China Sebut AS Merusak Stabilitas Selat Taiwan

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Kamis, 15 Okt 2020 17:04 WIB
Jakarta -

Juru bicara Komando Teater Timur Tentara Pembebasan Rakyat Cina (PLA) Kolonel Senior Zhang Chunhui mengatakan bahwa militer Cina mengikuti dan memantau USS Barry, ketika kapal perusak berpeluru kendali tersebut melakukan pelayaran yang oleh Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) disebut sebagai "transit rutin di Selat Taiwan" pada hari Rabu (14/10).

Cina menganggap Taiwan sebagai bagian dari provinsi mereka yang perlu dipersatukan kembali, bahkan dengan kekerasan jika diperlukan. Namun di sisi lain pemerintah AS telah meningkatkan dukungan untuk Taiwan. Beijing menuduh Washington dan Taipei melakukan "kolusi" dan meningkatkan aktivitas angkatan udara di dekat Taiwan untuk menunjukkan kekuatan.

Zhang menegaskan AS harus menghentikan tindakan provokatif di Selat Taiwan. Militer Cina juga akan dengan tegas mempertahankan integritas teritorial negara dan menjaga perdamaian serta stabilitas di Selat Taiwan.

Kementerian Pertahanan Taiwan melalui pernyataan terpisah mengatakan bahwa USS Barry hendak berlayar ke arah utara melalui Selat Taiwan dan menyebut situasi di sekitar perairan dalam keadaan normal.

Selat Taiwan dinilai sebagai perairan bebas dan terbuka

Dalam sebuah pernyataan, Armada Pasifik AS membenarkan USS Barry telah melewati Selat Taiwan pada 14 Oktober. "Transit kapal melalui Selat Taiwan menunjukkan komitmen AS terhadap Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka," kata pernyataan itu.

"Angkatan Laut AS akan terus berlayar dan beroperasi di mana saja yang diizinkan oleh hukum internasional," tambahnya. AS dan banyak negara lain melihat jalur air sebagai bagian dari perairan internasional dan karenanya terbuka untuk semua. Namun Beijing memandang perjalanan kapal asing melalui Selat Taiwan sebagai pelanggaran terhadap kedaulatannya.

Setiap operasi Angkatan Laut AS di Selat Taiwan memicu respons keras Cina, yang menganggap Taiwan sebagai bagian yang tidak dapat diganggu gugat dari wilayahnya.

Hubungan antara Beijing dan Washington telah memburuk dalam beberapa bulan terakhir, karena berbagai masalah termasuk perang dagang, UU Keamanan Nasional Hong Kong, dan sengketa dengan pulau Taiwan.

Sebelumnya AS juga telah mendorong penjualan peralatan militer canggih ke Taiwan, termasuk drone MQ-9 dan sistem rudal pertahanan pesisir. Hal ini memicu eskalasi ketegangan antara Cina dan AS.

ha/pkp (Reuters, AFP)

(ita/ita)