Setahun Serangan di Halle, Apakah Yahudi di Jerman Kini Merasa Lebih Aman?

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Jumat, 09 Okt 2020 18:34 WIB
Jakarta -

Max Privorozki adalah salah satu dari 52 orang yang tengah merayakan hari penebusan atau Yom Kippur di sebuah sinagoge di Halle pada tanggal 9 Oktober 2019, ketika seorang pria berusia 27 tahun dari kota terdekat, lengkap dengan senjata dan granat buatan sendiri, melancarkan misi untuk membantai warga Yahudi.

Dia gagal menerobos masuk melalui pintu utama. Menurut komunitas Yahudi di Halle, kegagalan itu berkat tindakan pencegahan keamanan yang mereka lakukan sendiri: yakni dengan pintu yang terkunci kuat dan kamera CCTV. Mereka mencegah apa yang bisa menjadi kekejaman antisemit terburuk di Jerman sejak masa holokaus.

Serangan teror ekstrem kanan di Halle ikut menyudutkan kepolisian. "Kami mengatakan beberapa kali bahwa kami menginginkan perlindungan polisi di depan sinagoge dan komunitas di Sachsen-Anhalt (negara bagian di mana Halle berada), seperti di kota-kota besar lainnya: Berlin, Mnchen, Frankfurt," ujar Privorozki, kepala komunitas Yahudi setempat, hanya sehari setelah serangan. "Tapi kami selalu diberi tahu: Semuanya bagus, semuanya 'sempurna', semuanya baik-baik saja."

Anggapan itu muncul sejak persidangan berlangsung, polisi dipandang gagal mengambil tindakan ketika penyerang sinagoge tersebut kabur beberapa menit kemudian, dan setelah itu membunuh dua warga Jerman non-Yahudi. Kelalaian itu "memalukan", tandas Josef Schuster, Presiden Dewan Pusat Yahudi di Jerman.

Merusak kepercayaan itu mudah, membangunnya itu sulit

Polisi setempat berusaha memulihkan kepercayaan dengan mempererat rantai komunikasi dengan komunitas Yahudi di Halle. Namun kecurigaan belum lenyap, menyusul evaluasi atas kinerja kepolisian terkait serangan di Halle.

Pada awal Juni lalu, seorang polisi Halle didisiplinkan, setelah dipanggil untuk mendokumentasikan swastika kertas yang ditempatkan di luar kantor komunitas Yahudi di kota itu. Polisi itu melaporkan bahwa dia tidak menemukan apa-apa, tetapi seperti yang ditunjukkan oleh rekaman CCTV gedung itu, dia sendiri memindahkannya, setelah secara tidak sengaja menginjaknya.

"Selama masih ada sikap setengah hati ini, maka tidak akan berhasil," ujar Sigmount Knigsberg, komisaris antisemitisme untuk organisasi komunitas Yahudi di Berlin.

Knigsberg juga menunjukkan contoh kejahatan antisemit sebelumnya yang diabaikan atau diremehkan. Pada tahun 2015, pengadilan di Wuppertal memutuskan bahwa serangan pembakaran di sebuah sinagoge belum tentu bermotif antisemit, karena pelakunya tidak menunjukkan tanda bahwa ia seorang antisemit sebelumnya.

"Yang bisa Anda lakukan hanyalah menegakkan kepala," kata Knigsberg kepada DW. "Merusak kepercayaan itu sangat mudah, membangun kepercayaan membutuhkan waktu lebih lama."
Sikap politik juga tidak selalu membantu situasi. Awal pekan ini, komentar Menteri Dalam Negeri Sachsen-Anhalt, Holger Stahlknecht menyulut kemarahan saat ia mengatakan bahwa kewajiban baru untuk melindungi fasilitas Yahudi berarti petugas polisi mungkin tidak selalu bisa tepat waktu dalam menanggapi panggilan lain (meskipun bukan panggilan darurat, dia buru-buru menambahkan demikian), dan meminta pengertian masyarakat.

"Seorang menteri dalam negeri negara bagian tidak malu menampilkan orang Yahudi seolah sebagai orang yang diistimewakan dan mengadu domba mereka melawan kelompok penduduk lainnya," kata Schuster kepada jaringan berita Jerman RND, "Dengan demikian dia mengedepankan antisemitisme."

Bagaimana perasaan orang Yahudi?

Melindungi komunitas minoritas lokal adalah urusan polisi negara bagian, yang sering kali ditandai oleh berbagai tingkat keamanan dan kepekaan di antara pihak berwenang di seluruh Jerman. Ilia Choukhlov, anggota komunitas Yahudi Nrnberg mengatakan dia tidak melihat tanda apa pun yang menunjukkan bahwa sinagoge kini lebih terlindungi daripada sebelum serangan di Halle.

"Tidak ada yang berubah," katanya kepada DW. "Di perayaan hari suci Yom Kippur minggu lalu ada banyak sinagoge, di mana tidak ada polisi yang berjaga-jaga di luar. Ada banyak diskusi, tetapi ketika mulai membahas langkah-langkah keamanan praktis, kami hanya diberi tahu: Tidak, tidak, polisi akan melindungi Anda, semuanya baik-baik saja."

