Pemilu Baru Israel Diprediksi Akan Lahirkan Dominasi Partai Kanan

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Rabu, 23 Des 2020 18:27 WIB
Tel Aviv -

Sejak beberapa pemilu terakhir, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu gemar menggunakan kelompok kiri sebagai momok politik. Retorikanya dikeluhkan membibit rasa panik terhadap "pemerintahan sayap kiri" di Yerusalem, tulis harian Haaretz.

Terakhir, dia menuduh persekongkolan kiri mendalangi aksi demonstrasi massal yang menggugat praktik korupsi di pemerintahan, dan mengancam meruntuhkan kekuasaannya.

Namun menjelang pemilihan umum pada Maret tahun depan, Netanyahu mendapati dirinya berada di dalam situasi yang sama sekali berbeda. Karena dua kandidat rival terkuatnya, Gideon Sa'ar dan Naftali Benett, juga berasal dari spektrum kanan dan dikenal sebagai tokoh Zionis konservatif.

Keputusan digelarnya pemilihan umum legislatif keempat dalam dua tahun terakhir itu diumumkan Selasa (22/12) lalu. Langkah ini diambil sebagai buntut perselisihan seputar anggaran negara antara Benjamin Netanyahu dan Perdana Menteri alternatif merangkap Menteri Pertahanan, Benny Gantz.

Kedua tokoh membentuk pemerintahan persatuan nasional setelah mereka gagal membukukan kemenangan mutlak di tiga pemilu terakhir. Menurut perjanjian politik antara kedua kubu, Gantz seharusnya mendapat rotasi jabatan sebagai perdana menteri pada paruh kedua masa pemerintahan.

Namun rencana rotasi jabatan PM itu batal menyusul kegagalan kabinet menyepakati postur anggaran untuk tahun depan.

Punahnya kandidat kiri-tengah

Momentum penyelenggaraan pemilihan umum dinilai merugikan Gantz, yang oleh Times of Israel disebut sedang menjalani babak terakhir sebuah karier politik "yang tidak membahagiakan."

Menurut hasil jajak pendapat terakhir, koalisi Biru Putih pimpinan Gantz yang mendapat 33 kursi di parlemen pada pemilu Maret lalu, diprediksi hanya akan bisa mengirimkan lima perwakilannya ke Knesset pada pemilu mendatang.

Tidak heran jika Gantz meradang. "Netanyahu mengumumkan pemilu untuk satu tujuan, yakni menghindari pengadilan," tulisnya lewat Twitter, merujuk pada dugaan Netanyahu ingin membuat legislasi yang menjamin kekebalan hukum dalam kasus dugaan korupsi.

Gantz awalnya merupakan harapan terbesar bagi kelompok kiri-tengah untuk menggeser PM Netanyahu dan pemerintahan sayap kanan Israel. Koalisinya antara lain menolak aneksasi Tepi Barat, dan mengkampanyekan pluralisme di masyarakat Israel yang bergeser kian ke kanan.

Namun selama berada di kabinet, dia berulangkali tertohok oleh manuver politik Netanyahu. Gantz misalnya tidak dilibatkan dalam proses normalisasi hubungan diplomasi dengan negara-negara Arab. Dia mengaku tidak diberitahu saat Netanyahu berkunjung ke Arab Saudi untuk menemui Pangeran Mohammed bin Salman, beberapa bulan silam.

Ketika keretakan di tubuh kabinet kian melebar, Gantz yang menghadapi anjloknya popularitas, menyetujui pembubaran parlemen awal Desember lalu. Dalam pernyataannya dia menuduh Netanyahu "telah berbohong kepada kalian semua".

Musuh dari kanan

Sejumlah analis politik meyakini kisruh anggaran sengaja dikobarkan Netanyahu untuk memaksakan pemilu. Dengan cara itu dia berharap bisa membebaskan diri dari persekutuan politik dengan Benny Gantz, demikiam laporan Reuters.

Kini Netanyahu mendapat pesaing berat dari kubu sendiri. Gideon Sa'ar, yang membelot dari Partai Likud pimpinan Netanyahu, kini diprediksi sama kuat dalam berbagai jajak pendapat. Sa'ar mengundurkan diri dari Knesset pada pertengahan Desember lalu dan membentuk partai Harapan Baru.

Menurut survei teranyar, partai Harapan Baru diprediksi akan mampu meraup hingga 20 kursi di parlemen, sementara Partai Likud akan mendapat 28 dari 120 kursi.

Selain Sa'ar, Netanyahu juga harus menghadapi Menteri Pendidikan, Naftali Benett, pemimpin partai kanan jauh, Yamina. Dia berulangkali mengungkapkan ingin menggeser Netanyahu, dan melarang legislasi yang melindungi sang perdana menteri dari proses hukum.

Adapun sekutu lama Netanyahu, Avigdor Lieberman, juga membentuk partai sendiri dan menyebut sang perdana menteri tidak layak untuk menjabat.

Rivalitas politik di Yerusalem lebih bersifat pribadi, ketimbang perselisihan ideologi, tulis kantor berita AP. Sebabnya analis meyakini, siapapun yang akan memenangkan pemilu mendatang, Israel bisa dipastikan akan kembali memiliki pemerintahan sayap kanan yang menentang kemerdekaan Palestina, dan mendukung pendudukan atau aneksasi Tepi Barat Yordan.

rzn/as (rtr, ap, haaretz, timesofisrael, jp, afp)

(nvc/nvc)