ASEAN dan China Bersiap Ratifikasi Perjanjian Dagang Terbesar di Dunia

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Jumat, 13 Nov 2020 10:32 WIB
Jakarta -

Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional atau RCEP menjadi agenda utama dalam Konferensi Tingkat Tinggi virtual ASEAN, yang dimulai pada Kamis (12/11) dan akan berlangsung setidaknya selama empat hari hingga 15 November mendatang.

Pada hari pamungkas itu semua negara dijadwalkan meratifikasi kesepakatan dagang, yang mengikat 15 negara Asia Pasifik, yakni negara anggota ASEAN, ditambah Cina, Korea Selatan, Jepang, Australia, dan Selandia Baru, dalam sebuah zona ekonomi baru.

Berdasarkan ukuran Produk Domestik Brutto (PDB) milik semua negara anggota, RCEP yang digagas pada 2012 akan menjadi kesepakatan perdagangan bebas terbesar di dunia.

"Setelah delapan tahun perundingan yang penuh keringat, darah, dan air mata, kami akhirnya tiba pada saat ketika kita akan menandatangani perjanjian RCEP, hari Minggu ini," kata Menteri Perdagangan Malaysia, Mohamed Azmin Ali.

Pun Perdana Menteri Vietnam, Nguyen Xuan Phuc, memastikan bahwa kesepakatan itu akan ditandatangani pada hari terakhir pertemuan.

Ambisi geopolitik Cina

RCEP yang digalang Cina menggeser zona perdagangan bebas usulan AS untuk kawasan Asia Pasifik yang dibatalkan oleh Presiden Donald Trump beberapa tahun silam. Adapun kekuatan regional lain, India, menarik diri lantaran khawatir dibanjiri produk murah asal Cina.

Meski demikian India masih bisa bergabung di kemudian hari jika diinginkan oleh pemerintah di New Delhi.
RCEP yang mewakili 30% Produk Domestik Bruto global diyakini bisa menjadi "langkah positif yang besar menuju liberalisasi perdagangan dan investasi," di kawasan, kata Rajiv Biswas, Direktur Asia Pasifik untuk lembaga konsultan ekonomi, IHS Markit.

Bagi negara-negara ASEAN, pakta tersebut membuka peluang besar untuk memulihkan ekonomi menyusul resesi panjang akibat pandemi corona. Terlebih selama ini, angka infeksi yang relatif lebih rendah di kawasan belum membuahkan dampak positif bagi perekonomian, tulis lembaga konsultan McKinsey dalam laporannya, awal September lalu.

Sementara untuk Cina, perjanjian ini bisa menjadi mekanisme efektif untuk mendikte aktivitas perdagangan di Asia Pasifik, yang mengalami vakum setelah Presiden Donald Trump membatalkan keterlibatan AS dalam perjanjian dagang Kemitraan Trans-Pasifik (TPP).

Sebab itu RCEP dinilai "memberikan keunggulan bagi ambisi geopolitik Cina," kata Alexander Capri, analis perdagangan di Universitas Nasional Singapura (NSU).

ASEAN bidik pemulihan ekonomi pasca pandemi

Soal bagaimana pergantian pemerintahan di Washington akan mengubah pendekatan AS di kawasan, Capri meyakini "pemerintahan Joe Biden akan menjadi episode sambungan dari pemerintahan Barack Obama, terutama jika menyangkut poros Asia," tuturnya.

Kebijakan isolasionisme ala Presiden Trump diyakini memperlemah posisi AS dalam sejumlah isu kunci, terutama dalam kisruh kedaulatan di Laut Cina Selatan. Konflik teritorial enam negara itu juga diagendakan bakal dibahas dalam KTT ASEAN ke-37 di Vietnam.

Tapi ketika negara-negara ASEAN bergulat mengatasi dampak pandemi, ditambah iming-iming mendapat prioritas utama pembagian vaksin dari Cina, proses penyelesaian konflik di Laut Cina Selatan semakin mengarah pada peta jalan damai yang digagas Beijing, yakni melalui kemitraan dagang.

"Saya mengapresiasi komitmen RRT untuk berpartisipasi dalam COVAX (vaksin corona) dan menjadikan vaksin sebagai barang publik global. Kita harus bekerja sama dalam memenuhi kebutuhan obat-obatan dan vaksin Covid-19 di Kawasan," kata Presiden Joko Widodo seperti dikutip dari keterangan pers pemerintah.

"Kita harus buktikan bahwa integrasi ekonomi yang sangat besar ini akan membawa manfaat bagi rakyat kita," imbuhnya

Sementara itu Presiden Vietnam mewanti-wanti agar semua kepala negara dan pemerintahan bekerja sama menangkal laju infeksi dan menolong negara dengan penduduk yang terdampak paling parah. "Jalan di depan tidak akan bertabur bunga mawar," kata Nguyen Phu Trong, pada pembukaan KTT.

Dalam hal ini, RCEP dianggap bisa membantu menyelamatkan ekonomi yang babak belur, kata Kaewkamol Pitakdumrongkit, Asisten Guru Besar Studi Multilateralisme di Rajaratnam School of International Studies di Singapura.

"Di bawah bayang-bayang COVID-19, RCEP akan memungkinkan negara ASEAN untuk pulih lebih cepat karena perjanjian itu mempermudah perusahaan untuk mendiversifikasi rantai suplai dan meningkatkan ketahanan perekonomian regional," pungkasnya.

rzn/ha (dpa, rtr)

(ita/ita)