Kenyataannya adalah banyak orang Yahudi merasa tidak aman di Jerman, sebagaimana diakui Kanselir Jerman, Angela Merkel dalam pidatonya di bulan September yang menandai peringatan 70 tahun berdirinya Dewan Pusat Yahudi.

Choukhlov telah memperhatikan hal ini: "Ada diskusi lagi tentang emigrasi atau pindah ke kota-kota besar di mana Anda bisa lebih mudah menghilang," katanya. "Atau istilah ini lebih sering digunakan: "emigrasi batin"- di mana Anda tidak menunjukkan bahwa Anda adalah orang Yahudi di publik, Anda hanya berani mengungkapkannya di rumah Anda sendiri."

Istilah "emigrasi batin" pertama kali diciptakan pada tahun 1930-an oleh para penulis dan seniman, untuk menolak ideologi Nazi.

Kesimpulan yang mendasari dari kesaksian ini adalah bahwa kepuasan polisi mencerminkan sikap apatis yang lebih luas dalam masyarakat Jerman. Gagasan bahwa orang Jerman telah gagal untuk memperhatikan antisemitisme yang tumbuh di tengah-tengah mereka.

Antisemitisme di Jerman

Radikalisasi pelaku serangan Halle, Stephan B., sesuai kesaksiannya sendiri, menunjukkan bagaimana islamofobia 'hidup kembali' di Jerman setelah masuknya gelombang pengungsi tahun 2015, dengan menyeret antisemitisme yang sangat dikenal dari sejarah Jerman.

Dalam "rencana" yang dia publikasikan secara online sebelum serangan itu, penyerang tersebut menjelaskan bahwa dia mendukung narasi antisemitisme kuno, bahwa orang Yahudi memegang kekuasaan tertinggi di dunia.

Insiden di Halle setidaknya menyadarkan beberapa orang Jerman akan hal itu, demikian menurut Gideon Botsch, direktur pusat penelitian untuk antisemitisme dan ekstremisme sayap kanan (EJGF) Emil Julius Gumbel, di Universitas Potsdam,.

Pada hari-hari setelah serangan itu, ribuan orang berunjuk rasa di Halle dengan membentuk rantai manusia yang secara simbolis melindungi sinagoge kota mereka. "Ini merupakan pengalaman baru bagi minoritas Yahudi di Jerman bahwa ada rasa solidaritas yang signifikan, baik di Halle sendiri maupun di seluruh Jerman," katanya kepada DW. "Orang-orang menyatakan rasa belasungkawa dan dukungan mereka. Hal itu pasti sesuatu yang baru dan positif."

Bagaimana pihak berwenang menangani masalah tersebut?

Botsch juga mengatakan bahwa di tingkat politik, banyak tindakan telah dimulai sebelum serangan, dengan diperkenalkannya komisaris antisemitisme dan lebih banyak program penelitian antisemitisme. "Beberapa langkah dan konsep telah dimatangkan dan mungkin dipercepat" setelah serangan di Halle, kata Botsch. Berlin mungkin memiliki sistem yang paling progresif, katanya, dengan adanya komisi antisemitisme di sektor polisi dan peradilan, serta di pemerintah negara bagian itu sendiri. Tetapi di negara bagian lain jauh di belakang, tambahnya.

Di antara inisiatif baru ini adalah peluncuran portal online untuk melaporkan insiden antisemit, yang diprakarsai Asosiasi Federal Departemen Riset dan Informasi Antisemitisme (RIAS). RIAS kini memiliki kantor regional di empat negara bagian Jerman. Hal ini membantu memastikan bahwa apa yang oleh Knigsberg disebut sebagai "konteks antisemit" dari kejahatan tertentu yang mungkin tidak lagi diabaikan.

Annette Seidel-Arpaci, direktur RIAS di Bayern, mengatakan organisasinya telah mencatat tujuh insiden antisemit di luar sinagoge di Bayern dalam satu tahun terakhir, tetapi dia rasa itu hanya sebagian kecil yang diketahui, "karena saya yakin tidak semua kasus dilaporkan kepada kami. Dalam banyak kasus, memang benar bahwa orang yang melihat (insiden tertentu) tidak melakukan intervensi," katanya kepada DW.

"Saya rasa sulit untuk mengatakan apakah telah terjadi peningkatan kesadaran dalam masyarakat luas setelah insiden in Halle. Orang yang memang peka mungkin sedikit lebih bertambah peka," demikian Seidel-Arpaci menyimpulkan. "Tapi dalam kasus ini juga terjadi peningkatan kesadaran yang harus mengarah pada intervensi dari orang lain dan tentunya perlindungan polisi di setiap sinagoge."

Sebagaimana yang ditulis Rabi Andreas Nachama di harian Jdische Allgemeine bulan ini, "masih banyak yang harus dilakukan", bahkan setahun kemudian setelah insiden di Halle berlalu.

(ita/ita)