Pejabat PBB Tuduh Kejahatan Perang Telah Terjadi di Tigray

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Jumat, 05 Mar 2021 17:03 WIB
Jakarta - Para pemimpin senior PBB pada Kamis (04/03) meminta Eritrea untuk menarik pasukannya dari wilayah Tigray, Ethiopia. Mereka juga mengatakan pasukan pertahanan Eritrea sedang gencar melakukan tindak kekerasan di wilayah itu.

Kepala Hak Asasi PBB Michelle Bachelet mendesak Ethiopia untuk mengizinkan penyidik melakukan investigasi di Tigray. Bachelet menyebut kantornya telah memverifikasi "laporan pelanggaran berat hak asasi manusia, termasuk pembunuhan massal di Axum dan di Dengelat, Tigray tengah, oleh angkatan bersenjata Eritrea."

Bachelet menegaskan insiden ini adalah pelanggaran serius terhadap hukum internasional yang kemungkinan merupakan kejahatan perang.

Kepala Kemanusiaan PBB Mark Lowcock mengatakan bahwa saat ini sudah "sangat jelas" dan "secara terbuka diakui" oleh pejabat pemerintah di wilayah itu bahwa pasukan pertahanan Eritrea beroperasi di Tigray.

Memasuki bulan keempat krisis kemanusiaan di Tigray, Lowcock memaparkan telah terjadi tindak kekerasan termasuk pembunuhan massal, pemerkosaan, dan penculikan warga sipil.

Lowcock meminta dunia internasional untuk memberi bantuan tambahan ke wilayah tersebut karena dikhawatirkan 4,5 juta orang akan menderita kelaparan.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres bersama dengan Duta Besar AS Linda Thomas-Greenfield juga meminta pasukan Eritrea untuk meninggalkan Tigray. AS telah mendesak pemerintah Ethiopia "untuk mendukung segera diakhirinya pertempuran di Tigray."

Pernyataan para pemimpin senior itu muncul menjelang pertemuan Dewan Keamanan PBB, di mana negara-negara lain tidak menyetujui pernyataan bersama tentang krisis di kawasan Tigray.

Rusia dan Cina, serta anggota tidak tetap India, keberatan mencampuri urusan dalam negeri Ethiopia, kata para diplomat.

Apa yang terjadi di Tigray?

Ribuan orang telah tewas sejak Perdana Menteri Ethiopia Abiy Ahmed melancarkan operasi militer melawan Front Pembebasan Rakyat Tigray (TPLF) pada awal November 2020.

Abiy memerintahkan dilakukannya tindakan ofensif setelah muncul dugaan telah terjadi penyerangan di kamp tentara federal oleh pejuang TPLF. Abiy mengumumkan kemenangan setelah pasukan pemerintah merebut ibu kota wilayah Mekele. Namun bentrokan terus berlanjut di wilayah tersebut.

Organisasi hak asasi manusia Amnesty International mengatakan pada bulan lalu bahwa "ratusan" orang telah dibantai oleh pasukan Eritrea di wilayah utara Tigray Ethiopia pada November tahun lalu.

Jean-Baptiste Gallopin dari Amnesty, yang melakukan banyak wawancara dengan penduduk dan menyaksikan insiden dari kota bersejarah Axum, tempat dugaan pembantaian itu terjadi, mengatakan kepada DW: "Pelakunya adalah orang Eritrea."

ha/hp (Reuters, AFP)

Simak juga video 'Ethiopia Klaim Rebut Daerah Konflik Tigray':

[Gambas:Video 20detik]



(ita/ita)