Kerusuhan Pasca Pemilu di Kyrgyzstan Berpotensi Jadi Revolusi?

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Selasa, 06 Okt 2020 16:03 WIB
Jakarta -

Presiden Kyrgyzstan Sooronbai Jeenbekov menerangkan, dia masih memegang kendali di negara itu dan sudah memerintahkan aparat agar tidak melepaskan tembakan kepada demonstran. Situasi saat ini masih kacau dan simpang siur, setelah aksi massa yang pecah jadi kerusuhan melanda kota-kota besar.

Ribuan orang menggelar protes Senin (5/10) setelah dua partai mapan, salah satunya dekat dengan Presiden Sooronbai Jeenbekov, menurut hasil sementara menyapu kemenangan besar pada pemilu parlemen Minggu (4/10).

Para pengunjuk rasa menuntut hasil pemilu harus dibatalkan. Media lokal melaporkan Selasa (6/10), Komisi Pemilu menyatakan akan mempertimbangkan permintaan mereka. Kantor berita Rusia RIA mengutip juru bicara Presiden Sooronbai Jeenbekov yang mengatakan bahwa dia juga tidak menutup kemungkinan untuk membatalkan hasil pemilu yang jadi sengketa.

Aksi massa pasca pemilu berubah jadi kerusuhan

Polisi dilaporkan berusaha membubarkan protes di ibukota Bishkek Senin malam. Tetapi pengunjuk rasa kembali ke alun-alun di pusat kota beberapa jam kemudian dan menerobos masuk ke gedung pemerintahan, kata situs web lokal.

Bangunan yang dikenal publik sebagai sebagai Gedung Putih sempat terbakar pada Selasa pagi, tetapi kobaran api segera dipadamkan.

Para pengunjuk rasa kemudian masuk ke markas besar Keamanan Nasional dan membebaskan mantan presiden Almazbek Atambayev, yang dijatuhi hukuman penjara lima tahun atas tuduhan korupsi setelah berselisih dengan penggantinya, Sooronbai Jeenbekov.

Kelompok-kelompok oposisi mengambil alih beberapa gedung pemerintahan lain, termasuk kantor walikota, dan menunjuk kepala keamanan nasional mereka sendiri. Mereka juga mengumumkan, politisi oposisi dan mantan pejabat keamanan senior Kursan Asanov telah mengambil alih jabatan menteri dalam negeri.

Punya sejarah instabilitas politik

Satu orang tewas dan 590 luka-luka dalam bentrokan semalam, kata laporan resmi pemerintah. Beberapa gubernur provinsi juga telah mengundurkan diri, menurut laporan media setempat.

Media lokal melaporkan bahwa unjuk rasa anti-pemerintah juga menyebar hari Selasa di beberapa pusat provinsi, sementara pendukung Presiden Sooronbai Jeenbekov berkumpul di kota selatan Osh, di mana saudaranya menyerukan persatuan dan ketertiban.

Negara Asia Tengah berpenduduk 6,5 juta, yang bersekutu erat dengan Rusia itu, memang memiliki sejarah instabilitas politik. Dalam 15 tahun terakhir, dua presidennya telah digulingkan oleh aksi massa dan pemberontakan.

hp/as (rtr, afp, ap)

(ita/ita)