Vaksin China Mendunia Meski Ada Keraguan Soal Tingkat Efikasi

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Rabu, 03 Mar 2021 09:09 WIB
Beijing -

Saat pesawat yang sarat dengan vaksin sampai di bandara Santiago, Chile akhir Januari, Presiden Chile, Sebastian Pinera menyambutnya dengan berseri-seri. "Hari ini," katanya, "adalah hari kegembiraan, emosional dan penuh harapan.''

Sumber harapan itu adalah: China – sebuah negara di mana Chile dan puluhan negara lainnya bergantung untuk bisa membantu menyelamatkan mereka dari pandemi COVID 19.

China menjanjikan sekitar setengah miliar dosis vaksinnya untuk lebih dari 45 negara, demikian menurut penghitungan yang ditelusuri kantor berita Associated Press. China mengklaim mereka mampu menghasilkan setidaknya 2,6 miliar dosis tahun ini. Sebagian besar populasi dunia akan menerima vaksin inokulasi China yang sederhana dan teknologi lawas, tanpa menunggu vaksin Barat yang dianggap 'mewah' dalam 'menjual' tingkat keefektifan.

Namun di tengah kelangkaan data publik tentang vaksin China, di negara-negara yang bergantung pada Sinovac, muncul keraguan akan kemanjuran dan keamanannya. Kecemasan itu datang bersamaan dengan kekhawatiran terhadap meningkatnya kebergantungan kepada China.

Meskipun demikian, penggunaan vaksin China sudah dimulai di lebih dari 25 negara. Berdasarkan pelaporan independen di negara-negara tersebut bersama dengan pengumuman pemerintah dan perusahaan, menurut hitungan AP, vaksin China juga telah dikirim ke 11 negara lainnya.

Dari tidak dipercaya, menjadi 'juru selamat'

Keberhasilan ini berpotensi menyelamatkan muka China, yang bertekad untuk mengubah dirinya dari sebagai objek ketidakpercayaan atas kesalahan penanganan awal wabah COVID-19, menjadi 'juru selamat'.

Sebagaimana India dan Rusia, China sedang mencoba membangun niat baik, dan telah berjanji untuk mempersiapkan sekitar 10 kali lebih banyak vaksin di luar negeri daripada yang didistribusikannya di negaranya sendiri.

"Kami melihat diplomasi vaksin mulai dimainkan secara 'real-time' dengan China sebagai pemimpin dalam hal kemampuan untuk memproduksi vaksin di China dan membuatnya tersedia untuk pihak lain," kata Krishna Udayakumar, direktur pusat inovasi di Universitas Duke, Duke Global Health.

"Beberapa vaksin diberikan sebagai sumbangan, lainnya dijual, dan beberapa dari vaksin dijual dengan pembiayaan utang terkait dengan itu."

China yang mengklaim sedang memasok "bantuan vaksin" ke 53 negara dan mengekspor ke 27 negara, menolak permintaan AP untuk menunjukkan daftar tersebut.

Bantahan dari Beijing

Beijing membantah tengah melakukan diplomasi vaksin. Juru bicara kementerian luar negeri Tirai Bambu itu mengatakan China menganggap vaksin sebagai "kepentingan umum global".

Pakar Tiongkok juga membantah adanya keterkaitan apa pun antara ekspor vaksin dan pembenahan citra China. "Saya tidak melihat ada keterkaitan dalam hal itu," kata Wang Huiyao, presiden Center for China and Globalization, sebuah wadah pemikir di Beijing.

"Tiongkok harus berbuat lebih banyak untuk membantu negara lain, karena itu (distribusinya) berjalan dengan baik."

China telah menargetkan sebagian besar negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah yang terpinggirkan dalam pengadaan vaksin, ketika negara-negara kaya berusaha meraup sebagian besar vaksin mahal diproduksi Pfizer dan Moderna.

