Sampah Tak Terlihat di Balik Produksi Laptop dan Ponsel

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Selasa, 22 Des 2020 13:46 WIB
Jakarta -

Kebanyakan orang mengira mereka mengetahui soal sampah. Setiap tahun, orang di seluruh dunia menghasilkan sekitar dua miliar metrik ton sampah. Tapi ini hanya sampah yang bisa kita lihat.

"Sampah yang kita tangani adalah persentase kecil dari keseluruhan sampah, hanya sekitar 2 sampai 3% saja," kata Josh Lepawsky, penulis buku tentang dampak global pembuatan teknologi digital.

Proses ekstraksi sumber daya, manufaktur, transportasi, dan produksi listrik yang sulit dilacak adalah sebagian besar limbah dunia yang dihasilkan untuk membuat barang yang kita beli. Hal ini terutama berlaku untuk barang elektronik, yang merupakan penyumbang sampah dengan pertumbuhan tercepat di dunia dan salah satu sumber limbah terbesar yang tak terlihat.

"Kehadiran sebagian besar polusi dan limbah elektronik sudah ada jauh sebelum orang memegang perangkat mereka," kata Lepawsky, yang juga seorang profesor geografi di Memorial University of Newfoundland di St. John's, Kanada.

Memproduksi barang elektronik melibatkan bahan kimia berbahaya tingkat tinggi, air, hingga gas rumah kaca. Sebagian besar proses ini sama sekali tidak terlihat oleh konsumen rata-rata dan sulit untuk dihitung. Barang elektronik terdiri dari banyak komponen, kebanyakan bersumber dan diproduksi di lokasi berbeda di seluruh dunia sebelum dirakit seluruhnya di tempat lain.

Menambang logam mulia

Ponsel cerdas biasa, misalnya, dapat terdiri dari 62 logam berbeda. Di antara banyaknya komponen kecil iPhone adalah emas, perak, dan paladium. Logam mulia ini yang sebagian besar diekstraksi di Asia, Afrika, dan Australia perlu ditambang terlebih dahulu.

Sebuah studi oleh manajemen limbah Swedia dan asosiasi daur ulang Avfall Sverige menghitung limbah tak terlihat yang dihasilkan smartphone biasa dan laptop seberat 3 kilogram, masing-masing terdiri dari sekitar 86 dan 1.200 kilogram limbah.

"[Angka] itu termasuk batu, kerikil, tailing, dan terak," kata Anna Carin Gripwall, salah satu penulis studi tersebut. "Produksi perangkat elektronik juga menggunakan bahan bakar dan listrik - tapi jumlahnya sangat kecil dibandingkan dengan limbah pertambangan."

"Perusahaan kotor"

Pemotongan, pengeboran, peledakan, pengangkutan, dan pemrosesan yang terlibat dalam penambangan logam mulia dapat melepaskan debu yang mengandung logam dan bahan kimia berbahaya ke udara dan sumber air di sekitarnya.

"Setelah Anda menggali bijih, Anda harus memisahkan bahan yang terkonsentrasi," kata Fu Zhao, profesor teknik mesin di Universitas Purdue di negara bagian Indiana, Amerika Serikat (AS). "Mereka sulit diuraikan, jadi Anda perlu menggunakan bahan kimia dan suhu tinggi." Proses ini menjadi sangat problematis bila dilakukan dalam skala besar, tambahnya.

Tanpa pengawasan yang tepat, komponen beracun ini dapat mencemari air tanah, meresap ke lembah dan sungai, serta merusak tanah, tumbuhan, dan hewan, serta mengancam kesehatan populasi manusia.

Fakta ini tidak berarti bahwa menambang logam mulia secara inheren akan berdampak buruk bagi lingkungan, kata Saleem Ali, profesor energi dan lingkungan di Universitas Delaware di AS.

"Tantangannya hanya bagaimana cara mengelolanya agar tidak merusak lingkungan," ujarnya. "Anda harus menemukan cara agar pelarut beracun ini tidak memasuki pasokan air tanah, dan memberi orang yang bekerja di area ini peralatan pelindung sehingga mereka tidak menghirup bahan organik yang mudah menguap."

Bagian penting dari mencapai "penambangan hijau" adalah menggunakan lebih banyak sumber energi terbarukan, kata Ali.

Cina, Hong Kong dan AS produsen terbesar

Merakit barang elektronik juga menghasilkan limbah dalam jumlah besar, yang kebanyakan mengandung racun.

Banyak gas yang digunakan dalam pembuatan komponen elektronik tertentu, seperti gas rumah kaca berflourinasi yang digunakan untuk penyaringan, "jauh lebih kuat daripada karbon dioksida," kata Lepawsky.

Sebagian besar perangkat elektronik sekarang diproduksi di Cina, Hong Kong, AS, dan negara-negara di Asia Tenggara. Bagian dari kesulitan memasukkan limbah tak terlihat ke dalam banyak produk modern, terutama elektronik, memiliki rantai pasokan yang panjang dan rumit.

Meskipun Apple menerbitkan daftar 200 pemasok teratasnya yang berlokasi di 27 negara berbeda, sebagian besar fasilitas pemasok mereka ada di tempat-tempat tanpa register.

Batasan daur ulang barang elektronik

Dari sekian banyak perangkat elektronik dunia saat ini, hanya 17,4% yang dikumpulkan dan didaur ulang secara resmi. Bahkan jika 100% dari barang elektronik ini berhasil didaur ulang, jumlah tersebut tidak akan menutup polusi dan limbah yang timbul dalam manufaktur, dan hanya terdapat sedikit perbedaan pada limbah pertambangan, kata Lepawsky. Kurangnya daur ulang limbah elektronik, bagaimanapun, menyoroti sebagian dari masalah tersebut.

"Jika Anda melihat perangkat elektronik, mereka tidak dirancang untuk digunakan kembali atau diproduksi ulang," kata Zhao.

Apple telah berjanji untuk menjadi 100% karbon netral pada tahun 2030 dan baru-baru ini menanggapi kekhawatiran yang berkembang tentang limbah elektronik dengan memutuskan untuk tidak menjual earphone dan pengisi daya di setiap produk baru iPhone, serta berjanji untuk meningkatkan penggunaan bahan daur ulang dalam produksinya.

Namun Zhao mengatakan kemajuan teknologi yang begitu cepat yang bertempat di perangkat yang sangat kompleks dan sulit untuk dibongkar membuat tujuan tersebut menjadi tantangan.

"Ponsel Anda mungkin menjadi usang hanya dalam beberapa tahun ... Itu membuat penggunaan kembali dan pembuatan ulang hampir tidak mungkin," katanya. "Perusahaan teknologi harus menghasilkan uang ... Tapi pada saat yang sama, hal itu memiliki konsekuensi bagi lingkungan." (ha/pkp)

(ita/ita)