Rusia Tarik Diri dari Konsultasi Penembakan MH17 dengan Belanda-Australia

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Jumat, 16 Okt 2020 17:08 WIB
Jakarta -

"Tindakan bermusuhan oleh Belanda telah membuat kelanjutan dari konsultasi trilateral dan partisipasi kami jadi tidak masuk akal," kata kementerian luar negeri Rusia dalam sebuah pernyataan yang dirilis hari Kamis (15/10).

Rusia, Belanda dan Australia sejak 2018 mengadakan konsultasi segitiga yang bertujuan mengungkap penyebab bencana penembakan Boeing 777 milik Malaysia Airlines dalam perjalanan dari Amsterdam ke Kuala Lumpur yang dihantam rudal BUK buatan Soviet pada 17 Juli 2014. Seluruh 298 penumpang pesawat yang jatuh di atas wilayah separatis Ukraina yang didukung Rusia itu tewas, termasuk 196 warga negara Belanda dan 38 warga negara Australia.

Setelah bertahun-tahun mengumpulkan bukti, tim Investigasi Gabungan internasional (JIT) yang dipimpin Belanda tahun lalu mengatakan, peluncur rudal yang digunakan untuk menghantam pesawat sipil itu berasal dari pangkalan militer Rusia tepat di seberang perbatasan Ukraina-Rusia. Belanda menganggap Rusia bertanggung jawab dan telah memulai proses hukum di Mahkamah Hak Asasi Manusia Eropa, ECHR. Tiga warga Rusia dan satu warga Ukraina dituduh bertanggung jawab dalam penembakan pesawat dengan nomor penerbangan MH17 itu dan membunuh semua orang di dalamnya.

Berbicara kepada wartawan di sela-sela KTT Uni Eropa di Brussels, Perdana Menteri Belanda Mark Rutte mengatakan hari Kamis (15/10) dia "kecewa" dan "terkejut" dengan keputusan Rusia, menambahkan bahwa itu "sangat menyakitkan" bagi keluarga para korban.

Rusia mengeluhkan "jalan setan" Belanda

Moskow mengeluh bahwa Den Haag mengajukan kasus MH17 dengan menuduh Rusia berperan "dalam penghancuran penerbangan MH17" ke Mahkamah Hak Asasi Manusia Eropa ECHR "setelah hanya tiga putaran pembicaraan".

Belanda "dengan demikian menunjukkan niat kuat mereka untuk mengambil jalan setan... dengan secara sepihak menumpahkan tanggung jawab kepada Rusia atas apa yang terjadi," kata Kementerian Luar Negeri Rusia. Moskow sejak awal dengan tegas membantah terlibat dalam "kecelakaan" itu dan menyalahkan pihak Ukraina.

"Australia dan Belanda jelas tidak mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi pada musim panas 2014, melainkan hanya ingin mendapatkan pengakuan dari Rusia dan kompensasi untuk kerabat para korban," kata pernyataan dari Moskow. Namun Rusia juga menyatakan tetap berniat "melanjutkan kerjasamanya" dengan Den Haag dalam penyelidikan, tetapi "dalam format yang berbeda.".

Australia kecam keputusan Rusia

Australia hari Jumat (16/10) mengecam keputusan Rusia menarik diri dari konsultasi penembakan MH17. Menteri Luar Negeri Australia Marise Payne mengatakan bahwa dia "sangat kecewa" dengan keputusan tersebut.

"Kami mendesak Rusia untuk segera kembali ke perundingan," katanya dalam sebuah pernyataan dan menambahkan bahwa Australia "berkomitmen untuk mengejar kebenaran, keadilan, dan akuntabilitas bagi 298 korban MH17 dan orang-orang yang mencintai mereka ".

Menteri Luar Negeri Ukraina Dmytro Kouleba mengatakan dalam sebuah pernyataan, penarikan diri Rusia "berbicara banyak tentang ketakutannya akan kebenaran mengenai apa yang terjadi pada 17 Juli 2014 di langit di atas Donbass," wilayah separatis Ukraina dukungan Rusia yang jadi lokasi puing-puing MH17 yang hancur.

hp/rzn (afp, rtr, dpa)

Simak juga video 'Rusia Pamer Sistem Pertahanan Udara':

[Gambas:Video 20detik]



(ita/ita)