Seperti banyak negara lain, Chile menerima dosis vaksin Pfizer yang jauh lebih sedikit dari yang dijanjikan sebelumnya. Sebulan setelah pencanangan program vaksin di negara itu pada akhir Desember, hanya sekitar 150.000 dari 10 juta dosis Pfizer yang dipesan negara Amerika Selatan itu tiba.

Baru setelah perusahaan China, Sinovac Biotech Ltd. masuk dengan empat juta dosis pada akhir Januari, Chile mulai mendistribusikan penggunaan vaksin untuk 19 juta penduduknya dengan kecepatan yang mengesankan.

Vilma Ortiz di Chile mendapatkan suntikan Sinovac-nya di sebuah sekolah di Santiago bersama sekitar 60 orang lainnya. Meskipun dia menganggap dirinya "jenis orang yang skeptis", ia meriset vaksin China di internet dan merasa puas. "Saya sangat percaya dan percaya diri pada vaksin itu," katanya.

Vaksin di Indonesia

Di sebuah stadion olahraga di Jakarta, petugas kesehatan bermasker antre untuk menerima vaksin Sinovac. 140 juta dosis telah dipesan untuk Indonesia. Di antara mereka yang hadir di stadion itu adalah Susi Monica, seorang dokter magang yang akan menerima dosis keduanya. Meskipun terbersit keraguan atas kemanjuran vaksin tersebut, mendapatkan suntikan vaksin merupakan hal yang sangat berharga baginya, terutama karena dia tidak merasakan reaksi negatif dari dosis pertama.

Selain itu, katanya, "Apakah saya punya pilihan lain sekarang?" Pilihannya terbatas untuk Indonesia dan banyak negara-negara lainnya yang berpenghasilan menengah dan terpukul oleh COVID-19.

Penyebaran vaksin secara global telah didominasi oleh negara-negara kaya yang mengambil 5,8 miliar dari 8,2 miliar dosis yang dibeli di seluruh dunia, demikian menurut laporan Duke University.

Vaksin China, cukup menarik bagi negara-negara seperti Indonesia yang berjuang untuk mengakomodasi kebutuhan penyimpanan vaksin seperti Pfizer.

Sebagian besar vaksin Tiongkok berasal dari Sinovac dan Sinopharm, yang mana keduanya mengandalkan teknologi lawas berupa virus yang dimatikan.

Beberapa negara menganggap vaksin itu lebih aman daripada teknologi yang lebih baru, yang yang digunakan oleh beberapa pesaing Barat, meskipun data keamanan tersedia untuk vaksin Pfizer, Moderna dan AstraZeneca.

"Vaksin ini dipilih karena dikembangkan dengan platform nonaktif berteknologi tradisional dan aman," kata Teymur Musayev, seorang pejabat di kementerian kesehatan di Azerbaijan, yang memiliki memesan empat juta dosis Sinovac.

Di Eropa, China memberikan vaksin ke negara-negara seperti Serbia dan Hongaria – sebuah kemenangan secara geopolitis yang signifikan di Eropa dan Balkan, lokasi di mana Barat, China, dan Rusia bersaing untuk mendapatkan pengaruh politik dan ekonomi. Situasi ini menawarkan kesempatan bagi China untuk memperkuat bilateral hubungan dengan Serbia dan para pemimpin populis Hongaria, yang sering mengkritik Uni Eropa.

Serbia menjadi negara pertama di Eropa yang mulai memvaksin penduduk dengan vaksin China pada bulan Januari. Negara sejauh ini membeli 1,5 juta dosis vaksin Sinopharm, dan sejumlah kecil vaksin dari Rusia.

Vaksin Sputnik V dan Pfizer

Mengenakan mantel tebal melawan dinginnya musim dingin, warga Serbia yang bermasker berderet dalam antrean panjang untuk mendapatkan vaksin.

"Mereka telah memvaksinasi orang sekian lama. Saya berasumsi mereka memiliki banyak pengalaman," ujar Natasa Stermenski, seorang warga Beograd menjelaskan alasannya divaksin dengan vaksin dari China.

