Pecahkan Rekor, Emisi Karbon Global Turun 7 Persen di Masa Pandemi

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Jumat, 11 Des 2020 18:35 WIB
Jakarta -

Dalam studi Proyek Karbon Global yang dirilis pada Jumat (11/12), dilaporkan emisi karbon dioksida pada tahun 2020 turun sebesar 7%. Ini adalah penurunan terbesar yang pernah ada. Penurunan ini disebabkan karena negara-negara di seluruh dunia memberlakukan kebijakan penguncian dan pembatasan dalam upaya menahan laju penyebaran virus korona.

Pada tahun di mana pandemi corona tengah berlangsung, emisi karbon terpangkas sekitar 2,4 miliar metrik ton, memecahkan rekor penurunan tahunan sebelumnya, antara lain 0,9 miliar metrik ton pada akhir Perang Dunia II atau 0,5 miliar metrik ton pada tahun 2009 ketika krisis keuangan global melanda.

Para peneliti mengatakan emisi turun dikarenakan banyak orang tetap tinggal di rumah dan lebih sedikit orang bepergian dengan mobil atau pesawat.

Sektor transportasi jadi penyumbang terbesar dari penurunan angka emisi karbon dioksida global.

Emisi dari transportasi darat turun sekitar setengahnya pada bulan April ketika gelombang pertama virus corona mencapai puncaknya. Pada bulan Desember ini, emisi transportasi darat telah turun 10% dari Desember tahun lalu. Emisi dari penerbangan juga dilaporkan turun 40% tahun ini.

Sementara aktivitas industri, yang menyumbang 22% dari total emisi global, turun 30% di beberapa negara sebagai dampak dari kebijakan penguncian yang ketat. AS dan Uni Eropa mengalami penurunan emisi yang paling menonjol, masing-masing turun 12% dan 11%. Namun, di Cina hanya turun sebesar 1,7% di mana saat ini negeri Tirai Bambu itu tengah berusaha memulihkan kondisi ekonominya.

Salah satu penulis studi, Corinne LeQuere, seorang ilmuwan iklim di Universitas East Anglia menjelaskan mengapa Cina mengalami penurunan yang rendah. Cina disebut menerapkan lockdown lebih awal dan tidak mengalami gelombang kedua virus corona separah negara-negara lain. Emisi Cina lebih besar disumbangkan oleh sektor industri daripada transportasi.

Berdasarkan Perjanjian Iklim Paris, yang ditandatangani lima tahun lalu, pengurangan emisi sebesar 1 hingga 2 miliar metrik ton per tahun pada dekade ini diperlukan untuk membatasi suhu global agar tidak naik melebihi 2 derajat Celcius. Sejak tahun 2015, emisi karbon global terus meningkat setiap tahunnya. PBB mengatakan angka emisi harus turun 7,6% setiap tahun pada 2030 agar kenaikan suhu tidak melebihi angka yang lebih ambisius ditargetkan, yakni 1,5 derajat Celcius.

Lockdown bukan solusi

"Tentu saja, penguncian sama sekali bukan cara untuk mengatasi perubahan iklim," kata LeQuere.

Para ahli telah memperingatkan bahwa emisi dapat meningkat kembali setelah pandemi berakhir, meskipun masih terlalu dini untuk mengatakan dengan cepat bahwa emisi akan melonjak kembali. Tren emisi jangka panjang akan bergantung pada bagaimana negara-negara di dunia menjalankan pemulihan ekonomi pascapandemi.

"Semua elemen belum bersatu untuk penurunan berkelanjutan emisi global, dan emisi perlahan-lahan kembali ke level 2019," kata LeQuere.

Transisi ke energi bersih untuk tekan angka emisi karbon

Sementara itu, Philippe Ciais, seorang peneliti di Laboratorium Ilmu Iklim dan Lingkungan Prancis menyampaikan bahwa tanpa pandemi, jejak karbon dari negara seperti Cina akan terus bertambah pada 2020.

"Ini jeda sementara," katanya. "Cara untuk memitigasi perubahan iklim bukanlah dengan menghentikan aktivitas melainkan untuk mempercepat transisi ke energi rendah karbon."

Ciais menambahkan, penurunan emisi tahun 2020 belum dihitung ke dalam penurunan tingkat polusi karbon di atmosfer bumi.

Chris Field, Direktur Institut Lingkungan Stanford Woods, lebih optimis tentang masa depan. Meskipun dia juga percaya bahwa emisi akan meningkat setelah pandemi, dia yakin bahwa orang-orang menjadi lebih sadar lingkungan.

"Saya optimis bahwa kita, sebagai masyarakat telah belajar beberapa pelajaran yang dapat membantu menurunkan emisi di masa depan," kata Field. "Misalnya, ketika orang-orang menjadi ahli dalam bekerja dari rumah beberapa hari dalam seminggu atau menyadari bahwa mereka tidak memerlukan banyak perjalanan bisnis, kami mungkin melihat penurunan emisi di masa depan terkait perilaku," pungkasnya.

rap/hp (AP, AFP)

(ita/ita)