapa toko diperbolehkan beroperasi kembali awal bulan Maret.

Aturan pembatasan yang tengah diberlakukan saat ini direncanakan selesai pada akhir Maret. Hari ini Senin (22/03), Kanselir Jerman Angela Merkel dijadwalkan rapat bersama 16 perdana menteri negara bagian.

Namun dengan meningkatnya kasus, yang pada Minggu (21/03) tercatat ada 13,733 infeksi baru, area terdampak paling parah harus menerapkan rem darurat.

Meski begitu, Kepala Kekanseliran, Helge Braun tidak terlalu ambil pusing dengan kekhawatiran terkait perpanjangan lockdown. Bruan menuliskan lewat Twitternya bahwa draf dokumen itu tidak berasal dari kantor kanselir.

Merkel mengatakan pada konferensi pers pada Jumat (19/03) bahwa pemerintahannya tidak ragu untuk memperpanjang lockdown bila diperlukan.

''Saya berharap kita bisa mengatasinya tanpa menggunakan rem darurat, tetapi tampaknya itu tidak mungkin jika saya lihat dari perkembangan beberapa hari terakhir,'' kata Merkel.

DPA melaporkan bahwa rencana perpanjangan lockdown dirancang oleh negara-negara bagian yang dipimpin oleh Partai Sosial Demokrat (SPD) berhaluan kiri-tengah.

Wakil Ketua SPD Saskia Esken mendukung langkah perpanjangan lockdown tersebut.

''Selama pengetesan dan vaksinasi tidak dijalankan secara penuh, kita harus menunda rencana pembukaan kembali dan mengambil langkah lain yakni kembali lockdown,'' cuit Esken di Twitter.

Perpanjangan lockdown didukung oleh politisi senior

Perdana menteri negara bagian Bayern, markus Sder memperingkatkan bahwa pandemi bisa berubah menjadi ''gelombang tiada akhir''.

Dia meminta rem darurat diberlakukan secara nasional, menambahkan bahwa aturan yang berbeda-beda di tiap negara bagian hanya akan membingungkan publik.

Menteri Keuangan Olaf Sholz memperingatkan warga agar tidak bepegian saat liburan Paskah, dan mengatakan kepada surat kabar Bild am Sonntag: ''Kami tidak mampu menanggungnya dalam situasi infeksi seperti sekarang ini.''

Rasa frustasi berkembang di Jerman

Menjelang libur Paskah dan musim semi, perpanjangan lockdown sepertinya akan sulit diterima oleh warga Jerman yang tampaknya dilanda kelelahan dan kebosanan menjalani aturan tetap di rumah saja sejak pertengahan November 2020.

Namun, draf itu menuliskan kemungkinan warga bisa melakukan "liburan dengan kontak rendah."

Orang-orang diperbolehkan berpergian untuk menginap di apartemen dan penyewaan tempat liburan atau menggunakan karavan. Tetapi harus membawa syarat tes negatif COVID-19 dan mengikuti protokol kesehatan.

Beberapa kota memperketat pembatasan

Beberapa wilayah di Jerman kembali memperketat aturan lockdown saat tingkat infeksi corona melampaui 100 kasus dalam beberapa hari.

Kota terbesar kedua Jerman, Hamburg, kembali menerapkan lockdown total pada Jumat (19/03) setelah tingkat infeksi melebihi 100 kasus dalam empat hari berturut-turut.

Kota Kln di negara bagian Nordrhein-Westfalen yang memiliki penduduk terbanyak, menerapkan pembatasan terbatas setelah tingkat infeksi melampaui 100 kasus.

pkp/rap (AFP, dpa)

(ita/ita)