Ilmuwan Kenali Tujuh Kelompok Gejala COVID-19

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Jumat, 06 Nov 2020 14:50 WIB
Jakarta -

Bagaimana sebetulnya gejala COVID-19? Nyeri tenggorokan? Sakit kepala? Atau hidung tersumbat? Gejala yang biasanya menyertai flu atau pilek semacam itu, setahun lalu tidak pernah dianggap serius.

Tapi di penghujung tahun 2020 gejala semacam itu akan ditanggapi sangat berbeda. Gejala bersin-bersin kini akan langsung memicu kekhawatiran dan pertanyaan. "Berada dimana saya beberapa hari terakhir ini? Sedekat apa pada kerumunan orang? Apa yang saya sentuh? Apakah saya masih bisa mencium dan mengecap? Apakah ada gejala susah bernafas?"

Anda tidak sendirian menghadapi kekhawatiran ini. Para peneliti dan pakar kedokteran terus berusaha melacak serangkaian gejala yang bisa memberi informasi infeksi COVID-19. Para peneliti dari Universitas Kedokteran Wina di Austria, kini mengidentifikasi tujuh jenis gejala sakit pada kasus COVID-19 ringan atau sedang. Hasil riset itu dirilis dalam jurnal ilmiah Allergy. Target utama para ilmuwan adalah menemukan bagaimana tampilan kekebalan tubuh yang bagus setelah infeksi COVID-19 dan bagaimana cara mengukurnya.

Untuk itu pakar imunologi Winfried Pickl dan pakar alergi Rudolf Valenta melakukan penelitian terhadap 109 mantan pasien COVID-19 yang mampu bertahan dari infeksi dan dalam proses kesembuhan. Sebagai kelompok pembanding, kedua ilmuwan melakukan penelitian dan pemeriksaan darah terhadap 98 orang yang sehat.

Tujuh kelompok gejala COVID-19

Berdasarkan data yang diperoleh, para periset menarik kesimpulan ada beragam simptom yang kemudian diklasifikasi dalam tujuh kelompok gejala COVID-19.

1. Gejala seperti flu, ditandai dengan demam, meriang, kelelahan dan batuk-batuk.
2. Gejala pilek, ditandai dengan hidung tersumbat atau meler, bersin-bersin dan tenggrokan kering.
3. Sakit persendian dan otot.
4. Radang selaput mata dan selaput lendir.
5. Masalah pada paru-paru, ditandai dengan peradangan atau sulit bernafas.
6. Masalah saluran pencernaan, ditandai dengan diare, mual atau sakit kepala.
7. Hilangnya indera penciuman dan pengecapan serta gejala lainnya.

"Pada kelompok terakhir, kami bisa menegakkan diagnosa, kehilangan indera penciuman dan pengecap kebanyakan melanda pasien dengan sistem imunitas muda", ujar kepala tim peneliti Winfried Pickl dalam wawancara dengan DW. Yang dimaksud dengan sistem imunitas muda bukan berdasarkan umur pasien, melainkan diukur dari jumlah sel kekebalan tubuh atau T-Lymphocite dari jaringan thymus.

"Dengan itu, kami bisa dengan tegas menarik batasan sistemik, misalnya antara kelompok satu sampai tiga dengan kelompok enam dan tujuh, berdasarkan jenis proses pada organ yang khas dari infeksi primer COVID-19", ujar Pickl lebih lanjut.

Akan tetapi, hal ini tidak berarti bahwa kasus tumpang tindih gejala antar kelompok juga tidak bisa terjadi. Walau begitu ditunjukkan, terdapat korelasi antara masing-masing kelompok yang berbeda dengan parameter kekebalan konkrit.

Misalnya proses sakit dengan demam tinggi pada pasien COVID-19, berkorelasi dengan memori kekebalan tubuh dan ini menjadi indikasi tegas adanya sebuah imunitas jangka panjang. Sebaliknya, kehilangan indera penciuman dan pengecap pada pasien COVID-19, dikaitkan dengan tingginya kadar T-Lymphocite.

Sidik jari COVID-19 dalam darah

Pada peneliti juga bisa membuat sejumlah biomarker penting COVID-19 dari sampel darah pasien. Mereka menemukan, infeksi COVID-19 setelah 10 minggu meninggalkan perubahan tegas pada sistem kekebalan tubuh pasien. Ini menjadi semacam sidik jari di dalam darah bekas pasien.

Jumlah granulocyt yang biasanya dalam sistem kekebalan tubuh berfungsi memerangi bakteri patogen, pada kelompok COVID-19 yang secara signifikan lebih rendah dibanding normal. "Ini hal yang mencegangkan dan sama sekali baru," ujar pakar imunologi itu dalam wawancara dengan DW.

"Untuk itu sel kekebalan tubuh terus mengembangkan memori dan sel-T dalam kondisi sangat aktif. Hal tersebut menunjukkan, sistem kekebalan tubuh bahkan beberapa minggu setelah infeksi pertama, tetap melawan penyakit secara intensif," tambah Winfried Pickl.

Rincian ini bisa menjelaskan, mengapa banyak mantan pasien COVID-19 yang sembuh, tetap merasa lemah dalam jangka panjang. Di sisi lain, dalam waktu bersamaan sel-sel T peregulasi menurun tajam. Sebuah kombinasi sangat berbahaya, yang dapat mengarah pada penyakit autoimun.

Selain itu juga bisa dibuktikan, sel-sel imunitas yang memproduksi antibodi, berkembang biak dalam darah pasien COVID-19 yang sembuh. Semakin hebat demam yang diderita pasien dengan gejala sedang, makin tinggi pula tingkat kekebalan terhadap virus corona.


"Temuan kami, bisa menjadi kontribusi untuk memahami lebih baik penyakit ini. Juga membantu dalam pengembangan kandidat vaksin, karena kami sekarang bisa melacak biomarker yang potensial dan dapat melakukan monitoring lebih baik lagi," papar tim peneliti dari Universitas Kedokteran Wina itu dalam artikel ilmiahnya.

"Kami sekarang mengetahui, bahwa T-Lymphocite merupakan paremeter penting, jika kami menganalisa kandidat vaksin," pungkas Pickl.

Penelitian itu terutama menunjukkan sistem kekebalan tubuh manusia, menangkal sebuah penyakit dengan bantuan sel-sel kekebalan dan antibodi, ibarat pertahanan ganda dalam sepakbola modern. Sel-sel kekebalan tubuh bisa megenali pola serangan virus dari memori yang dimiliki, dan bereaksi terhadap serangan.

Kini masalahnya adalah bagaimana menerapkan semua pengetahuan ini dalam praktek. Terutama dalam terapi pengobatan pasien COVID-19 serta dalam pengembangan vaksin yang ampuh, aman dan efektif.

(as/ha)

(ita/ita)