Angela Merkel Peringatkan Jerman Akan Hadapi Masa Sulit Pandemi

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Kamis, 01 Okt 2020 17:05 WIB
Berlin -

Jerman berencana mengambil tambahan utang sebesar € 96,2 miliar (Rp 1.700 triliun) pada tahun 2021. Kanselir Jerman Angela Merkel pada Rabu (30/9) menyebutnya sebagai tindakan "cepat dan energik" untuk membantu meredam krisis ekonomi akibat pandemi virus Corona.

Pinjaman tambahan yang diumumkan oleh Menteri Keuangan Olaf Scholz disebut melanggar aturan kukuh kebijakan fiskal Jerman yang diabadikan dalam konstitusi. Namun dengan ini, Merkel bertekad bahwa Jerman harus kembali ke anggaran normal dan konstitusional secepat mungkin.

Dalam pertemuan dengan anggota parlemen yang duduk berjarak di dalam ruangan, Merkel bersikeras bahwa tambahan utang adalah "langkah yang tepat" untuk mengatasi pandemi. Jika disetujui oleh Bundestag, dana tersebut akan menjadi utang baru tertinggi kedua yang pernah ada dalam sejarah modern Jerman.

Peminjaman dengan jumlah sebanyak itu hanya mungkin dilakukan setelah pemerintah mencabut "rem utang", yang membatasi pinjaman struktural pemerintah federal menjadi 0,35% dari produk domestik bruto (PDB). Pinjaman tersebut bertujuan membantu bisnis-bisnis yang kesulitan.

Perdebatan berfokus pada krisis Corona

Dalam pertemuan itu, Merkel juga menyampaikan pernyataan yang ditujukan kepada seluruh masyarakat Jerman. Dia memperingatkan orang-orang untuk tetap berpegang teguh pada protokol kesehatan virus Corona untuk menghindari lockdown (penguncian) nasional kedua.

Merkel mengatakan dia mengerti dan berempati dengan kejenuhan orang-orang terkait aturan jaga jarak, yang saat ini tengah diperketat di seluruh negara bagian. "Saya merasakannya sendiri," katanya. "Pertemuan secara spontan adalah hal yang paling saya rindukan."

Merkel menambahkan bahwa dia bisa memahami, "terutama kaum muda" menjadi lebih santai tentang pertemuan sosial. "Kita semua ingin kehidupan normal kita kembali, tapi kita berisiko kehilangan semua yang telah kita capai untuk sementara," tambahnya. "Kita ingin ekonomi pulih; kita ingin para seniman bisa tampil lagi."

"Semua aturan tidak ada gunanya jika tidak ditaati oleh masyarakat. Ini adalah 'lari jarak jauh', jalan kita masih panjang," katanya. "Upaya ini tidak hanya melindungi yang tua dan rentan, tapi juga melindungi masyarakat kita yang terbuka dan bebas."

Selain krisis corona, Merkel juga menggunakan pidatonya untuk mengkritik Cina atas dugaan pelanggaran hak asasi manusia di negara itu, serta mengkritik Rusia karena diduga membiarkan peracunan terhadap pemimpin oposisi Rusia Alexei Navalny.

Dia juga memberikan pujian khusus untuk para perempuan yang berbaris melawan kediktatoran Presiden Belarus Alexander Lukashenko. Merkel juga mengumumkan akan bertemu dengan Svetlana Tsikhanouskaya, calon presiden oposisi yang melarikan diri ke Lithuania ketika kekerasan pecah.

Banjir kritik dari parlemen

Christian Lindner, pemimpin Partai Demokrat Bebas (FDP) mengkritik bahwa penambahan utang telah menjadi "filosofi negara" di bawah pemerintahan Merkel. "Utang tidak ada hubungannya dengan bantuan darurat," ujar Lindner.

Sementara itu, Dietmar Bartsch, pemimpin partai Kiri sosialis, mengaku heran bahwa Merkel membelanjakan lebih banyak anggaran untuk pertahanan daripada untuk kesehatan dan pendidikan. "Kita mengalami krisis pendidikan, tetapi tidak ada negara yang mengancam Jerman," kata Bartsch. "Mengapa menaikkan anggaran pertahanan, bahkan di tengah krisis kesehatan?" tambahnya.

Pemimpin parlemen dari partai hijau Anton Hofreiter bertanya-tanya mengapa Kementerian Kesehatan sejauh ini gagal menghasilkan strategi tes Corona jangka panjang, dan mengapa sistem penyaringan udara untuk sekolah masih belum tersedia.

Yang lain menyuarakan keprihatinan tentang penderitaan wiraswasta dan usaha kecil, karena banyak di antaranya telah menderita kerugian pendapatan secara drastis dalam enam bulan terakhir. Pemimpin parlemen dari partai sayap kanan Alice Weidel mengatakan Merkel telah mengubah Jerman menjadi "negara hippie yang dikendalikan oleh perasaan" yang memimpin dunia dalam "pajak dan pengeluaran, dan menerima pencari suaka dari mana saja." Pemerintah, katanya, telah membuat ekonomi menurun selama pandemi.

(pkp/gtp)

(nvc/nvc)