Negara tetangga Hongaria, yang tidak sabar atas tertundanya kiriman vaksin dari Uni Eropa, menjadi negara pertama di Uni Eropa yang menyetujui vaksin yang sama dari China. Perdana Menteri Hongaria Viktor Orban yang mendapatkan suntikan Sinopharm mengatakan dia mempercayai vaksin China.

Banyak pemimpin secara terbuka mendukung vaksin Tiongkok untuk meredakannya kekhawatiran. Sanjeev Pugazhendi, seorang petugas medis di negara kepulauan Samudra, Hindia Seychelles, yang presidennya baru-baru ini menerima vaksin Sinopharm mengatakan: "Saat ini kita mulai membagikan vaksin kepada para pemimpin, pemuka agama dan petugas kesehatan, pandemi mulai mereda."

Upaya diplomasi vaksin Beijing bagus untuk China dan dunia berkembang, kata para ahli. "Karena adanya persaingan memperebutkan pengaruh, negara-negara miskin bisa dapatkan akses lebih awal untuk vaksin," kata Yun Jiang, redaktur pelaksana China Story Blog di Universitas Nasional Australia.

"Tentu saja, itu dengan asumsi bahwa semua vaksin aman dan dikirim dengan cara yang benar."

Diplomasi vaksin China masih menghadapi rintangan. Ahmed Hamdan Zayed, seorang perawat di Mesir, enggan menerima vaksin, terutama vaksin China. Petugas kesehatan di garda depan akan jadi yang pertama di negara ini yang mendapatkan bidikan Sinopharm sebagai bagian dari kampanye vaksinasi massal.

"Kami memiliki kekhawatiran akan vaksin secara umum," ujar pria berusia 27 tahun itu dalam wawancara telepon dengan AP dari rumah sakit Abu Khalifa, di bagian timur laut negara itu.

"Untuk vaksin China, data yang tersedia tidak mencukupi dibandingkan vaksin yang lain."

Tetapi Zayed akhirnya memutuskan untuk divaksin setelah melakukan lebih banyak riset. Seorang dokter di rumah sakit tempat ia bekerja menelepon rekan-rekannya di Amerika Serikat untuk memperoleh informasi.

Sinopharm, yang mengatakan bahwa vaksinnya 79% efektif berdasarkan data sementara dari uji klinis, tidak menanggapi permintaan untuk wawancara oleh AP. Pimpinan Sinopharm mengatakan mereka belum menemukan satu pun efek buruk yang parah sebagai respons terhadap vaksin mereka.

Perusahaan vaksin China lamban merilis data uji coba mereka, dibandingkan dengan perusahaan seperti Pfizer dan Moderna, kata Yanzhong Huang, pakar kesehatan global di AS.. Tak satu pun dari tiga kandidat vaksin China yang digunakan secara global telah merilis data uji klinis tahap akhir.

Praktik bisnis farmasi China juga meningkatkan kekhawatiran. Pada akhir 2018, terungkap bahwa salah satu perusahaan vaksin terbesar China memalsukan data untuk menjual vaksin rabiesnya. Di tahun yang sama, tersiar berita bahwa anak perusahaan Sinopharm membuat vaksin difteri di bawah standar imunisasi wajib.

Rusia dan India menghadapi skeptisisme serupa, sebagian karena banyak orang kurang percaya pada produk yang dibuat di luar dunia Barat, kata Sayedur Rahman, kepala bagian farmakologi di Universitas Kedokteran Bangabandhu Sheikh Mujib di Bangladesh.

"India, Rusia, Kuba, setiap kali mereka mengembangkan vaksin atau melakukan penelitian, datanya dipertanyakan, dan orang-orang mengatakannya prosesnya tidak transparan," ujarnya.

Jajak pendapat YouGov bulan Desember lalu yang dilakukan terhadap 19.000 responden di 17 negara dan wilayah tentang bagaimana perasaan mereka tentang berbagai vaksin menghasilkan kesimpulan China menempati skor terendah kedua bersama dengan India.

