AS Perketat Pengamanan Antisipasi Demo Bersenjata Jelang Pelantikan Biden

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Selasa, 12 Jan 2021 13:42 WIB
Jakarta -

Badan penegak hukum Amerika Serikat (AS) meningkatkan pengamanan menjelang pelantikan Presiden terpilih AS Joe Biden pada 20 Januari. Peningkatan pengamanan ini dilakukan beberapa hari setelah massa pendukung Presiden Donald Trump menyerbu Gedung Parlemen AS, Capitol, yang berupaya membatalkan hasil pemilihan presiden.

Plt Sekretaris Kementerian Keamanan Dalam Negeri AS (DHS) Chad Wolf, beberapa jam sebelum pengunduran dirinya pada hari Senin (11/01), mengatakan bahwa dia telah menginstruksikan Dinas Rahasia AS untuk memulai operasi Acara Keamanan Khusus Nasional pada 13 Januari.

Dia mengatakan bahwa peristiwa kerusuhan minggu lalu membuat AS harus meningkatkan keamanan dan memajukan jadwal pengamanan hampir seminggu lebih cepat dari yang direncanakan semula.

Dia menambahkan bahwa agen federal, negara bagian, dan otoritas lokal "akan terus mengoordinasikan rencana dan sumber daya mereka untuk acara penting ini."

Dinas Rahasia AS yang mengepalai operasi keamanan untuk berbagai acara, menetapkan pelantikan presiden sebagai acara penting nasional.

Pasukan Garda Nasional dikerahkan

Garda Nasional diberi wewenang pada hari Senin (11/01) untuk mengirim hingga 15.000 tentara ke Washington untuk meningkatkan pengamanan di ibu kota.

Jenderal Daniel Hokanson, kepala Biro Garda Nasional mengatakan 6.200 tentara sudah berada di Washington menyusul kerusuhan Capitol pekan lalu.

Hokanson mengatakan sekitar 10.000 tentara akan tiba di ibu kota pada hari Sabtu (16/01) untuk membantu meningkatkan keamanan, dan membawa logistik. Dia juga menambahkan bahwa 5.000 tentara tambahan dapat dipanggil dari negara bagian lain.

Dalam tindakan pengamanan ini, wisatawan dilarang mengunjungi Monumen Washington hingga 24 Januari.

Pelantikan presiden biasanya disaksikan oleh ratusan ribu orang yang berkumpul di Washington. Namun kali ini, penyelenggara serta Wali Kota Washington Muriel Bowser telah meminta warga AS untuk tidak melakukan perjalanan ke ibu kota, di tengah masa waspada menjelang pelantikan.

Plt kepala kepolisian Capitol yang baru, Yogananda Pittman, mengatakan pada hari Senin (11/01) bahwa publik tidak diberikan akses masuk ke halaman Capitol selama pelantikan.

Peserta yang dapat menghadiri acara pelantikan presiden telah dikurangi secara drastis akibat pandemi virus corona. Komite pelantikan presiden mengatakan 191.500 bendera dengan ukuran berbeda akan dipasang di Mall Nasional Washington, untuk menggantikan kerumunan yang hilang.

Penyelenggara mengumumkan "America United" sebagai tema pelantikan, kurang dari seminggu setelah massa pendukung Trump membuat kerusuhan di Gedung Capitol.

FBI memperingatkan protes bersenjata jelang pelantikan presiden

Buletin internal FBI pada hari Minggu (10/01) memperingatkan tentang protes bersenjata yang direncanakan di 50 ibu kota negara bagian dan di Washington DC menjelang pelantikan presiden.

FBI memperingatkan bahwa protes nasional diperkirakan dimulai akhir pekan ini dan diperpanjang hingga upacara pelantikan di Washington.

"Protes bersenjata sedang direncanakan di 50 ibu kota negara bagian dari 16 Januari hingga setidaknya 20 Januari, dan di Capitol AS dari 17 Januari hingga 20 Januari," seperti yang tertulis di buletin FBI itu, menurut seorang pejabat yang dikutip oleh Associated Press.

Biden 'tidak takut'

Presiden terpilih AS Joe Biden belum menyatakan kekhawatiran atas keamanannya dirinya.

"Saya tidak takut mengambil sumpah di luar," kata Biden, Senin (11/01). "Sangat penting bahwa akan ada pengamanan yang sangat serius untuk menahan orang-orang yang terlibat dalam penghasutan dan mengancam nyawa, merusak properti publik, menyebabkan kerusakan besar - bahwa mereka harus dimintai pertanggungjawaban."

Trump telah mengumumkan bahwa dia tidak akan menghadiri upacara pelantikan tersebut. Keputusan itu menurut Biden adalah "hal yang baik." Sementara, Wakil Presiden Mike Pence dikabarkan akan hadir.

pkp/rap (AP, Reuters)

Tonton video 'Lusa Vaksinasi Dimulai, Jokowi Jadi yang Pertama':

[Gambas:Video 20detik]




(ita/ita)