Ilmuwan Bawa Pulang Bukti Penting dari Misi Terbesar Menjelajah Kutub Utara

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Selasa, 13 Okt 2020 16:53 WIB
Jakarta -

Kapal Polarstern dari Institut Alfred Wegener Jerman telah kembali ke Pelabuhan Bremerhaven setelah menghabiskan 389 hari menjelajahi Kutub Utara yang diselimuti es. Para ilmuwan mengumpulkan informasi penting tentang efek pemanasan global di wilayah tersebut.

Markus Rex, ketua tim misi perjalanan ke Kutub Utara, mengatakan ia dan timnya yang terdiri dari 300 ilmuwan dari 20 negara itu telah menyaksikan "sebuah tempat yang benar-benar memesona dan memiliki keindahan yang unik."

"Kita harus benar-benar melakukan segala upaya untuk melestarikan dunia ini...untuk generasi mendatang dan melakukan hal yang masih bisa kita lakukan," katanya dalam konferensi pers.

Sebelum mereka kembali, Rex mengatakan kepada AFP bahwa para ilmuwan telah melihat sendiri efek dramatis dari pemanasan global terhadap es di Kutub Utara, wilayah yang dianggap sebagai "pusat perubahan iklim".

"Kami menyaksikan bagaimana lautan Arktik sekarat," kata Rex. "Kami melihat proses tersebut tepat di luar jendela kami, atau saat kami berjalan di atas es yang rapuh."

Menggarisbawahi seberapa banyak es telah mencair, Rex mengatakan misi tersebut mampu berlayar melalui petak besar perairan terbuka, "kadang-kadang membentang sejauh cakrawala".

"Di Kutub Utara sendiri, kami menemukan es yang terkikis parah, mencair, tipis, dan rapuh." Jika tren pemanasan di Kutub Utara berlanjut, dalam beberapa dekade kita akan memiliki "Kutub Utara tanpa es di musim panas," kata Rex.

Radiance Calmer, seorang peneliti dari University of Colorado yang berada di Kutub Utara dari bulan Juni sampai September, mengatakan kepada AFP bahwa melangkah ke area yang tertutupi es adalah momen "ajaib".

"Jika Anda berkonsentrasi, Anda bisa merasakannya (es) bergerak," kata Calmer.

Penelitian panjang untuk masa depan

Misi Polarstern, yang dijuluki MOSAIC, menghabiskan lebih dari satu tahun untuk mengumpulkan data tentang atmosfer, lautan, es laut, dan ekosistem untuk membantu menilai dampak perubahan iklim.

Untuk melakukan penelitian, empat lokasi pengamatan didirikan di atas lautan es dalam radius hingga 40 kilometer di sekitar kapal. Para peneliti mengumpulkan sampel air dari bawah es untuk mempelajari tumbuhan, plankton, dan bakteri serta lebih memahami fungsi ekosistem laut dalam kondisi ekstrem.

Ekspedisi yang menghabiskan biaya hingga 140 juta euro atau sekitar Rp 2,4 triliun itu juga telah membawa pulang 150 terabyte data dan lebih dari 1.000 sampel es.

Para ilmuwan itu mengukur lebih dari 100 parameter sepanjang tahun dan berharap informasi tersebut akan memberikan "terobosan dalam memahami Arktik dan sistem iklim", kata Rex.

Thomas Krumpen, seorang fisikawan berkata: "Bagi kami, tahap kedua dimulai, yakni analisis data. Banyak data telah dibawa pulang dan kami kemungkinan akan sibuk meneliti data itu selama sepuluh tahun mendatang."

Banyaknya parameter yang telah diambil akan dianalisis dan dimasukkan ke dalam pengembangan model untuk membantu memprediksi seperti apa gelombang panas, hujan lebat, atau badai dalam 20, 50, atau 100 tahun mendatang.

Pengorbanan yang tidak sedikit

Sejak kapal berangkat dari Tromso di Norwegia pada 20 September 2019, awak kapal telah menikmati sinar bulan dalam kegelapan total, harus bertahan pada suhu terendah -39,5 Celcius, dan melihat lebih dari 60 beruang kutub. Sebuah tembakan peringatan dilepaskan agar beruang kutub tidak berada terlalu dekat.

Selama ekspedisi tersebut, kapal berjalan melewati 3.400 kilometer es di sepanjang rute yang digerakkan oleh angin atau biasa dikenal dengan pergeseran transpolar.

Dalam hal memberi makan awak kapal - selama tiga bulan pertama, kargo kapal memasok 14.000 telur, 2.000 liter susu, dan 200 kilogram sayuran.

Misi penting ini hampir saja gagal akibat pandemi virus corona yang merebak pada musim semi, menyebabkan kru terdampar di Kutub Utara selama dua bulan.

Sebuah tim ilmuwan multinasional tambahan akan didatangkan, sebagai bagian dari estafet terjadwal untuk membantu mereka yang telah menghabiskan beberapa bulan di lautan es. Namun, rencana tersebut terpaksa harus tertunda dikarenakan penerbangan di seluruh dunia dibatalkan sebagai upaya menghentikan penyebaran virus corona.

ha/rap (AFP)

(ita/ita)