Selama Pandemi, Buruh Anak di Tambang Berlian Republik Afrika Tengah Meningkat

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Jumat, 04 Des 2020 18:35 WIB
Jakarta -

Sejak sekolahnya terpaksa ditutup untuk meredam sebaran wabah COVID-19 pada Maret lalu, Papin terpaksa bekerja selama enam hari seminggu di sebuah tambang berlian di Republik Afrika Tengah. Karung-karung berisi lumpur dan puing-puing ia angkut setiap hari di bawah terik matahari.

Papin termasuk di antara belasan buruh anak yang bekerja di tambang terbuka di dekat kota Ngoto yang terletak di wilayah selatan Republik Afrika Tengah. Ada sekitar 100 penambang bekerja di tambang itu, sekop dan saringan mereka gunakan untuk menyisir tanah berwarna merah guna mencari berlian. Sama sekali bukan pekerjaan mudah, dan Papin ingin sekali kembali ke dalam kelas.

Kepada Thomson Reuters Foundation, remaja itu mengaku berusia 16 tahun, tapi ia jelas terlihat jauh lebih muda. "Saya datang ke sini untuk membantu abang saya," ujar Papin singkat karena tampak pengawas lokasi tambang mengamatinya.

Di lokasi itu, tersisa beberapa pohon yang menawarkan rindang bayangannya untuk sedikit jeda dari terik matahari. "Saya lebih suka sekolah. Saya lebih suka berpikir, di sini pekerjaannya terlalu berat," kata Papin yang namanya diubah untuk melindungi identitasnya.

Buruh anak di tambang berlian meningkat 50%

Kebijakan lockdown yang diikuti penutupan sekolah-sekolah telah menyebabkan jumlah buruh anak di tambang berlian di negara itu meningkat tajam. Republik Afrika Tengah yang kaya akan berlian memang tengah dilanda perang dan merupakan salah satu negara dengan tingkat buruh anak tertinggi di dunia, kata aktivis pembela hak buruh.

Pekerja anak di tambang berlian telah meningkat 50 persen dalam beberapa bulan setelah sekolah ditutup, menurut Layanan Informasi Perdamaian Internasional, sebuah layanan penelitian independen yang mendasarkan informasinya dari pemantauan di 105 tambang.

Secara resmi, undang-undang pertambangan di Republik Afrika Tengah memang melarang pekerja anak. Para pihak yang melanggar dapat dihukum dengan denda dan kurungan hingga tiga tahun penjara. Tetapi sejauh ini, penegakan hukum sangatlah buruk dan pihak berwenang mengatakan mereka hanya punya sedikit kendali atas apa yang terjadi di tambang.

Kaya berlian, tapi penduduknya miskin

Tidak ada data yang dapat diandalkan untuk mengetahui jumlah total buruh anak yang bekerja di tambang berlian di Republik Afrika Tengah. Dikutip dari laporan terbuka dari lembaga survei geografi milik pemerintah Amerika Serikat (US Geographical Survey) tentang basis data produsen skala kecil berlian dan artisan berlian yang dipublikasikan tahun 2018, berlian adalah sumber daya penting bagi pemasukan ekspor Republik Afrika Tengah.

Selama beberapa dekade terakhir, ekspor berlian negara ini berfluktuasi antara 100.000 hingga 450.000 karat per tahunnya. Meski demikian, negara ini tetap terbelakang. Penduduknya sebagian besar miskin bukan kepalang.

Sejak tahun 2013, negara ini telah diguncang konflik dan kekerasan. Saat itu, sebagian besar pemberontak Muslim Seleka menggulingkan Presiden Francois Bozize. Ribuan orang tewas karena kerusuhan tersebut dan satu dari tiap lima penduduknya terpaksa menjadi pengungsi. Hingga kini sebagian besar wilayah di Republik Afrika Tengah masih berada di luar kendali pemerintah. Banyak pula tambang yang dikuasai kelompok bersenjata yang masih menguasai lebih dari 60 persen wilayah negara ini.

Sejarah panjang perburuhan anak

Perburuhan anak di pertambangan berlian di Republik Afrika Tengah memang sama sekali bukan hal baru. Sebagai contoh, pemilik tambang di Ngoto tempat Papin bekerja juga menjadi buruh pada usia tujuh tahun, membantu orang tuanya yang juga penambang. Dia juga tidak pernah bersekolah, hasil pertambangan telah bisa menopang hidupnya. Kini ia mampu mengirim 14 anaknya ke sekolah dan melunasi dua buah rumah.

"Saya tidak ingin melihat mereka di tambang, tempat mereka adalah di sekolah," ujar pemilik tambang berusia 32 tahun itu. Seperti Papin, ia juga tidak mau disebutkan namanya. "Ketika mereka bekerja di tambang, mereka tidak lagi berpikir, yang menjadi perhatian mereka hanyalah uang. Saya bangga dapat mengirim dua anak saya untuk belajar di Bangui," tambahnya.

Berlian adalah salah satu sumber pendapatan utama di wilayah tempat tambang tersebut berada, tetapi COVID-19 telah mempengaruhi ekspor batu mulia tersebut. Sebagian besar berlian produksi Republik Afrika Tengah terkena embargo ekspor di bawah inisiatif Kimberley Process, yakni sebuah inisiatif gabungan dari pemerintah, industri, dan masyarakat sipil guna membendung aliran berlian darah.

Para penambang di wilayah tersebut hanya berpenghasilan sekitar Rp 170 ribu per minggunya. Upah ini termasuk minim dan seringnya tidak cukup untuk biaya hidup di sana. Karena itu, bukan hal aneh bila para penambang meminta bantuan keluarga yang masih di bawah umur untuk ikut bekerja karena mereka butuh penghasilan tambahan.

"Adik laki-laki saya sangat membantu, dia lebih baik di sini daripada di rumah tanpa ada pekerjaan," kata Marc, 42, seorang penambang di Ngoto yang meminta untuk diidentifikasi hanya dengan nama depannya. Adik Marc juga masih di bawah umur.

Sementara itu, seorang guru lokal bernama Jean-Bruno Dianekokoyen, yang juga pernah bekerja di industri berlian, mengatakan dia telah melihat banyak anak muda meninggalkan sekolah untuk bekerja di pertambangan, meski gajinya kecil.

"Berlian itu ibarat lotre dan itu membuat mereka gila," ungkapnya. "Para penambang menemukan batu-batu kecil, tapi mereka berharap suatu hari bisa menemukan batu yang besar, berlian dengan ukuran lebih dari lima karat."

Bahkan, jika mereka menemukan batu dengan ukuran yang berharga, ujar Dianekokoyen, mereka "menghabiskan uang hasil penjualan batu tersebut untuk hal-hal yang tidak berguna dan kembali jatuh miskin."

"Berlian memang bisa membawa kekayaan. Tapi seringnya, itu hanya membawa kemiskinan," ujarnya.

ae/vlz (Thomson Reuters Foundation, usgs.gov)

(ita/ita)