Sementara itu di Filipina, jumlah responden yang disurvei oleh kelompok penelitian itu menyatakan keyakinannya pada vaksin China, kurang dari 20%. Padahal Filipina telah memesan 25 juta dosis Sinovac.

Kekhawatiran tersebut diperburuk oleh kebingungan seputar kemanjuran vaksin Sinovac. Di Turki, para pejabat mengatakan vaksin itu 91% efektif. Namun, di Brasil, pejabat merevisi tingkat efektivitas dalam uji klinis tahap akhir dari 78% menjadi lebih dari 50% setelah dimasukkan infeksi ringan dimasukkan dalam kategori.

Seorang pejabat senior China mengatakan angka di Brasil lebih rendah karena relawannya adalah petugas kesehatan yang menghadapi risiko lebih tinggi akan infeksi.

Uji coba Sinovac dilakukan secara terpisah di Turki dan Brasil, dan perbedaan tingkat efikasi muncul dari perbedaan dalam populasi, demikian yang dikatakan juru bicara perusahaan Sinovac dalam wawancara dengan AP sebelum. Perusahaan itu menolak untuk diwawancarai lagi untuk artikel ini.

Panel ahli di Hong Kong menilai kemanjuran vaksin berada di kisaran 51%, dan sudah menyetujui penggunaannya pada pertengahan Februari.

Secara global, pejabat kesehatan masyarakat telah mengatakan vaksin apa pun yang ada paling tidak 50% efektif berguna. Ilmuwan internasional cemas dalam melihat hasil dari pengujian tahap akhir yang dipublikasikan dalam tinjauan jurnal sains untuk ketiga perusahaan China.

Juga tidak jelas bagaimana vaksin Tiongkok bekerja melawan strain virus baru yang muncul, terutama varian yang pertama kali diidentifikasi di Afrika Selatan. Sinopharm telah menjanjikan 800.000 vaksin di negara tetangga Afrika Selatan, Zimbabwe.

Apa imbalannya?

Ada kekhawatiran di antara negara penerima vaksin China merupakan diplomasi yang mungkin harus dibayar mahal, telah disangkal oleh China. Di Filipina, Beijing mendonasikan 600.000 vaksin bagi lansia. Seorang diplomat China mengatakan Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, memberi penjelasan secara halus untuk meredam kritik publik terhadap China di tengah krisis di Laut China Selatan yang disengketakan.

Diplomat senior itu mengatakan Wang tidak meminta imbalan apa pun untuk vaksin, tetapi jelas dia menginginkan "pertukaran yang bersahabat di muka publik, seperti mengontrol sedikit‚ suara keras dalam diplomasi," ujar diplomat tersebut, yang menyampaikan pesan dengan syarat anonim. Presiden Filipina, Rodrigo Duterte secara terbuka mengatakan dalam sebuah konferensi pers pada hari Minggu bahwa China tidak meminta apa pun.

Sementara itu, legislator oposisi di Turki menuduh para pemimpin di Ankara secara diam-diam 'menjual orang Uyghur' ke China dengan imbalan vaksin. Para legislator dan komunitas diaspora Uighur takut Beijing berusaha memenangkan jalannya perjanjian ekstradisi yang dapat membuat lebih banyak orang Uighur dideportasi ke China.

Terlepas dari semua kekhawatiran, urgensi pandemi sebagian besar telah terjadi menggantikan keraguan atas vaksin China. "Vaksin, terutama yang dibuat di Barat, dicadangkan untuk negara kaya," kata seorang pejabat Mesir, yang berbicara dengan syarat anonimitas dalam membahas masalah tersebut.

"Kami harus menjamin tersedianya vaksin. Vaksin apa saja," pungkasnya.

rzn/vlz (Associated Press)

Simak juga 'Hongaria, Negara Uni Eropa Pertama yang Izinkan Vaksin China':

[Gambas:Video 20detik]



(nvc/nvc)