Persiapan Korea Utara Pamer Kekuatan di Parade Militer 75 Tahun

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Jumat, 02 Okt 2020 18:00 WIB
Jakarta -

Pada 10 Oktober mendatang, ribuan tentara Korea Utara akan berbaris dengan rapi di ibu kota Pyongyang, tank serta rudal juga akan meluncur di hadapan tribun VIP di Lapangan Kim Il Sung di jantung kota. Di tempat itu nanti, pemimpin Korea Utara saat ini, Kim Jong Un, akan duduk, sedangkan rakyatnya bersorak-sorai.

Hari itu, Republik Demokratik Rakyat Korea (DPRK) akan merayakan tonggak penting peringatan 75 tahun berdirinya Partai Pekerja Korea (WPK) yang merupakan partai terkuat di negara itu. Partai ini didirikan oleh kakek Kim Jong Un, Kim Il Sung. Dari sudut pandang Korea Utara, tanggal ini adalah saat yang tepat untuk memamerkan kekuatan militer kepada dunia, bahkan bisa jadi ajang pamer senjata baru.

Dunia luar memang telah mengindikasikan lewat citra satelit bahwa ada sesuatu yang besar yang tengah dikerjakan. Berdasarkan citra yang diambil pada musim semi dan musim panas tahun ini, ada foto-foto yang mendokumentasikan proyek konstruksi besar-besaran, baik di pusat kota maupun sekitar 10 kilometer sebelah timur, di Mirim Parade Training Ground, yang sering digunakan sebagai tempat latihan dan pementasan untuk parade militer.

Replika Kim Il Sung bahkan telah dibuat di fasilitas Mirim untuk berlatih parade seperti yang akan dilakukan pada 10 Oktober dalam kondisi yang sedekat mungkin dengan kenyataan.

"Lapangan Pelatihan Parade Mirim, dengan replika Lapangan Kim Il Sung, telah ada sejak lama," jelas Jenny Town, wakil direktur 38 North, sebuah lembaga pemikir AS yang berfokus pada Korea Utara.

"Semua parade militer besar Korea Utara perlu latihan untuk memastikan operasi yang lancar, pelaksanaan waktu dan formasi yang ketat, dan protokol yang ketat sebelum acara besar itu."

Tradisi parade militer Korea Utara

Militer selalu menjadi jantung dari kerajaan Kim. Karenanya, parade militer telah memainkan peran penting di Korea Utara sejak negara itu didirikan pada tahun 1948. DPRK juga menggunakan hari-hari peringatan penting, baik itu Hari Pembebasan Nasional, peringatan pendirian militer, maupun ulang tahun Kim Il Sung, untuk berparade.

Badan Intelijen Pusat milik Amerika Serikat (CIA) memperkirakan negara itu saat ini ada sekitar 1,2 juta tentara aktif. Korea Utara sendiri diperkirakan memiliki populasi sekitar 25 juta. Parade adalah cara cerdas untuk menunjukkan kekuatan militer meskipun ada sanksi Dewan Keamanan PBB terhadap Pyongyang, ujar Jung H. Pak. Pernah menjadi analis CIA, Jung H. Pak sekarang menjabat sebagai rekan senior di Brookings Institution, sebuah wadah pemikir terkenal di Washington DC.

Kepada DW, Pak mengatakan bahwa "Parade itu berguna, karena mereka dapat menunjukkan kemampuan tanpa adanya pengujian, yang dapat menimbulkan sanksi. Sangat sedikit yang dapat kita lakukan untuk menanggapi parade dan pertunjukan kemampuan baru seperti ini."

Senjata strategis jenis baru?

Tetapi apakah parade 10 Oktober akan menampilkan pameran perdana lainnya? Akankah dunia akhirnya melihat "senjata strategis baru" yang dijanjikan Kim dalam pidatonya di hadapan Politbiro Partai Buruh pada Desember 2019? Sejauh ini, hanya ada perkiraan yang tidak begitu pasti.

"Kami masih menunggu," kata Jaewoo Shin dari Open Nuclear Network. Korea Utara menguji sembilan rudal jarak pendek pada awal dan akhir Maret lalu, dan belum melakukan uji coba lagi sejak itu.

Meski mereka tidak melakukan pengujian, pengamat internasional mengatakan Korea Utara terus menambah persenjataannya. Badan Energi Atom Internasional (IAEA), misalnya, dengan keras mengkritik program nuklir negara itu.

Direktur Jenderal IAEA, Rafael Grossi, menyebutnya sebagai "pelanggaran nyata terhadap resolusi Dewan Keamanan PBB yang relevan" pada 20 September. Inspektur IAEA belum memiliki akses ke fasilitas nuklir Korea Utara sejak 2009.

Kim Jong Un sendiri menggarisbawahi pentingnya kemampuan nuklir negara itu dalam pidato yang disampaikan kepada para veteran Perang Korea (1950-53) akhir Juli lalu. Ia mengatakan bahwa negaranya sekarang dapat mempertahankan diri dari ancaman militer yang ditimbulkan oleh pasukan musuh.

"Berkat penangkal nuklir kita yang andal dan efektif, keamanan dan masa depan negara kita akan dijamin selamanya."

Hubungan yang kian tegang dengan AS

Hubungan dingin antara Korea Utara dengan AS mungkin juga menjadi alasan bagi DPRK untuk menunjukkan kekuatan militer pada hari libur nasional yang begitu penting di negara itu.

Parade militer besar terakhir yang dipentaskan di Korea Utara diadakan di Pyongyang pada September 2018. Saat itu, DPRK merayakan ulang tahun ke-70 berdirinya negara. Saat itu dipamerkan tank, jet tempur, dan peluncur rudal, tetapi tidak ada rudal balistik.

Perayaan itu berlangsung di tengah fase baru pemulihan hubungan Korea Utara-AS yang hanya berselang beberapa minggu setelah pertemuan bersejarah pertama antara Kim Jong Un dan Presiden AS Donald Trump di Singapura pada Juni 2018. Tetapi hubungan telah memburuk sejak gagalnya putaran kedua pembicaraan mereka di Vietnam pada KTT AS-DPRK Hanoi pada Februari 2019.

Dalam pernyataan resmi yang disampaikan kepada media milik pemerintah Korea Utara KCNA, Kim Yo Jong - adik perempuan Kim Jong Un - mengatakan dia melihat sedikit peluang untuk mengadakan pertemuan puncak pada akhir tahun.

"Saya ragu bahwa hal-hal seperti pembicaraan KTT DPRK-AS akan terjadi tahun ini," ujarnya sambil menambahkan bahwa tidak seperti bagi AS, pembicaraan seperti itu "tidak bermanfaat sama sekali buat kami." Itu adalah pesan yang jelas dan pesan berikutnya mungkin akan datang hanya dalam waktu beberapa hari di parade militer pada 10 Oktober nanti. (ae/vlz)

Diadaptasi dari artikel asli berbahasa Jerman oleh Jon Shelton.

(ita/ita)