'Universitas Jihad' Pakistan Berbangga Atas Alumninya

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Rabu, 18 Nov 2020 17:52 WIB
dw
Sekolah Darul Uloom di Pakistan (AFP/Getty Images)
Jakarta -

Maulana Yousaf Shah tersenyum lebar saat dia menyebutkan daftar mantan siswa yang kini telah menjadi pemimpin Taliban, bersuka ria dalam kemenangan mereka atas negara adidaya di medan perang Afganistan setelah lulus dari "universitas jihad" Pakistan.

Dilansir dari kantor berita AFP, sekolah agama Darul Uloom Haqqania telah menghasilkan orang-orang yang merupakan petinggi Taliban - termasuk banyak yang sekarang berada di tim perunding kelompok garis keras yang mengadakan pembicaraan dengan pemerintah Kabul untuk mengakhiri perang selama 20 tahun.

"Rusia dihancurkan oleh para mahasiswa dan lulusan Darul Uloom Haqqania dan Amerika juga dikirim berkemas pulang," kata Shah, seorang ulama berpengaruh di sekolah agama yang oleh para kritikus dijuluki sebagai "universitas jihad"itu. "Kami bangga," ujar Shah.

Kampus yang terletak di Akora Khattak, Pakistan, sekitar 60 kilometer timur dari Peshawar ini, adalah rumah bagi sekitar 4.000 siswa yang mendapatkan fasilitas makan, pakaian, dan pendidikan secara gratis.

Sekolah yang telah berada di persimpangan kekerasan militan regional selama bertahun-tahun itu, mendidik banyak pengungsi Pakistan dan Afghanistan - beberapa di antaranya kembali ke kampung halaman masing-masing untuk berperang melawan Rusia dan Amerika atau menyerukan jihad, demikian dikutip dari AFP.

Dapat dukungan dari negara

Terlepas dari nama buruknya di beberapa tempat, sekolah tersebut telah menikmati dukungan negara di Pakistan, di mana partai politik arus utama sangat terkait dengan faksi agama.

Dalam sebuah video yang diposting online bulan ini, para pemimpin Darul Uloom Haqqania menyombongkan diri mendukung pemberontakan Taliban di Afghanistan. Video itu membuat marah pemerintahan di Kabul yang sedang memerangi gelombang kekerasan di seluruh wilayah saat AS bersiap untuk menarik pasukan.

Madrasah seperti Haqqania ini "melahirkan jihadisme radikal, menghasilkan Taliban dan mengancam negara kita", ujar Sediq Sediqqi, juru bicara Presiden Afghanistan Ashraf Ghani, kepada AFP, seraya menuntut penutupan sekolah itu.

Para pemimpin Afghanistan berpendapat bahwa persetujuan Pakistan atas madrasah tersebut adalah bukti bahwa mereka mendukung Taliban.

Di lain pihak, Shah mencemooh anggapan bahwa madrasah itu mendorong kekerasan, menurutnya yang dilakukan adalah membela hak dengan menargetkan pasukan asing. "Jika seseorang bersenjata memasuki rumah Anda dan Anda diancam ... maka Anda pasti akan mengangkat senjata," kata Shah.

Mendiang pemimpin madrasah, Sami-ul-Haq pernah menyebut menjadi penasihat pendiri Taliban, Mullah Omar – dan memberinya julukan "Bapak Taliban". Haq kemudian mengirim mahasiswa untuk memperjuangkan gerakan tersebut ketika ia mengeluarkan seruan angkat senjata saat naik ke tampuk kekuasaan pada tahun 90-an.

Jaringan Haqqani, faksi ultra-kekerasan Taliban, dinamai sesuai nama madrasah tempat pemimpinnya pernah mengajar dan para pemimpin berikutnya belajar.

Beberapa ekstremis Pakistan yang kemudian menyerang negara mereka sendiri juga dikaitkan dengan madrasah tersebut, termasuk pelaku bom bunuh diri yang membunuh mantan Perdana Menteri Benazir Bhutto.

"Madrasah Haqqania berada di jantung salah satu jaringan ulama Sunni garis keras paling penting dan berpengaruh," kata analis Michael Semple.

"Ada harapan bahwa sebagian besar lulusan dari Afganistan akan dengan mulus menerima posisi tanggung jawab dalam struktur (Taliban)."

Namun Semple menepis anggapan bahwa madrasah berfungsi sebagai "pabrik teroris" di mana siswa menerima pelatihan tempur atau memiliki andil dalam keputusan strategis kelompok militan.

Sebaliknya, seperti universitas elite Barat yang memasukkan anak-anak baru ke dalam ruang rapat perusahaan dan partai politik, kontribusi Haqqania terhadap pemberontakan terletak pada ikatan yang ditempa di ruang kelasnya.

Para lulusan bersikukuh bahwa mereka tidak menerima pelatihan militer di Haqqania dan tidak diwajibkan untuk ikut berperang di Afghanistan, tetapi mengakui bahwa jihad dibahas secara terbuka, termasuk dalam "ceramah khusus" yang dilakukan oleh para instruktur dari Afganistan.

"Mahasiswa mana pun yang ingin berjihad bisa ikut selama liburan," kata ulama Sardar Ali Haqqani, lulusan tahun 2009 dari madrasah itu.

Menurut laporan AFP, madrasah tersebut menerima dukungan besar dan uang tunai selama tahun 1980-an ketika mereka berfungsi sebagai jalur pasokan secara 'de facto' untuk jihad anti-Soviet yang didukung oleh AS dan Arab Saudi, dan tetap dekat dengan lembaga keamanan Pakistan sejak saat itu.

Partai Perdana Menteri Pakistan Imran Khan juga menghabiskan jutaan dolar AS di Madrasah Haqqania sebagai imbalan atas dukungan politiknya.

Madrasah ini telah lama menjadi jalur kehidupan penting bagi jutaan anak-anak miskin di Pakistan dan Afghanistan, di mana layanan sosial selalu kekurangan dana.

Pejabat pemerintah dan aktivis telah memperingatkan tentang ketergantungan yang berlebihan pada madrasah, mengklaim para siswa dicuci otak oleh ulama garis keras yang lebih menitikberatkan pada pembelajaran hafalan Alquran daripada mata pelajaran inti seperti matematika dan sains.

Kegelisahan di Pakistan

Bahkan militer Pakistan - yang secara rutin dituduh mendukung Taliban - telah mengakui bahwa madrasah ini telah menambah ketidakpastian di wilayah tersebut.

"Apakah mereka akan menjadi [ulama] atau akan menjadi teroris?" tanya Panglima Militer Pakistan Qamar Javed Bajwa pada tahun 2017 dengan memperkirakan terdapat 2,5 juta siswa yang terdaftar di ribuan madrasah d Pakistan.

Yang lain bertanya-tanya apa arti kemenangan pemberontak di Afghanistan bagi sekolah garis keras itu, karena khawatir kembalinya pemerintah Taliban di Kabul dapat menginspirasi gelombang baru kekerasan di Pakistan.

"Sekarang ketika Amerika menarik diri dari Afghanistan, kita akan dibebani dengan masalah besar, karena hal itu pada dasarnya adalah kemenangan bagi mereka," kata Pervez Hoodbhoy, seorang aktivis anti-ekstremis terkemuka di Pakistan. "Kemenangan mereka akan membuat mereka lebih berani," pungkasnya.

ap/vlz(afp, berbagai sumber)

(ita/ita)