Laporan Penyelidikan Ungkap Serangan di Masjid Christchurch Tak Mampu Dicegah

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Selasa, 08 Des 2020 14:46 WIB
Seorang perempuan meletakan bunga di depan pintu masuk Masjid An-Nur di Christchurch, Selandia Baru.
Foto: Getty Images/L Maree Williams
Wellington -

Laporan terbaru yang dirilis pada Selasa (08/12) memuat hasil penyelidikan terhadap serangan di dua masjid di Christchurch, Selandia Baru, pada tahun 2019. Laporan itu mengungkapkan bahwa dinas keamanan tidak memberikan penanganan yang fokus terhadap ancaman teror sayap kanan, dan hanya bisa mencegah serangan "secara kebetulan."

Penyelidikan yudisial ini menyerukan 44 perubahan kunci pada operasi kontra-terorisme sebagai respons atas pembunuhan 51 jemaah Muslim oleh seorang pria pendukung supremasi kulit putih.

Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern menyambut baik terbitnya laporan yang memuat hampir 800 halaman dan sejumlah rekomendasi di dalamnya.

"Komisi Kerajaan tidak menemukan kegagalan dalam lembaga pemerintah mana pun yang memungkinkan terdeteksinya perencanaan dan persiapan individu, tetapi mengidentifikasi banyak pelajaran yang bisa diambil dan area signifikan yang membutuhkan perubahan," ujar Ardern lewat sebuah pernyataan.

Serangan yang tidak bisa dicegah

Laporan tersebut menyimpulkan bahwa tidak ada tanda-tanda jelas yang menunjukkan adanya ancaman dari pelaku penyerangan, karena pelaku tidak banyak berinteraksi dengan orang-orang di Selandia Baru.

Pelaku penyerangan itu telah teradikalisasi secara online, terutama melalui YouTube, saat tinggal di Australia. Pelaku kemudian menggunakan uang warisan dari ayahnya untuk berkeliling dunia, sebelum akhirnya menetap di Selandia Baru pada tahun 2017.

Dia hanya melakukan interaksi minim dengan orang-orang saat mempersiapkan serangannya dan mampu membuat orang-orang tidak curiga padanya. Karena itu, tidak banyak tanda-tanda yang bisa diketahui pihak berwenang untuk mencegah serangannya.

Mudahnya akses terhadap senjata

Laporan itu mengkritik mudahnya penyerang untuk mendapatkan akses senjata, dengan mencatat bahwa sistem pemeriksaan tidak dikelola dengan benar.

Saat mengajukan lisensi senjata, pelaku hanya memberi identitas seorang teman bermain game internet dan ayah dari temannya itu, sebagai syarat dua saksi yang dibutuhkan untuk memberikan keterangan berkelakuan baik. Petugas pemeriksaan mewawancarai keduanya dan menyimpulkan bahwa pelaku diperbolehkan mendapat izin senjata.

Komisaris Polisi Andrew Coster mengatakan bahwa sehubungan dengan pemeriksaan tersebut, "kami perlu berbuat lebih banyak lagi untuk mempertimbangkan apakah kedua saksi tersebut cukup mengenal individu yang mengajukan lisensi senjata."

Namun laporan itu juga mencatat bahwa pembatasan lisensi senjata hanya akan menunda penyerangan, bukan mencegahnya.

Keluarga korban mengharapkan perubahan

Laporan terkait penyelidikan serangan di Christchurch yang baru dirilis hari ini Selasa (08/12), awalnya diharapkan rilis pada Desember 2019. Keluarga para korban tewas dalam serangan Christchurch menyesalkan lambatnya penyelidikan.

"Meskipun laporan itu membawa memori yang sulit, namun beberapa pertanyaan telah terjawab, meski tidak semua," kata Omar, ayah salah satu korban serangan Christchurch.

Bagi Omar, masih ada pertanyaan tentang akuntabilitas, tetapi dia menyambut baik penerimaan pemerintah atas rekomendasi laporan tersebut.

Keluarga juga menyambut baik persetujuan Ardern untuk menerima 44 rekomendasi dalam laporan itu, termasuk mendirikan badan keamanan baru dengan pendanaan yang baik untuk menangani ancaman serangan yang muncul.

Laporan itu juga menyatakan bahwa fokus pada terorisme Islam menjadi penyebab lemahnya pencegahan teror sayap kanan di Selandia Baru.

Ardern mengatakan berencana untuk berbicara secara langsung dengan para pemimpin YouTube, terkait peran platform mereka dalam radikalisasi sayap kanan.

pkp/gtp (AP AFP, dpa)

(nvc/nvc)