Kisah Transpuan Migran Berkulit Hitam di Portugal

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Senin, 22 Feb 2021 13:03 WIB
Jakarta -

Aquila Correia merasa selangkah lebih dekat mewujudkan mimpinya ketika dinyatakan lolos di beberapa audisi sekaligus. Dia sedang merengkuh hidup baru sebagai penyanyi. Jauh dari pelacuran yang dia jalani untuk bisa bertahan hidup sebagai transpuan migran berkulit hitam di Portugal.

Nasib bertukar arah ketika pandemi Covid-19 merenggut mata pencahariannya di bordel. Dia lantas diusir dari rumah sewaan. Sebagai pendatang tanpa dokumen resmi, Aquilla tidak punya pilihan selain angkat kaki.

"Saya kebingungan," kata transpuan berusia 28 tahun tersebut. "Saya tidak tahu harus ke mana," imbuhnya.

Tapi dia tidak sendirian. "Saya menyadari ada banyak orang yang punya situasi serupa seperti saya." Bersama teman-temannya, Aquilla lalu mendirikan sebuah rumah berlindung bagi kaum migran transpuan bernama Casa T.

"Idenya muncul sebagai cara untuk membantu orang-orang seperti saya agar tidak harus menggantungkan hidup sebagai pelacur, dan punya pilihan lain."

Casa T saat ini dihuni enam transgender. Semuanya berlatar belakang migran, dan diusir dari rumah sewanya masing-masing karena kehilangan pekerjaan sebagai pekerja seks komersial.

Rumah bagi kehidupan baru

Menurut lembaga hak sipil Uni Eropa, FRA, satu dari lima transgender atau kaum nonbiner lain pernah mengalami pelecehan seksual dalam lima tahun terakhir. Bagi minoritas migran, situasinya lebih mengkhawatirkan.

"Diskriminasi bertambah jika Anda adalah trans, migran, dan berkulit hitam," kata Luan Okan, seorang penghuni Casa T. "Kaum migran mendapati banyak hambatan. Anda harus bekerja keras untuk upah yang sangat kecil."

Okan mengenyam pendidikan sebagai aktor, tapi hanya bisa menemukan pekerjaan sebagai petugas kebersihan. Menurutnya, Casa T bisa membantunya mencari kehidupan yang lebih baik.

"Di sini sangat mudah untuk berkonsultasi dan menjadi lebih kuat untuk menghadapi pasar tenaga kerja lagi. Melalui Casa T, saya akhirnya punya kesempatan melakukan pekerjaan seni lagi."

Hampir semua penghuni Casa T terlibat dalam pembuatan video musik gotik. Dua karya mereka yang berjudul "Bruxonas" dan "Big Witches" memenangkan penghargaan musik, m-v-f 2020, di Brasil.

Dalam video tersebut, Correira tampil sebagai penyanyi berbusana hitam, dilengkapi topi dan sarung tangan merah, sembari memegang segelas minuman anggur merah. Melalui karyanya itu dia ingin menggeser paradigma di Portugal tentang kaum transgender berkulit hitam.

"Ada banyak prasangka terhadap perempuan Brasil," kata Marta Ramos, Direktur ILGA Portugal, lembaga advokasi LGBT+ terbesar di Portugal. "Ada pandangan hiperseksualitas terhadap tubuh mereka, dan sebabnya memperkuat prasangka buruk soal perilaku seksual mereka."

Diskriminasi di Portugal

Rasisme menjadi kekhawatiran besar bagi kaum transgender di Portugal, terutama bagi mereka yang berkulit hitam. Tahun lalu, seorang aktor hitam Portugis, Bruno Cande, ditembak hingga tewas di jalan raya oleh seorang pria putih yang sebelumnya menyuruhnya untuk pulang ke negara asal.

Meningkatnya insiden rasialis di Portugal diyakini berkaitan dengan bangkitnya kaum populis kanan. Pada jajak pendapat Januari silam, Andre Ventura, anggota parlemen yang gemar menghasut etnis minoritas, mencatat lonjakan dukungan elektoral.

Perkembangan tersebut menjadi alarm bagi pekerja sosial seperti Casa Qui, yang aktif membantu kaum muda LGBTQ+. Menurutnya lonjakan kasus transfobia dan rasisme di Portugal mengancam transpuan migran asal Brasil dan negeri berbahasa Portugis lain.

"Mereka lari dari negara yang opresif dan tidak membiarkan mereka menjalani identitas pribadi," katanya.

"Pekerjaan Casa T dalam memenuhi kebutuhan spesifik bagi minoritas migran transgender di Portugal adalah hal yang sangat membahagiakan. Adalah sangat penting bahwa ada lebih banyak rumah berlindung seperti Casa T," imbuhnya.

rzn/ae (Reuters)

(ita/ita)