Tuntut Balas Dendam, Warga Irak Peringati 1 Tahun Pembunuhan Jenderal Iran

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Senin, 04 Jan 2021 12:07 WIB
Jakarta -

Ribuan warga Irak yang didukung pasukan keamanan Iran menyanyikan slogan anti-Amerika di pusat kota Baghdad pada hari Minggu (03/01), untuk menandai peringatan pembunuhan terhadap jenderal Iran Qassem Soleimani dan komandan milisi Irak oleh Amerika Serikat (AS).

Ribuan warga Irak yang berunjuk rasa meneriakkan "balas dendam" dan "tidak untuk Amerika", satu tahun setelah perisitiwa serangan pesawat nirawak AS menewaskan Soleimani dan letnan Iraknya Abu Mahdi al-Muhandis.

Para demonstran pro-Iran yang mayoritas berpakaian hitam, berkumpul di Tahrir Square kota Baghdad, sembari mengutuk Perdana Menteri Irak Mustafa al-Kadhimi. Mereka menyebut Kadhimi sebagai "pengecut" dan "agen Amerika."

Para demonstran mengibarkan bendera Irak dan PMF - serangkaian kelompok milisi yang secara kolektif dikenal sebagai Pasukan Mobilisasi Populer - dan membawa poster Soleimani dan Muhandis. Keduanya dihormati sebagai komandan Muslim Syiah terkemuka di kawasan itu, di mana politik biasanya dipandang melalui prisma sektarian.

Tak hanya di Irak, dalam beberapa hari terakhir di seluruh Iran dan pendukung di Suriah, Lebanon, Yaman, dan tempat lain juga menandai peringatan ini.

Iran telah mengadakan serangkaian acara peringatan untuk Soleimani, yang dirayakan sebagai "martir". Dia telah diabadikan dalam karya seni, lagu, dan serial TV yang akan tayang. Teheran juga telah meluncurkan otobiografi Soleimani - sebagian besar berfokus pada masa kanak-kanak dan masa dewasa awal - dan merilis perangko untuk menghormatinya.

Hubungan yang retak dengan AS

Peristiwa pembunuhan itu tampaknya hampir membawa Washington dan Teheran ke ambang peperangan pada awal 2020.

Demonstrasi dipimpin oleh jaringan keamanan Hashed al-Shaabi yang pro-Iran, yang didukung oleh negara yang dikomandoi Muhandis.

Setelah pembunuhan, parlemen Irak awalnya memilih untuk mengusir pasukan AS setelah protes rakyat menuntut tindakan tersebut. Tetapi meskipun ada beberapa penarikan, sekitar 3.000 tentara AS tetap berada di Irak.

Dengan ketegangan yang masih tinggi dan bahkan meningkat, warga Irak dan pengamat di kawasan terus waspada, sebelum Presiden AS Donald Trump yang memerintahkan pembunuhan itu, meninggalkan Gedung Putih pada 20 Januari mendatang.

Trump baru-baru ini dalam Twitternya mengatakan bahwa intelijen AS mendengar "obrolan tentang serangan lanjutan terhadap orang Amerika di Irak." Dia memperingatkan bahwa "jika seorang warga Amerika terbunuh, saya akan meminta pertanggungjawaban Iran. Pikirkanlah kembali."

Untuk kedua kalinya dalam sebulan, pesawat pengebom strategis B-52 AS telah terbang melintasi wilayah itu dalam beberapa hari terakhir. Namun, beberapa pihak berpendapat bahwa ketegangan mulai mereda di mana AS dilaporkan telah memerintahkan sebuah kapal induknya untuk meninggalkan kawasan tersebut.

rap/pkp (AFP, AP, Reuters, dpa)

(ita/ita)