Kasus COVID-19 Meningkat, Mampukah Eropa Hindari Lockdown Kedua?

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Selasa, 22 Sep 2020 14:53 WIB
Jakarta -

"Bencana," "petaka," dan "efek yang menghancurkan" – begitulah ungkapan yang digunakan oleh para pemimpin Eropa untuk menggambarkan konsekuensi bila negara-negara Eropa memberlakukan lockdown (penguncian) kedua.

Untuk menahan penyebaran COVID-19 pada musim semi tahun ini, aktifitas publik di seluruh Eropa hampir sepenuhnya dihentikan. Namun saat musim panas, banyak tempat melonggarkan aturan pembatasan tersebut. Maka yang terjadi adalah tingkat infeksi COVID-19 di hampir setiap negara Eropa semakin meningkat.

Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), Eropa melaporkan antara 40.000 dan 50.000 kasus baru COVID-19 setiap harinya. Peningkatan itu bukan hanya didasari karena tes yang lebih luas.

Angka-angka kasus dari September "seharusnya menjadi peringatan bagi kita semua," kata direktur regional WHO untuk Eropa, Hans Kluge.

Kluge menambahkan, jumlah infeksi mingguan bahkan melebihi yang dilaporkan pada fase pertama puncak pada Maret.

Pembatasan regional di negara-negara Eropa

Dengan meningkatnya jumlah infeksi, muncul kekhawatiran atas penguncian nasional kedua. Lockdown ketat di Spanyol dan Prancis yang diberlakukan awal tahun, memicu penurunan ekonomi secara besar-besaran. Namun, saat ini angka kasus COVID-19 kedua negara ini kembali melonjak.

Meski begitu, Prancis berharap untuk dapat menghindari penguncian nasional lanjutan selama mungkin. Saat ini pihak berwenang Prancis telah memperketat pembatasan di kota-kota yang terkena dampak paling parah seperti Paris, Marseille, Bordeaux, Nice, dan Toulouse.

Prancis melarang pertemuan publik, membatasi jam operasi bar dan kunjungan ke panti jompo. Warga Paris dan beberapa daerah lain juga diwajibkan menggunakan masker saat keluar rumah.

Sementara itu, pada Senin (21/09), Madrid mulai memberlakukan pembatasan drastis. Di enam daerah dan tujuh kota di sekitar ibu kota Spanyol, orang hanya diperbolehkan meninggalkan rumah untuk keperluan: pergi bekerja, sekolah, berobat ke dokter, atau jika dipanggil oleh pengadilan. Tindakan pembatasan serupa telah diperintahkan di bagian lain negara itu, termasuk Mallorca.

Bila jumlah infeksi melebihi 1.000 kasus per 100.000 penduduk selama 14 hari terakhir, maka area perumahan bisa diberlakukan pembatasan ketat.

Itu adalah "angka yang sangat buruk" yang dapat memaksa pihak berwenang untuk bertindak, kata Isabel Ayuso, presiden regional Madrid.

"Kami ingin mencegah lockdown total, itu akan menjadi langkah mundur dan bencana bagi perekonomian kami," kata Ayuso. "Jika kita semua mengikuti aturan baru, wilayah kita akan pulih dengan cepat," tambahnya.

Konsekuensi ekonomi bila memberlakukan lockdown ketat kedua bukan hanya berdampak di daerah Eropa Selatan dan Barat. Di Jerman, asosiasi bisnis bahkan memperingatkan gelombang kebangkrutan.

"Seperlima dari seluruh perusahaan melihat masa depan kelangsungan bisnis mereka melalui [krisis virus korona] sebagai kondisi yang 'terancam punah'," kata Mario Ohoven, presiden federasi perusahaan industri menengah Jerman. Bila lockdown kedua diberlakukan kembali, "lampu pasti akan padam," katanya.

Meskipun jumlah infeksi meningkat di Jerman, penguncian nasional kedua nampaknya tidak berpotensi terjadi.

"Musim gugur saat ini tentang satu hal: tanggung jawab individu, tanggung jawab individu, tanggung jawab individu," kata Menteri Kesehatan Jerman Jens Spahn di awal September.

Inggris bersiap untuk lockdown kedua

Situasinya agak berbeda di Inggris. Menteri Kesehatan Inggris Matt Hancock mengatakan kepada BBC baru-baru ini "penguncian nasional adalah garis pertahanan terakhir," tetapi juga memperingatkan pemerintah agar "siap untuk melakukan apa yang diperlukan."

Hampir 42.000 orang telah meninggal karena COVID-19 di Inggris. Menjadikannya negara dengan angka kematian tertinggi di Eropa.

Jumlah infeksi terus meningkat selama berhari-hari, seiring dengan jumlah pasien yang dirawat di rumah sakit akibat virus corona. Itulah mengapa pekan lalu Inggris mulai memperketat aturan jaga jarak.

Di Birmingham, Glasgow, dan kota-kota besar lainnya, anggota dari satu rumah tangga tidak dapat lagi bertemu dengan anggota rumah tangga lainnya di ruang tertutup, dan pertemuan publik juga sebagian dibatasi.

Para ilmuwan rekomendasikan lockdown dua minggu

Peneliti ternama di British Scientific Advisory Group telah merekomendasikan agar pemerintah memberlakukan penguncian nasional selama dua minggu pada bulan Oktober, bertepatan dengan jeda sekolah selama setengah semester.

"Karena sekolah akan ditutup selama satu minggu pada setengah semester, menambahkan satu minggu ekstra untuk itu akan memiliki dampak yang terbatas pada pendidikan," ujar salah satu ilmuwan kepada Financial Times.

Warga Eropa sangat ingin menghindari lockdown kedua seperti yang sedang diberlakukan di Israel. Bersamaan dengan penerapan langkah-langkah di tingkat lokal, para politisi mengimbau warga untuk lebih disiplin.

"Bangsa ini menghadapi titik kritis dan kami punya pilihan," kata Menteri Kesehatan Inggris Hancock kepada kantor berita Sky News, Minggu (20/09). "Pilihannya adalah setiap orang mengikuti aturan ... atau kita harus mengambil tindakan lebih," tambahnya. (pkp/rap)

(ita/ita)