Kemenangan Joe Biden Berpotensi Mengubah Dinamika AS-Korea Utara?

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Senin, 09 Nov 2020 19:49 WIB
Jakarta -

Jalinan diplomatik unik Washington dan Pyongyang dari saling menghina dan saling ancam perang perlahan berubah menjadi "romantis", hingga akhirnya terwujud pertemuan bersejarah antara Donald Trump dan Kim Jong Un.

Kedua pria berkuasa itu bertemu dua kali setelah pertemuan puncak yang terjadi di Singapura pada 2018. Namun pertemuan tersebut tidak menghasilkan upaya konkrit dalam hal denuklirisasi.

Para analis mengungkapkan kemenangan yang diraih Joe Biden saat ini menandai kembalinya norma diplomatik yang lebih standar. Pemerintahan AS diyakini ingin melihat langkah-langkah nyata menuju denuklirisasi dan kemajuan dari serangkaian negosiasi tingkat kerja lainnya, sebelum menggelar pertemuan puncak yang disiarkan langsung stasiun televisi seluruh dunia.

Pada saat kampanye, Biden mengatakan tidak akan bertemu dengan Kim tanpa prasyarat. Dalam debat presiden terakhir bulan lalu, Demokrat juga mengecam Trump karena berteman dengan Kim, sosok yang dinilai memiliki kemiripan dengan Adolf Hitler.

"Dia berbicara tentang teman baiknya, yang preman," kata Biden tentang Kim. "Itu seperti mengatakan kami memiliki hubungan baik dengan Hitler sebelum dia menginvasi Eropa."

Sementara itu, media pemerintah Pyongyang sebelumnya menyebut Biden sebagai "anjing gila."

Kim mungkin merasa kesal

Pyongyang akan "sedikit kesal dengan perubahan kepemimpinan," kata mantan analis CIA Soo Kim. "Rezim menyadari sedikitnya peluang terjadinya pertemuan tingkat atas dengan seorang pemimpin AS," tambahnya.

"Kami mengharapkan pendekatan AS yang lebih berprinsip dan sistematis ke Pyongyang," ucap Kim.

Selama Trump menjabat, Pyongyang terus mengembangkan dan memajukan perlengkapan militernya dengan menampilkan serangkaian senjata baru - termasuk ICBM baru yang besar - pada parade militer bulan lalu yang menandai ulang tahun ke-75 partai berkuasa Korea Utara.

Pyongyang mungkin menunda pengujian senjata strategis tahun ini "karena pertimbangan untuk Trump", kata Shin Beom-chul, seorang peneliti di Institut Riset Korea untuk Strategi Nasional. "Korea Utara berharap Trump terpilih kembali," katanya kepada AFP.

Pyongyang dinilai menjadi semakin frustrasi karena hubungan pribadi yang dibanggakan antara Kim dan Trump tidak mengarah pada pelonggaran sanksi atau konsesi substantif lainnya dari Washington.

Pada bulan Juli lalu, adik perempuan Kim mengatakan AS tampaknya "bermusuhan" terhadap Korea Utara "tidak peduli seberapa baik hubungan antara para pemimpin tertinggi."

Biden mirip dengan Obama

Kemenangan Biden akan "sangat memperumit perhitungan Pyongyang," kata Park Won-gon, profesor hubungan internasional di Handong Global University.

Korea Utara membenci Biden karena perannya dalam pemerintahan Barack Obama, yang mengadopsi kebijakan "kesabaran strategis" dan menolak untuk terlibat dengan Pyongyang kecuali jika ia menawarkan konsesi terlebih dahulu, atau sampai rezim itu runtuh dari dalam.

Korea Utara melakukan uji coba nuklir empat bulan setelah masa jabatan pertama Obama, tetapi saat ini kemungkinan akan menunggu dan menilai terlebih dahulu pendekatan pemerintahan Biden sebelum meluncurkan provokasi besar, kata mantan analis CIA Kim.

"Kim Jong Un mungkin mengerti bahwa peluncuran uji coba nuklir yang tidak tepat waktu dapat menimbulkan reaksi yang merugikan dari AS dan mitranya," katanya.

Sebaliknya, Park menyarankan Pyongyang menggunakan tindakan kecil untuk mencoba menarik perhatian presiden baru AS. "Ada kemungkinan besar Pyongyang akan menargetkan Korea Selatan," katanya. "Ia bisa menilai bahwa lebih aman untuk menciptakan ketegangan di semenanjung Korea," tambah Park.

ha/vlz (AFP)

(ita/ita)